IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Mimpi


__ADS_3

Dalam mimpinya Cahaya tampak sangat bahagia karena Ryan melamarnya di tepi danau yang ada di taman jalan x. Taman favorit mereka berdua sejak mereka menjadi sepasang kekasih. Setelah Ryan melamarnya, mereka memutuskan untuk pulang. Didalam perjalanan pulang, Ryan yang terus-menerus menggenggam tangan Cahaya sambil menciumnya membuat Ryan kurang konsentrasi mengemudikan mobilnya.


Cahaya selalu berusaha untuk mengatakan untuk fokus mengemudikan mobilnya karena jalan yang mereka lalui sedang licin akibat dari hujan. Apalagi saat ini Ryan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan suasana jalan saat itu tidak ada penerangan, Cahaya tidak ingin terjadi sesuatu yang pada mereka nantinya.


Saat mereka di jalan x, Ryan yang tengah lagi meliriknya dan mengecup punggung tangan Cahaya membuat Ryan tidak memperhatikan dari arah di depannya ada mobil yang tengah melaju kencang.


"Ryan awas....A...." teriak Cahaya dengan ketakutan saat melihat cahaya mobil yang tidak jauh dari depan mereka.


Mendengar teriakkan Cahaya, Ryan melepaskan tangan Cahaya dan membanting setir sambil mengerem mobilnya. Tapi usahanya sia-sia, karena saat itu jalan yang sangat licin membuat Ryan tidak bisa mengendalikan mobilnya.


"Ryan...." Akibatnya mobil mereka bergulir ke depan dan berhenti saat mobilnya terhalang tiang papan reklame yang ada di pinggir jalan.


Dengan tenaga yang tersisa Cahaya berusaha untuk menggapai Ryan yang sudah tidak sadarkan diri.


"Ryan...." ucap Cahaya dengan lirih.


"Tidak...Ku mohon jangan tinggalkan aku...Ba..ngunlah..." sambung Cahaya dengan sisa tenaganya.


Ryan dan Kevin yang berada di samping Cahaya tampak berusaha untuk membangunkannya.


"Tidak..." tiba-tiba Cahaya terbangun dengan menjerit.


"Cahaya..."


"Kak Aya..." ucap Ryan dan Kevin bersamaan.


Cahaya tampak sangat terkejut melihat Kevin dan Ryan ada dihadapannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ryan sambil menatap mata Cahaya yang masih tampak sangat ketakutan.


Cahaya mengalihkan pandangannya ke arah sekitarnya yang tampak asing baginya dari pada menatap Ryan.


"Kak apa kak Aya baik-baik saja?" Cahaya hanya mengangguk kepalanya saja untuk menjawab pertanyaan Kevin.


Ada rasa kekecewaan dihatinya Ryan, karena Cahaya tidak menjawab pertanyaannya sedangkan dengan Kevin saat bertanya Cahaya langsung menjawabnya. Ryan sadar kalau saat ini Cahaya sedang marah padanya, tapi dia tidak bisa protes karena dia sadar kalau dia sudah melakukan kesalahan besar.


Saat Kevin ingin berbicara lagi, hp nya berdering. Ternyata yang menghubunginya adalah kliennya.


"Kak, aku harus bertemu dengan klienku, apa kak Aya bisa menunggu ku? Setelah itu aku akan mengantarkan kak Aya pulang"


"Em. Pergilah..." ucap Cahaya dengan suara yang lemah.

__ADS_1


Saat Kevin pergi, Cahaya berusaha untuk bangkit berdiri.


"Aw..." Cahaya meringis kesakitan karena tiba-tiba saja kepalanya berdenyut saat dia ingin bangkit berdiri. Untung saja Ryan langsung menopang tubuhnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Ryan dengan perhatian.


Cahaya memilih untuk menarik tangan Ryan untuk tidak menyentuhnya. Mendapatkan penolakan dari Cahaya membuat Ryan merasa sangat bersalah.


Dengan lemah, Cahaya mengambil tasnya dan berkas-berkas yang dibawanya tadi dari atas meja yang ada di hadapannya.


"Maaf...." Ryan meminta maaf pada Cahaya karena dia tidak tahan dengan penolakan Cahaya. Mendengar ucapan maaf Ryan, Cahaya menatap Ryan dengan sendu.


"Maafkan... Aku tidak tahu kalau kamu sangat takut..." sambung Ryan lagi.


