
Ryan meminta Kevin untuk mengantarkan Nayla ke rumahnya, karena Cahaya tidak ingin Nayla tinggal sendiri saja di rumah. Sebenarnya Nayla bisa saja satu mobilnya dengannya dan Cahaya, tapi Ryan tahu kalau Kevin masih ingin bersama dengan Nayla.
"Apa kamu tidak mampir dulu?" tanya Nayla pada Kevin yang dari terus menggenggam tangannya.
"Emmm, lain kali saja."
"Baiklah kalau begitu terimakasih sudah mengantarkan aku pulang." ucap Nayla sambil membuka pintu mobil, Kevin yang melihat itu langsung menarik tangan Nayla.
"Kenapa? Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Nayla karena Kevin tidak melepaskan tangannya.
"Tunggu sebentar..." Nayla mengerutkan keningnya saat Kevin langsung keluar dari dalam mobil.
Nayla langsung tersenyum saat melihat Kevin keluar dan memutar mobil untuk membuka pintu untuknya.
"Terimakasih" ucap Nayla dengan malu.
"Mulai sekarang aku yang akan membukakan pintu untuk mu." Nayla hanya mengangguk kepalanya dengan tersenyum.
"Oh, ya kalau kamu membuka kado yang ku berikan padamu, kabari aku kalau kamu suka dengan kadonya" ucap Nayla, lagi-lagi Kevin hanya mengangguk kepalanya.
"Baiklah aku masuk..." ucap Nayla sambil menunjuk ke arah rumahnya. Saat Nayla ingin masuk kedalam rumahnya, Kevin menarik tangan Nayla.
"Kenapa?" Nayla tampak bingung karena Kevin menahannya.
Dengan perlahan Kevin berjalan mendekati Nayla, kini jarak antara mereka sangat dekat.
Cup.
Kevin mengecup kening Nayla dengan lembut.
"Selamat malam..." ucap Kevin sambil menatap mata Nayla.
"Masuklah. Aku akan pergi setelah memastikan mu masuk kedalam rumah." sambung Kevin lagi.
Nayla mengikuti apa yang dikatakan Kevin sambil tersenyum. Sesekali Nayla selalu menolehkan pandangannya kebelakang. Saat gerbangnya terbuka, Nayla kembali berlari ke arah Kevin.
Cup...
"Selamat malam..." Nayla langsung lari lagi masuk kedalam rumahnya setelah mengecup pipi Kevin dan mengucapkan selamat malam untuk Kevin.
Kevin tampak sangat bahagia karena mendapat kecupan singkat dari Nayla, wanita yang baru saja sah jadi pacarnya.
-
__ADS_1
-
Kini Kevin duduk di hadapan kedua orangtuanya Nayla. Saat Kevin menjemput Nayla dari kantor, Nayla mengatakan kalau kedua orangtuanya sudah pulang. Kevin yang mendengarnya, memutuskan untuk menemui kedua orangtuanya Nayla.
Kevin ingin meminta restu dari kedua orangtuanya Nayla. Maka karena itu Kevin tengah duduk di hadapan kedua orangtuanya Nayla. Nayla tampak sangat gugup, dia takut kedua orangtuanya tidak setuju dengan hubungan mereka. Apalagi latar belakang Kevin tidak sama dengan Nayla.
"Kenapa kalian berdua tampak sangat tegang?" tanya Renaldo yang tampak bingung melihat Kevin dan Nayla tampak tegang duduk dihadapannya dengan istrinya.
"Oh, ya tadi Nayla bilang kalau nak Kevin ingin bertemu dengan om dan Tante. Ada apa, nak?" tanya Kiara dengan lembut.
"Begini, om Tante...." Kevin tampak sangat gugup untuk mengatakannya. Padahal tadi dia tampak semangat untuk bertemu dengan kedua orangtuanya Nayla.
"Tidak perlu takut, om dan Tante tidak akan memakan mu. Katakan saja, apa ada yang perlu om bantu?" ucap Renaldo dengan tersenyum.
"Maaf om, Tante. Saya sangat bingung mulai dari mana saya bicara. Em... Begini tujuan saya datang untuk bertemu dengan om dan Tante, saya ingin meminta restu dari om dan Tante. Saya dan putri om dan Tante saling mencintai, maka karena itu kami restu dari om dan Tante." ucap Kevin dengan lancar.
