
Setelah dua jam, ruangan itu terdengar suara tangisan bayi.....
"Selamat ibu Cahaya, tuan Ryan putranya sangat sehat..." ucap dokter itu dengan tersenyum.
"Terimakasih sayang...Cup..." Ryan langsung memeluk erat istrinya dan mengecup kening istrinya dengan perasaan bahagia.
"Dokter kapan saya bisa mengendong putra saya?" tanya Ryan pada dokter yang lagi memberikan putra mereka pada suster.
"Saat ini putra tuan dibersihkan lebih dulu. Tunggu sebentar ya pak..."
"Ia, dokter"
Ryan tidak pernah berhenti mengecup kening istrinya karena sangat bahagia. Ryan tidak menyangka kalau perjuangan istrinya begitu besar dan apalagi putra mereka lahir dengan sempurna. Apalagi tadi Cahaya tampak tidak memiliki tenaga lagi, dan putra mereka belum kunjung juga ingin keluar dari dalam perut istrinya. Ryan yang tidak tahan melihat istrinya kesakitan seperti itu sempat menyusulkan pada dokter untuk sesar saja, tapi Cahaya menolaknya. Dia ingin lahir normal, dia ingin merasakan yang namanya lahir normal.
-
-
Kini penerusnya keluarga Aditama berada digendongan sang kakek, Rudi Aditama. Andini saja tampak sangat kesal dengan suaminya karena sudah satu jam sejak cucu mereka dibawa ke ruangan rawat Cahaya.
Ryan dan Cahaya hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat perdebatan antara Rudi dan Andini.
"Sekarang giliran ku, kembalikan cucu ku..." ucap Andini sambil mengambil alih cucunya dari gendongan Rudi.
"Ya ampun ma, aku belum puas menggendong cucu kita..."
"Sudah satu jam loh, pa. Sekarang giliran mama..." Andini tidak ingin memberikan cucunya pada suaminya.
"Baiklah, papa mengalah" ucap Rudi yang memilih mengalah.
"Apa kalian sudah memikirkan apa nama untuk putra kalian, Yan?" tanya Rudi yang baru saja mendaratkan bo****nya di atas sofa yang ada dalam ruangan Cahaya.
"Sudah pa. Kami sepakat akan memberikan nama Ezra Aditama. Karena kehadirannya kami dapat bersatu kembali" ucap Ryan.
cup.
Ryan mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
-
-
Kini kediaman keluarga Aditama dipenuhi banyak anak-anak. Keluarga Aditama membuat acara syukuran atas kelahiran cucu mereka yang pertama. Andini dan Rudi juga mengundang ibu panti dimana Cahaya dibesarkan.
Semuanya memberikan doa untuk Ezra Aditama, calon penerus keluarga Aditama. Cahaya tampak sangat terharu mendengar doa-doa yang dipanjatkan oleh anak-anak yang mereka undang. Mereka juga memberikan beberapa bantuan untuk anak-anak panti yang hadir.
"Jeng, cantik banget ya menantu mu itu..." puji teman satu arisan Andini yang juga ikut hadir.
__ADS_1
"Benar banget. Kalau saja dia masih belum menikah, aku ingin dia menjadi menantu ku. Aku tidak peduli dengan latar belakangnya yang anak yatim-piatu" puji yang lainnya
"Benar banget, jeng. Yang penting memiliki karakter yang baik" puji yang lainnya lagi.
"Hahaha. Itu karena keberuntungan putra ku mendapatkan istri yang baik" ucap Andini dengan penuh bahagia.
-
-
"Sayang bagaimana kalau kita pakai jasa baby sitter untuk Ezra" ucap Ryan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ryan mengatakan hal itu karena melihat istrinya tampak sangat lelah menjaga putra mereka setelah acara mereka selesai.
"Aku masih bisa menjaganya sendiri sayang..."
"Aku tahu itu, tapi aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Kalau ada baby sitter mereka bisa membantu mu untuk menjaga mereka..." ucap Ryan yang kini sudah merebahkan tubuhnya di samping putra mereka.
"Baiklah, aku akan mengikuti apa yang kamu katakan...."
"Oke, aku akan minta Bisma untuk mencari yang cocok untuk menjaga putra mereka." ucap Ryan.
