
Keesokan paginya Cahaya lebih dulu membuka matanya. Saat dia membuka matanya dia melihat suaminya ada dihadapannya dan putranya ada ditengah-tengah mereka. Saat Cahaya memandang wajah Putranya, Cahaya teringat dengan Jeje. Dengan pelan-pelan Cahaya mengangkat tangan Ryan dari atas pinggangnya.
Setelah lepas dari dekapan Ryan, Cahaya mencuci mukanya lebih dulu barulah dia ke kamar Jeje. Saat dia membuka kamar Jeje, Cahaya sangat terkejut melihat Bisma tertidur pulas sambil duduk di samping Jeje.
Cahaya yang melihat itu pelan-pelan membangun kan Jeje. Jeje yang merasa terganggu dengan tidurnya membuka matanya dan melihat Bisma ada disampingnya tertidur dan kedua tangannya memeluk erat tangan Bisma. Jeje mencoba mengingat kejadian semalam, bagaimana bisa dia tidur sambil memeluk lengan Bisma.
Setelah ingat semuanya, Jeje merasa malu saat Bisma bangun. Jeje juga merasa bersalah karena membuat Bisma tidur dengan keadaan pastinya tidak nyaman.
"Je..." Jeje yang mendengar suara Cahaya menolehkan kepalanya ke sebelah kirinya. Jeje sangat terkejut melihat Cahaya ada disampingnya.
"Kak..." gumam Jeje dengan malu, karena terpergok tidur sambil memeluk lengan Bisma.
"Kamu baik-baik saja?" Jeje mengangguk kepalanya.
"Syukurlah. Kakak kesini hanya ingin melihat keadaan mu."
"Apa kakak dan Ezra baik-baik saja?" Cahaya mengangguk kepalanya.
"Kalau begitu kakak ke dapur dulu, untuk buat sarapan kita semua"
"Aku ikut kak..."
"Kakak tunggu di dapur" Jeje mengangguk kepalanya.
-
-
"Je, maafkan kakak ya. Karena kakak, kamu mengalami hal yang hampir membuat mu kehilangan yang berharga dalam dirimu" ucap Cahaya sambil memotong bawang.
"Tidak apa-apa kak. Lupakan saja, lagian aku baik-baik saja. Oh, ya apa Ezra baik-baik saja?"
"Ya... Untung saja tusukan jarum yang dibuat wanita gila itu tidak membekas" ucap Cahaya dengan emosi mengingat bagaimana Nancy menusuk jarum ke tubuh putranya.
__ADS_1
"Kak, apa pria-pria itu sudah di tangkap semuanya?"
"Sudah."
"Berapa orang yang mereka tangkap?"
"Tidak tahu juga...."
"Kak, setelah polisi dan yang lainnya masuk, aku seperti melihat ada seseorang pergi ke arah belakang."
"Nanti kita akan bertanya langsung pada mereka. Sekarang kita siapkan masakan kita dulu"
-
-
Ryan semakin posesif terhadap istri dan putra sejak kejadian Cahaya dan putranya diculik. Dia tidak mengijinkan Cahaya keluar sendiri tanpa dirinya. Sudah satu bulan Cahaya merasa seperti dibatasi gerakannya dengan Ryan.
"Aku tidak mau tahu pokoknya aku mulai besok aku kembali bekerja. Aku bosan kalau diam saja dirumah" Cahaya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dia sangat kesal karena Ryan melarangnya untuk bekerja di restoran.
"Aku sudah mengikuti kemauan mu selama satu bulan. Untuk saat ini aku tidak sanggup lagi. Kamu terlalu protektif dengan ku, untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan Nayla saja kamu tidak kasih ijin..." ucap Cahaya sambil memunggungi suaminya.
"Baiklah aku mengijinkan mu untuk membantu Nayla dan mama. Tapi untuk bekerja ke restoran, untuk saat ini belum bisa. Kamu tahu sendiri kan pemimpin dari preman yang menyekap kalian belum tertangkap" mendengar itu Cahaya langsung duduk dengan tersenyum.
Ternyata dugaan Jeje waktu itu benar, saat mereka ingin memberikan kesaksiannya, melihat foto-foto preman-preman yang menculik mereka. Melihat jumlahnya hanya sembilan orang saja, Jeje langsung mengatakan bahwa jumlah mereka ada sepuluh orang. Cahaya juga mengatakan ,,seperti apa yang dikatakan Jeje.