Mendengar ucapan Ryan membuat matanya Cahaya berkaca-kaca. Ingin sekali dia memeluk Ryan, dan menceritakan semuanya. Tentang apa yang terjadi padanya setelah kecelakaan itu.


Melihat tatapan sendu Cahaya membuat Ryan tidak tahan dan langsung menarik Cahaya kedalam pelukannya.


"Tolong jangan diam saja. Maaf..." ucap Ryan sambil memeluk Cahaya.


Mendapatkan pelukan dari Ryan, membuat Cahaya merasa tenang. Dia ingin sekali membalas pelukan Ryan, tapi dia takut kalau semuanya hanya mimpi.


Karena Cahaya diam saja, Ryan melepaskan pelukannya dan menatap Cahaya. Kini mata mereka saling bertatapan.


Tok..Tok..


"Pak, tuan Simon sudah tiba.." tiba-tiba saja Jay masuk kedalam.


"Tunggu sebentar. Kalian layani saja dulu, dia.." ucap Ryan tanpa mengalihkan pandangannya, dia terus menatap Cahaya.


"Sebaiknya kita ketemu dengan pak Simon, pak..." ucap Cahaya.


"Baik, tapi saya sendiri yang akan menemuinya. Kamu tetap disini" ucap Ryan.


"Tapi, pak..."


"Ini perintah dari saya nona Cahaya..." ucap Ryan dengan tegas.


"Jangan keluar dari tempat ini, sebelum saya kembali" ucap Ryan lagi dengan tegas.


Tanpa mendengar jawaban dari Cahaya, Ryan langsung bangkit berdiri dan mengambil berkas yang dipegang Cahaya.

__ADS_1


Cahaya hanya bisa diam melihat kepergian Ryan. Entah kenapa dia merasa kalau saat ini Ryan tengah mencemaskannya, tapi dengan cepat dia langsung menepisnya karena dia tidak ingin tambah Kecewa.


Saat Ryan pergi, Cahaya memperhatikan seluruh ruangan itu. Saat melihat ada bingkai foto di atas meja yang tidak jauh darinya, Cahaya langsung bangkit berdiri.


"Mesya..." gumam Cahaya saat melihat foto Mesya dan Ryan ada disana.


Cahaya mengambil keputusan kalau ruangan itu adalah milik Ryan, sekaligus pemilik restoran itu.


Cahaya yang merasakan kepalanya masih sakit memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sudah setengah jam dia berusaha untuk memejamkan matanya, tapi dia tidak bisa juga memejamkan matanya.


"Kak..." Cahaya menolehkan kepalanya dan melihat Kevin didepan pintu.


"Kevin..." gumam Cahaya sambil bangun dari tidurnya.


"Apa kak Aya mau pulang? Aku bisa antar kak Aya pulang dulu, setelah itu kembali ke kantor" ucap Kevin.


"Apa kamu tidak repot?"


"Tidak..." Cahaya mengangguk kepalanya. Dengan lemas Cahaya mengambil tasnya. Dengan bantuan Kevin, Cahaya bisa berjalan.


Saat dia keluar dari ruangan itu, Jay yang berniat mengantarkan minuman untuknya langsung mengehentikan mereka.


"Maaf, nona Anda mau kemana?" tanya Hey dengan sopan.


"Saya akan pulang lebih dulu" jawab Cahaya dengan lemah.


"Tapi, nona... Bukannya pak Ryan menyuruh anda untuk menunggunya didalam?"


"Saya tidak nyaman didalam sana. Katakan saja pada pak Ryan kalau saya pulang bersama adik saya" Jay langsung menatap kearah Kevin.


"Bapak tenang saja, saya Kevin adiknya kak Aya. Pak Ryan sudah mengetahui hal itu. Saya permisi dulu" ucap Kevin saat Jay menatapnya.


Tanpa mendapat persetujuan dari Jay, Kevin membawa Cahaya pulang.


-


-


Sudah satu Minggu sejak kejadian itu, Cahaya semakin menambah jarak antara dirinya dengan Ryan. Dia masih sangat takut kalau dia dan Ryan hanya berdua didalam mobil.


Ryan menyadari hal itu, tapi dia memilih untuk memaklumi kalau Cahaya menjaga jarak dengannya. Rasa penyesalannya semakin besar karena membuat Cahaya jadi sangat takut dekat dengannya.

__ADS_1


"Aya, sayang apa barang-barangnya sudah kamu siapkan semuanya?" tanya Andini sambil berjalan mendekati Cahaya yang sedang sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


****


__ADS_2