Cup.
"Selamat malam putranya Daddy..." ucap Ryan pada putranya itu.
-
-
"Apa kamu tidak ingin melihat mereka?" tanya Renaldo yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur mereka. Dia melihat wajah istrinya yang tampak ingin menangis sambil menatap hp nya. Renaldo tahu apa yang kini sedang ditatap istrinya.
"Apa boleh, pa?" tanya Kiara dengan gugup.
"Tentu saja boleh, tapi kita hanya bisa menatap mereka dari jarak jauh."
"Tidak apa-apa, pa. Yang penting aku bisa melihat mereka saja."
"Baiklah, lusa kita akan ke Indonesia. Lagian papa ada rapat penting di Indonesia"
"Apa Nayla akan ikut?" Kiara tampak gugup bertanya pada Renaldo.
"Tentu saja ikut, apalagi dia harus mempersiapkan diri untuk akan menggantikan posisi ku nantinya"
-
-
-
__ADS_1
Pagi harinya Cahaya dengan gesit menyiapkan segala keperluan suaminya untuk kerja, setelah itu dia kebawah untuk melihat apa saja yang bisa dibantu nya untuk mempersiapkan sarapan untuk seluruh keluarga.
"Bi, untuk makan siang nanti biar saya saja ya, yang memasaknya..." ucap Cahaya sambil mengaduk masakan yang dibuatnya.
"Tapi nyonya, tuan Ryan sudah berpesan untuk tidak mengijinkan nyonya masak lagi..." ucap bibi Mumun yang sudah sangat lama bekerja di kediaman keluarga Aditama.
"Baiklah. Padahal saya melakukannya karena akan sangat bosan"
"Kenapa nona tidak membawa Tuan muda berkunjung ke kantor tuan?"
"Ah, bibi benar sekali. Terimakasih bi untuk masukannya"
"Sama-sama, nyonya."
" Baiklah aku menyerahkan sisanya kepada bibi. Saya mau membangunkan suami saya dulu"
"Iya, nyonya..."
Cahaya masuk kedalam kamarnya dan tidak melihat keberadaan suami dan putranya di atas tempat tidur. Cahaya yang berniat ingin melihat ke balkon kamar mereka, mendengar suara kecil suaminya dari dalam kamar mandi.
"Sayang aku yang kamu lakukan?" Cahaya sangat kaget melihat suaminya tengah memandikan putra mereka.
"Tadi Ezra buang kotoran, jadi aku memutuskan untuk memandikannya..." ucap Ryan dengan tersenyum.
"Ya, sudah biar aku saja yang melanjutkannya"
"Tidak sayang, aku bisa melakukannya. Kamu persiapkan bajunya saja..." Ucap Ryan.
"Baiklah..."
Cahaya langsung mengikuti apa yang dikatakan suaminya. Cahaya tidak terlalu kuatir kalau suaminya yang memandikan putra mereka. Karena selama cuti satu bulan, Ryan selalu belajar mengurus putra mereka.
Setelah memandikan putranya, Ryan membawa putra mereka keluar kamar mandi. Ryan langsung meletakkan putra mereka dengan hati-hati ke atas handuk yang sudah dipersiapkan Cahaya untuk putra mereka.
Cahaya lah yang melanjutkan untuk mengeringkan tubuh putra mereka. Ryan masih tampak sangat betah bermain bersama putranya. Mendengar suara ketawa putranya sungguh membuat hati Cahaya dan Ryan sangat bahagia.
"Sayang apa kamu tidak ingin mandi? Ingat loh, kalau hari ini kamu harus kembali bekerja" ucap Cahaya sambil mengoleskan minyak kayu putih pada tubuh putra mereka.
Cup.
"Morning kiss sayang..." Ryan mengecup pipi istrinya dengan gemas.
"Sayang apa kamu senang mandi bersama papa?" tanya Cahaya pada putranya setelah Ryan masuk kedalam kamar mandi.
Melihat putranya ketawa setelah mendengar pertanyaannya, tentu saja membuat Cahaya mengambil kesimpulan bahwa jawaban putranya bahagia.
******
__ADS_1
Maaf ya agak lama up nya, soalnya saya lagi kurang enak badan.🙏