"Tapi bodyguard yang menjaga kalian selama ini tidak lagi menjaga dari jarak jauh. Mereka akan selalu ada didekat kalian" Cahaya mengangguk kepalanya, lalu memeluk erat Ryan.
"Terimakasih sayang..."
"Aku tidak tahan kalau melihat mu ngambek seperti itu" ucap Ryan sambil mengelus rambut Cahaya.
"Maaf kan aku kalau aku tidak sopan dengan mu..." Cahaya sebenarnya merasa bersalah karena membentak suaminya tadi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa.... Aku tahu kalau kamu pasti tidak akan nyaman diam dirumah saja terus. Tapi, semuanya ku lakukan karena aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada kalian. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa kalian"
"Aku juga tidak akan sanggup hidup tanpamu" ucap Cahaya sambil mendongakkan kepalanya.
Cup...
Ryan mengecup bibir istrinya dengan singkat. Dan malam itu akhirnya mereka melalui dengan penuh kebahagiaan.
-
-
Hari ini adalah hari yang dinantikan Kevin dan Nayla. Dimana sebentar lagi hubungan mereka akan menjadi suami istri. Kevin yang tidak sanggup hidup berjauhan sedikit pun dengan Nayla, Kevin meminta restu pada kedua orangtuanya Nayla untuk melamar Nayla.
Awalnya Renaldo dan Kiara sedikit ragu untuk merestui Kevin melamar Nayla. Bukan karena latarbelakang Kevin, tapi karena baru beberapa bulan saja Kevin dan Nayla menjalin hubungan.
Mereka takut kalau Nayla belum bisa belajar untuk menjadi istri yang baik.
Saat Kevin mengatakan kalau dia akan selalu membimbing Nayla bagaimana menjadi istri yang baik, dan melihat bagaimana Nayla yang tampak sudah berubah menjadi sosok yang baik Akhirnya mereka memberikan restu pada Kevin. Semenjak Nayla menjalin hubungan dengan Kevin, Nayla mulai belajar masak dan mulai mengurus sendiri kamarnya tanpa bantuan siapapun.
Kini Nayla tampak sangat cantik dengan memakai baju kebaya putih. Dengan bantuan Cahaya, riasan wajah Nayla tampak sangat natural.
"Kak, apa kalian juga merasakan apa yang kurasakan saat kalian menikah?" tanya Nayla dengan gugup sambil meremas bajunya. Cahaya yang mendengar pertanyaan Nayla membuat dirinya sangat bingung. Karena pernikahannya dengan Ryan terjadi begitu saja.
"Aku tidak tahu... Hanya saja dalam ingatan ku, saat Ryan mengucapkan nya membuat hati ku sangat deg-degan" ucap Cahaya sambil mengingat pernikahannya dengan Ryan dulu. Pernikahan yang tidak pernah dia banyangkan, menikah dirumah sakit dan apalagi tatapan Ryan saat itu bukanlah tatapan cinta.
Nayla yang langsung menyadari melakukan kesalahan dalam pertanyaannya langsung meminta maaf pada Cahaya.
"Maaf kan aku kak, aku tidak berniat untuk..."
"Tidak apa-apa, Nay. Aku tahu itu... Yang penting sekarang saat ini aku melihat cinta yang sangat besar di mata Ryan. Tatapan cinta yang sempat hilang dari tatapan matanya" ucap Cahaya dengan tersenyum.
"Kakak benar... Kak, apa aku bisa menjadi istri yang baik nantinya? Entah kenapa aku sangat takut kalau aku melakukan kesalahan seperti yang mama lakukan dengan om Jaya..." Sebenarnya dari semalam Nayla memiliki rasa takut, dia takut melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Kiara pada papa kandungnya Cahaya.
__ADS_1
"Nay, tidak ada satupun orang yang sempurna. Yang penting kamu mau belajar untuk menjadi istri yang baik. Setiap suami istri pasti akan ada selisih paham, tapi jangan langsung mengucapkan yang namanya cerai. Bicaralah dengan kepala dingin." nasehat Cahaya sambil menggenggam tangan Nayla.
******