IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Tolong jangan ikut campur


__ADS_3

"Cahaya hentikan" tiba-tiba saja Ryan sedikit meninggikan suaranya, karena dia merasa kalau saat ini istrinya sudah tidak sopan dengan mantan Mertuanya dulu.


"Kenapa? Apa karena dia ibu dari istri pertama mu?" suara Cahaya tidak kalah kuatnya dengan suara Ryan. Cahaya menatap suaminya dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Ryan apa-apaan kamu..."


"Ryan..." secara bersamaan Rudi dan Andini tampak sangat marah karena membentak menantu mereka.


Kiara malah menangis karena dia merasa bersalah telah membuat Putri dan menantunya bertengkar. Renaldo yang duduk di sampingnya hanya bisa menggenggam tangannya, sedangkan Nayla tampak sangat bahagia karena Ryan membentak Cahaya dihadapan semua orang.


"Dia sudah kelewatan ma, pa dengan mama Kiara. Bagaimana pun mama Kiara lebih tua darinya. Seharusnya dia menghormati mama Kiara" ucap Ryan yang tidak ingin kedua orangtuanya menyalahkannya.


"CK....Apa aku harus menghormati seorang wanita yang telah membuang anaknya, dimana saat itu anaknya masih membutuhkannya. Membutuhkan ASI eksklusif dan kasih sayang dari seorang ibu. Apa aku harus menghormatinya?" sungguh hati Kiara saat ini sangat sakit mendengar ucapan putrinya. Apa yang ditakutkannya, kini terjadi. Putrinya tidak ingin menerima kehadirannya.


Ryan masih mematung mendengar ucapan istrinya yang menurutnya masih ambigu.


"Ryan tolong jangan ikut campur dulu, biarkan Cahaya menyelesaikan masalahnya dengan Kiara" ucap Rudi.


"Nak, mama tahu kalau mama salah. Tapi mama mohon tolong berikan mama kesempatan..." ucap Kiara dengan lirih.


Bisma, Ryan dan Nayla yang mendengar kalau Kiara menyebutkan mama pada Cahaya membuat mereka sangat terkejut.


"Mama? Maaf nyonya, sejak saya lahir saya tidak memiliki seorang ibu. Saya akan hanya akan memberikan kesempatan kepada anda, kesempatan untuk tidak pernah lagi muncul di depan saya. Karena itu membuat saya dapat melupakan apa yang telah anda lakukan kepada saya dan papa saya!" ucap Cahaya dengan dingin, Kiara yang mendengar itu langsung geleng kepala.


"Tunggu dulu apa maksudnya ini? Mama tolong jelaskan dulu padaku." ucap Nayla yang tampak sangat kesal.


"Nay, tolong biarkan mama mu menyelesaikan masalahnya dengan kakak mu..." ucap Renaldo.


"Kakak?" cicit Nayla.

__ADS_1


Ryan dan Bisma yang mendengar ucapan Renaldo langsung mengerti. Mereka sangat terkejut mengetahui kalau Cahaya adalah putri pertama dari Kiara. Mereka mengetahui bahwa Mesya bukanlah anak pertama dari Kiara, Mesya dan Nayla mempunyai seorang kakak perempuan dari suami pertama Kiara.


"Ya, Cahaya kakak mu yang selama ini dicari mama mu. Putri pertama dari mama mu." ucap Renaldo. Tentu saja membuat Nyala langsung lemas. Dia tidak menyangka kalau perempuan yang dibencinya dan dihinanya selama ini adalah kakaknya.


"Maaf tuan Renaldo, sepertinya anda perlu meralat apa yang anda katakan. Saya bukanlah putri dari istri anda. Saya tegaskan sekali lagi saya tidak memiliki seorang ibu" ucap Cahaya dengan tegas.


Kiara yang sudah tidak tahan lagi dengan ucapan dari putrinya langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia langsung berlutut dihadapan Cahaya.


"Mama mohon tolong jangan seperti ini, nak. Tolong berikan mama kesempatan, mama janji akan menebus waktu yang telah mama lewatkan" ucap Kiara sambil menarik tangan Cahaya untuk digenggamnya.


Kiara sangat terkejut merasakan kalau saat ini tangan putrinya sangat dingin. Saat ingin memastikannya lagi, Cahaya langsung menghempaskan tangannya.


