
"Kenapa nona?" Bisma malah balik bertanya sambil melirik Ryan.
"Saya ingin naik busway saja..." ucap Cahaya.
"Tapi..."
"Sudah ikuti saja apa yang di mintanya" ucap Ryan tiba-tiba sebelum melanjutkan ucapannya. Dengan menghela nafasnya Bisma menepikan mobilnya di depan halte.
Sebenarnya ada kekecewaan dalam hatinya Cahaya, dia berpikir kalau Ryan tidak akan menyetujui permintaannya. Tapi apa yang diharapkannya, hanyalah sebuah ilusinya saja.
"Terimakasih pak Bisma, pak Ryan..." ucap Cahaya sebelum keluar dari dalam mobil.
Saat dia keluar, mobilnya Ryan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Cahaya melihat sekelilingnya yang tampak sangat sepi, entah kenapa tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Tapi Cahaya langsung menepisnya, dia memilih duduk sambil menunggu kedatangan busway yang akan menuju kantornya.
Baru Lima menit, Cahaya melihat beberapa pria yang tampak seperti preman berjalan kearahnya sambil menatapnya. Tiba-tiba saja rasa cemasnya kembali muncul, dia takut mereka teman dari orang- orang yang selama ini menerornya dan berusaha untuk mencelakainya.
Karena takut, Cahaya bangkit berdiri dan berjalan kearah lain dan mencari keramaian. Saat Cahaya ingin kabur, beberapa pria itu mengejarnya. Ternyata dugaan Cahaya benar, kalau mereka dari orang-orang yang ingin mencelakainya. Cahaya langsung berlari, karena tidak ingin ditangkap. Terjadilah kejar-kejaran antara Cahaya dan para preman itu.
"AW..." karena tidak melihat jalan, Cahaya tersandung dengan batu.
Dengan menahan rasa sakit di bagian lututnya, Cahaya bangkit berdiri. Saat dia melihat ada taksi Lewat, akhirnya dia memilih untuk naik taksi.
Saat dia masuk kedalam taksi, dia melihat para preman itu berhenti mengejarnya. Barulah Cahaya merasa lega.
"Nona apa mereka mengejar mu?" tanya supir taksi itu sambil melirik Cahaya dari kaca spionnya.
"Ia, pak. Terimakasih pak, untung bapak lewat. Kalau bapak tidak lewat, saya pastinya akan diganggu mereka"
"Sama-sama nona..."
Cahaya langsung memberitahu kepada supir taksi kemana tujuannya. Setelah setengah jam mereka sampai di perusahaan milik papa mertuanya.
Keluar dari dalam taksi, Cahaya meringis kesakitan karena luka di bagian lututnya. Karena luka itu membuat dirinya jalan dengan tergopoh-gopoh. Semuanya tampak sangat bingung melihat Cahaya seperti itu. Tapi tidak satupun yang ingin membantunya, hanya para pegawai pria saja yang memberikan tawaran untuk membantu. Tapi, Cahaya dengan sopan menolak mereka karena dia masih bisa berjalan sendiri tanpa bantuan siapapun.
"Nona apa kamu baik-baik saja?" tanya Bisma yang baru saja keluar dari ruangan Ryan melihat jalan Cahaya pincang.
"Tidak apa-apa, pak" jawab Cahaya dengan lembut sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursinya.
__ADS_1
"Apa anda yakin nona?" Cahaya mengangguk kepalanya.
"Baiklah. Oh ya, nona Cahaya nanti siang nona yang akan menemani Ryan ke luar. Karena saya akan mengurus hal yang paling penting nanti siang"
"Baik, pak"
-
-
Kini didalam mobil hanya ada Cahaya dan Ryan, Karena Bisma memiliki pekerjaan yang harus dilakukannya. Dengan terpaksa Ryan lah yang mengemudikan mobilnya. Karena Ryan mengemudikan mobil, membuat Cahaya keringat dingin. Rasa cemasnya kembali karena bayangan dimana mereka kecelakaan muncul.
Ryan yang melirik Cahaya, tampak sangat bingung melihat Cahaya keringatan. Padahal AC mobilnya hidup.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ryan sambil melirik Cahaya.
"A..ku tidak apa-apa. Bisakah bapak fokus ke depan saja?" ucap Cahaya dengan gugup.
"Apa kamu mengajari ku?" tanya Ryan kesal karena dia merasa kalau Cahaya seperti mengajarinya bagaimana membawa mobil yang benar.
