
Sudah seminggu Ryan selalu pulang terlambat dari kantor dan pergi pagi-pagi sekali. Setiap Ryan pulang dirinya tidak pernah tahu dan pergi sebelum dia bangun.
"Bukannya ini hari Minggu? Kemana dia?" gumam Cahaya karena saat membuka mata dia tidak melihat keberadaan suaminya.
"Aku merasa kalau saat ini dia tampak berbeda..." gumam Cahaya lagi, karena dia selalu merasa belakangan ini Ryan tidak pernah lagi memeluknya saat tidur. Dengan menghela nafasnya, Cahaya bangun dari tidurnya.
Tok...Tok...
Cahaya yang berniat untuk mandi, langsung mengurungkan niatnya karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Mama...." Cahaya sangat terkejut melihat mama Mertuanya pagi-pagi sudah menghampirinya ke kamar.
"Sayang, hari ini kamu ada acara?"
"Sebenarnya Cahaya mau ke kostnya Cahaya dulu. Karena ada beberapa barang yang ingin Cahaya ambil. Tapi kalau mama perlu bantuan dari Cahaya, Cahaya bisa tunda"
"Terimakasih. Mama hanya minta tolong temani mama ke acara pesta dari teman arisan mama. Kamu bisa kan?" Cahaya mengangguk kepalanya.
"Terimakasih sayang. Oh, ya kamu mandi dulu sebentar lagi akan ada penata rias yang akan datang untuk merias kamu..."
"Penata rias?" Cahaya tampak bingung kenapa mama Mertuanya harus memanggil pranata rias untuk acara undangan pesta temannya.
"Ia, sayang. Teman mama ini, tidak suka melihat ada tamu yang datang tidak merias wajahnya."
"Hahaha. Baiklah, ma. Ya, sudah Cahaya mandi dulu"
"Ia, sayang...." Andini langsung menghentikan langkahnya.
"Ma tunggu sebentar, apa mama tahu kemana Ryan pergi?"
"Oh, tadi Ryan dan papa pergi bersama. Ada beberapa pekerjaan yang harus mereka selesaikan."
"Oh... Ya, sudah Cahaya mandi dulu" Andini mengangguk kepalanya.
-
-
Kini Cahaya dan Andini berada dalam perjalanan menuju acara pesta yang dikatakan Andini. Andini terus memperhatikan sejak tadi Cahaya tampak diam saja.
"Mama tahu kalau kamu sangat merindukan suami mu, tapi kamu harus bisa memaklumi nya. Apalagi Ryan saat ini Ryan sedang dipersiapkan untuk menggantikan posisi papanya" Cahaya mengangguk kepalanya untuk menanggapi nasehat dari Andini.
__ADS_1
"Nyonya kita sudah sampai..." ucap supir yang mengantarkan mereka ketempat acara.
"Ma, apa acaranya diadakan di hotel?" tanya Cahaya sambil mengikuti Andini yang keluar dari mobil.
"Iya, kenapa nak?"
"Tidak apa-apa ma..."
Saat mereka masuk kedalam hotel, Cahaya tampak sangat gugup karena semua orang menatap dirinya. Apalagi para pria menatapnya dirinya dengan sangat berbeda.
Cahaya tampak bingung ruangan yang mereka masuki tampak sangat gelap dan tidak ada satupun orang ada didalam ruangan itu.
"Ma, apa mama yakin kalau acaranya disini?" tanya Cahaya dengan penuh kebingungan.
"Benar, nak. Tunggu sebentar mama hubungi dulu teman mama. Kamu tetap disini..." ucap Andini.
"Tunggu, ma. Andini ikut mama saja..." Cahaya tampak enggan untuk ditinggalkan sendirian di ruangan itu.
"Tidak apa-apa, nak. Tunggu sebentar ya..." Dengan menghela nafasnya Cahaya mengangguk kepalanya sebagai tanda setujunya.
Saat Andini keluar dari ruangan itu, Cahaya tampak mengedarkan pandangannya ke ruangan yang gelap dan sepi itu. Tiba-tiba saja dia mendengar suara langkah kaki dari arah depan ruangan itu. Dengan penuh keberanian Cahaya melangkahkan kakinya menuju sumber suara untuk melihat siapa yang ada didalam ruangan gelap itu.
Tab....
Tab...
Tab...