Sebenarnya saat Ryan membentaknya didepan semua orang Cahaya mulai merasakan gejolak di dalam perutnya dan jantungnya berdegup kencang. Dia merasakan kalau seluruh darahnya seperti berhenti, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya pada semua orang. Terutama dengan suaminya sendiri, dia tidak ingin terlihat lemah lagi.


"Nak, kenapa tangan mu dingin sekali?" semuanya langsung menatap kearah Cahaya saat mendengar pertanyaan Kiara. Ryan yang duduk di samping istrinya langsung memeriksa keadaan istrinya. Apa yang dilakukan Cahaya pada Kiara, begitu juga dilakukan Cahaya pada Ryan.


"Astaga apa yang ku lakukan..." Ryan merutuki dirinya sendiri karena melupakan keadaan istrinya yang tidak boleh banyak pikiran.


"Sayang bukan begitu, apa ada yang Sakit? Tolong katakan sesuatu dengan ku" Ryan berusaha untuk menggemgam tangan istrinya.


Entah kenapa Cahaya merasakan kalau saat ini kepalanya semakin berdenyut dan perutnya terasa seperti tertekan. Padahal tadi dia sudah berusaha untuk bertahan sampai Kiara dan yang lainnya pergi. Pertahanannya runtuh saat melihat kecemasan dari wajah suaminya dan apalagi kedua mertuanya langsung menghampirinya dengan panik.


Saat dia ingin mengatakan sesuatu, pandangannya mulai memudar. Tapi sebelum matanya tertutup sempurna, dia merasakan kalau tubuhnya sudah melayang. Dan dia juga sayup-sayup terdengar suara suaminya untuk tetap bertahan.


-


-


Kini semuanya sudah berada di rumah Sakit menatap Cahaya yang tampak sangat memucat dan jarum menusuk tembus kedalam kulit Cahaya.

__ADS_1


Ryan terus menggemgam tangan istrinya dengan penuh rasa bersalah. Dia sangat yakin kalau istrinya tertekan karena dirinya tadi. Ryan dan yang lainnya tampak sangat lega karena janin dalam kandungan Cahaya baik-baik saja. Hanya saja Dokter kata dokter mengatakan Kalau Cahaya mengalami tekanan yang besar hingga membuat dia seperti itu.


Kiara terus berada dalam pelukan suaminya karena tidak sanggup melihat putrinya seperti itu. Sedangkan Nyala memilih menunggu di luar, dia masih belum menerima kenyataan bahwa Cahaya ada kakaknya.


"Maaf kan aku sayang.... Aku telah melanggar janji ku" ucap Ryan dengan penuh penyesalan, sesekali Ryan mengecup tangan istrinya yang digenggamnya.


"Ku, mohon bangun lah..." Ryan berharap agar istrinya membuka matanya.


-


-


-


Cahaya pelan-pelan membuka matanya dan merasakan saat ini tangganya sedang digenggam dan terdengar Isak tangis. Dia merasa kalau saat ini sedang Dejavu. Dia melihat wajah seorang pria yang tengah tertunduk sambil menangis. Cahaya sangat yakin kalau saat ini yang tengah menangis itu adalah suaminya. Sebelum dia memanggil suaminya, Cahaya melihat sekelilingnya tidak ada satupun orang.


"Yan.." ucap Cahaya dengan lirih.


Ryan mengehentikan tangisannya saat mendengar suara lirih istrinya yang memanggil namanya.


"Sayang kamu bangun?" Ryan langsung mengecup tangan istrinya dengan lembut sambil meneteskan air matanya, sungguh Cahaya tampak bingung entah kenapa belakangan ini dia merasa kalau suaminya gampang cengeng. Bayangan suaminya membentaknya didepan semua orang tiba-tiba terlintas dalam ingatannya.


"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanya Cahaya dengan menatap Ryan dengan kesal, karena mengingat bagaimana Ryan membentaknya didepan semua orang.


"Sudah empat jam sayang. Aku akan panggil dokter dulu" Cahaya hanya mengangguk kepalanya saja.


Cahaya yang tidak melihat keberadaan Kiara membuat perasaannya sangat lega. Dia tidak ingin melihat wajah Kiara untuk saat ini, dia tidak memperdulikan apa tanggapan orang tentangnya.


******

__ADS_1


__ADS_2