"Tidak. Hanya saja, supaya kita selamat"
"Baiklah, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu..." Cahaya menundukkan kepalanya sambil menggenggam seltbet mobil dengan erat.
Melihat itu membuat Ryan kesal, karena merasa Cahaya tidak mempercayainya membuat dirinya langsung menancapkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"A..apa yang kamu lakukan? Apa tidak bisa kamu pelan-pelan saja membawanya?" teriak Cahaya dengan emosi.
Ryan tidak memperdulikan apa yang dikatakan Cahaya, malah dia semakin menambah kecepatan mobilnya. Sungguh membuat Cahaya semakin ketakutan dan kecelakaan itu terus terbayang.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di restoran tempat dimana dia berjanji untuk bertemu dengan kolega bisnisnya. Saat dia menghentikan mobilnya Ryan menatap Cahaya dengan kesal.
"Apa kamu sekarang percaya kalau aku bisa membawa mobil dengan baik?" tanya Ryan dengan kesal. Cahaya yang masih sangat ketakutan, memilih diam.
"Keluarlah, kita sudah sampai" ucap Ryan yang masih sangat kesal.
Setelah Ryan keluar, Cahaya dengan gemetar membuka pintu. Saat kakinya mendarat di tanah, dia merasa kakinya tidak memiliki tenaga. Dengan sekuat tenaga dia ia melangkahkan kakinya mengikuti Ryan dari belakang. Tapi sia-sia karena ingatan kecelakaannya selalu muncul membuatnya tenaganya semakin terkuras. Akibatnya membuatnya jatuh pingsan.
__ADS_1
"Kak Aya..." Kevin yang ada di depan pintu restoran, tampak sangat terkejut melihat Cahaya pingsan.
Ryan yang tidak jauh dari Cahaya langsung menoleh kebelakang saat mendengar jeritan Kevin. Dengan cepat Ryan langsung berlari untuk menangkap tubuh Cahaya sebelum mendarat ke atas tanah.
"Cahaya, kamu kenapa?" tanya Ryan dengan panik sambil memukul-mukul pelan pipi Cahaya.
"Kak Aya..." Kevin yang panik langsung menggemgam tangan Cahaya.
Karena Cahaya tidak bangun juga, Ryan langsung menggendong Cahaya dengan style bridal. Dia membawa Cahaya kedalam restoran, dan Kevin lah yang membantu membawa semua barang yang dimiliki Cahaya.
Saat mereka masuk kedalam manager restoran itu langsung menghampiri Ryan dengan berlari.
"Siang pak Ryan...." sapa manager itu dengan kelihatan panik saat melihat kedatangan Ryan sambil menggendong seorang wanita. Ryan tampak diam saja, dia memilih terus membawa Cahaya naik ke lantai atas. Manager itu dan Kevin terus mengikuti Ryan dari belakang. Para pengunjung, karyawan restoran itu tampak bingung dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Sesampainya di salah satu ruangan, Ryan langsung meletakkan Cahaya ke atas sofa dengan hati-hati.
"Tunggu bukannya anda yang pernah mencari kak Aya waktu itu?" tanya Kevin setelah Ryan meletakkan Cahaya ke atas sofa yang ada ruangan itu.
"Ya, saya atasannya..." ucap Ryan.
"Jay, ambil air hangat..." perintah Ryan pada manager itu.
"Baik, pak!" manager yang Jay itu langsung pergi.
"Maaf pak saya tidak tahu. Apa bapak dan kak Aya berangkat bersama-sama?"
"Iya..."
"Siapa yang mengemudikan mobilnya?"
"Saya sendiri...."
"Aya bangunlah...." Ryan terus mencoba untuk membuat Cahaya sadar.
"Apa bapak membawa mobil dengan kecepatan tinggi? Dan apa kak Aya duduk di bangku depan?" tanya Kevin sambil menatap Ryan dengan serius.
Mendengar pertanyaan Kevin, Ryan langsung teringat bagaimana reaksi Cahaya saat dia menambah kecepatan mobilnya.
__ADS_1
"Melihat bapak diam, saya sudah tahu jawabannya. Sebenarnya kak Aya memiliki rasa takut dengan kecepatan tinggi dan duduk di bangku depan." Mendengar penjelasan Kevin, Ryan menatap Cahaya dengan rasa bersalah.
****