Kini mata Cahaya tampak mulai berkaca-kaca, melihat suaminya berdiri di hadapannya. Ryan berjalan mendekati Cahaya yang masih saja mematung menatap dirinya.
"Apa kamu tidak ingin memeluk ku?" ucap Ryan yang kini sudah berdiri di hadapan Cahaya.
Tentu saja Cahaya langsung memeluk suaminya setelah mendengar ucapan Ryan. Ryan juga memeluk istrinya dengan penuh kerinduan, dengan penuh cinta Ryan mengecup puncak kepala istrinya.
"Maaf sayang aku terlalu sibuk belakangan ini..." ucap Ryan dengan lembut.
"Hiks hiks hiks...Apa kamu tahu aku sangat merindukanmu?" ucap Cahaya sambil menangis.
"Aku tahu, aku juga sangat merindukan mu..."
Ryan merasakan dadanya seperti ditekan karena mendengar suara tangisan istrinya yang berada dalam pelukannya.
__ADS_1
Setelah memastikan istrinya sudah tenang, Ryan melepaskan pelukannya dan menatap istrinya dengan penuh cinta. Jemari Ryan menghapus air mata istrinya yang sudah membasahi wajah cantik istrinya.
"Maaf ya sayang..." Cahaya mengangguk kepalanya.
"Terimakasih. Karena kamu sudah memaafkan ku, sekarang aku ingin menunjukkan sesuatu untuk mu..." Ryan menarik istrinya untuk berdiri di sampingnya. Lalu Ryan menepuk tangannya dua kali dan seluruh lampu ruangan itu menyala.
Betapa terkejutnya Cahaya melihat banyak orang-orang didalam kegelapan tadi. Cahaya menolehkan kepalanya menatap suaminya.
"Mereka..."
"Aku ingin memperkenalkan mu pada semua orang. Aku ingin mereka tahu kalau aku sudah menikah dan mendapatkan istri yang sangat cantik" ucap Ryan dengan bangga.
"Tapi..." Cahaya tampak sangat gugup dan takut. Dia takut Keluarga mertuanya akan diledekin karena mendapatkan menantu yatim-piatu. Ryan menolehkan pandangannya, dan dia melihat ada keraguan dan ketakutan dalam diri istrinya.
"Nak..." Rudi dan Andini datang menghampiri Cahaya dan Ryan.
"Papa, ma..." sapa Cahaya dan Ryan.
"Nak, apa kamu tidak suka dengan acara ini?" ucap Rudi saat melihat raut wajah menantunya yang tidak ada senyum. Cahaya tampak bingung dengan apa yang harus dijawabnya pada Rudi, mertuanya.
"Sayang, kalau kamu tidak suka kita bisa pulang..." ucap Ryan.
"Bukan begitu. Aku hanya takut kalau kalian akan dihina karena latar belakang ku yatim piatu" ucap Cahaya dengan pelan. Mendengar itu Andini langsung menarik tangan untuk digenggamannya.
"Kami tidak akan dihina sayang, malah mereka sangat iri karena kami mendapatkan menantu yang sangat cantik, cerdas dan baik" ucap Andini dengan lembut. Cahaya dapat melihat jelas mata mertuanya yang tampak sangat tulus mengatakannya.
Ryan menarik istrinya kedalam pelukannya setelah mamanya mengatakan apa yang ingin dikatakan mamanya.
"Apa kamu tahu sayang, banyak para pria yang sangat ingin memiliki mu. Tapi sayang mereka kalah dari ku, karena kamu menjadi milikku selamanya" ucap Ryan dengan tersenyum bahagia.
"Sekarang apa kamu sudah siap untuk perkenalkan pada semua orang siapa wanita cantik yang dalam pelukanku ini?" Cahaya mengangguk kepalanya.
-
-
-
Kini acara pun dimulai, selain memperkenalkan Cahaya sebagai istrinya Ryan acara itu juga diadakan sekaligus resepsi pernikahan Cahaya dan Ryan.
Banyak para kolega bisnis Ryan yang mengagumi sosok Cahaya. Karena selama Cahaya bekerja sebagai sekretarisnya Ryan, mereka mengetahui kalau Cahaya wanita yang sangat cerdas dan lembut.
__ADS_1
Semua tamu yang hadir sangat terkejut saat Rudi menjelaskan kapan Ryan dan Cahaya menikah. Mereka tidak menyangka kalau Cahaya dan Ryan sudah menikah hampir dua tahun.
****