Renaldo dan Kiara menatap Kevin dan Nayla dengan serius. Melihat tatapan Renaldo dan Kiara membuat Nayla gelisah, dia tidak ingin kalau kedua orangtuanya melarangnya. Dia tidak ingin dia mengalami kegagalan dalam cinta.
"Apa kamu serius mencintai putri kami?" tiba-tiba Renaldo memberikan pertanyaan pada Kevin.
"Ya, om!" jawab Kevin dengan tegas.
"Nay, bagaimana dengan mu?"
"Nay, juga mencintai Kevin pa..."
Nayla langsung bangkit berdiri dan langsung memeluk papa nya. Nayla tidak menyangka kalau papa dan mamanya akan merestui hubungan mereka.
"Terimakasih, pa..." ucap Nayla sambil memeluk papanya.
"Papa, tahu kalau Kevin pria yang sangat baik dan bertanggung jawab. Maka karena itu papa tidak akan menghalangi cinta kalian" ucap Renaldo.
Nayla juga memeluk mamanya sambil mengucapkan terimakasih kepada mamanya karena merestui hubungan mereka.
"Mama, harap hubungan kalian sampai kalian menikah" Nayla tampak sangat malu karena mendengar doa mamanya.
-
-
"Ini uang mukanya. Ingat aku ingin kalian menculik bayi itu..." ucap Nancy pada seorang pria yang tampak sangar.
Setelah bebas dari pria yang telah menyelamatkannya selama seminggu di hotel, Nancy bertekad akan membalas dendam dengan Ryan dan Cahaya. Dia sudah melupakan cintanya pada Ryan, yang ada saat ini kebencian.
__ADS_1
"Baik. Kami akan kabari nona setelah mendapatkannya" ucap pria itu dengan tersenyum.
"Saya mau dalam waktu tiga hari ini, kalian sudah mendapatkannya"
"Tenang saja nona anda tidak akan kecewa dengan pekerjaan kami"
"Baiklah. Ingat kalian harus hati-hati"
-
-
Ryan mengajak seluruh keluarganya dan para sahabatnya untuk liburan ke villa miliknya.
"Mang, didalam mobil ada bahan makanan. Tolong ambil semuanya, ya." ucap Ryan pada pak Dadang penjaga villa miliknya.
"Baik, pak".
Setelah memberikan tugas pada mang Dadang, Ryan menyusul istrinya ke kamar mereka. Saat dia masuk dia melihat istrinya sedang bermain dengan putra mereka. Ryan menghidupkan kamera yang selalu dia pegang dari tadi. Ryan ingin mengabadikan momen kebahagiaan keluarga kecilnya.
Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu mereka bermain dengan putra mereka. Saat melihat putra mereka ingin tidur, Cahaya meminta Jeje menemani putranya tidur. Karena Cahaya dan Ryan akan jalan-jalan ke luar villa menikmati suasana sore di Villa.
"Sayang, kalau aku gendut apa kamu akan meninggalkan ku?" tanya Cahaya sambil bergelut manja dengan Ryan.
"Emmmm.... Menurut mu?"
"Mana aku tahu!" jawab Cahaya dengan ketus karena Ryan tidak langsung menjawabnya.
"Hahaha. Kenapa jawabannya ketus begitu?"
"Siapa yang ketus? Cepat jawab dulu."
Ryan langsung mengehentikan langkahnya, lalu memutarkan tubuhnya menghadap Cahaya. Ryan menangkup pipi Cahaya sambil menatap Cahaya.
"Apa kamu berpikir cinta ku sedangkal itu? Dengar kan aku, sampai kapanpun tidak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi mu dari hati ku." ucap Ryan.
"CK... Gombal"
"Siapa yang gombal? Buktinya saat aku amnesia, hati ku selalu menjadi milik mu." Mendengar itu Cahaya memeluk erat tubuh Ryan.
"Aku hanya takut kalau kamu tidak ada di sisiku, apa aku bisa menjalani hari ku." ucap Cahaya dalam pelukan Ryan.
"Begitu juga dengan ku. Aku juga tidak akan sanggup hidup tanpamu."
__ADS_1
"Sayang, apa kita akan selalu ada seperti ini? Dari pada kita seperti ini disini, lebih baik kita dikamar kita" goda Ryan.
*****