IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Hancur


__ADS_3

Selagi menunggu makanan yang mereka pesan, Gery pergi ke toilet. Setelah beberapa detik Gery pergi, Naina yang kebetulan juga ada didalam restoran saat mereka masuk datang menghampiri Cahaya yang lagi sendiri.


"Apa itu pacar mu?" Cahaya langsung menolehkan pandangannya ke samping. Karena pertanyaan Naina yang tidak terlalu penting baginya, Cahaya memilih fokus dengan hp nya. Karena dia sedang minta tolong pada Kevin supaya menjemputnya.


"Hei nona tidak jelas, apa kamu tidak mendengar ucapan ku?" teriak Naina kesal karena Cahaya mengabaikannya.


Dengan kasarnya, Naina merampas hp nya Cahaya dan langsung mencampakkannya.


Tentu saja membuat Cahaya sangat geram dengan tingkah lakunya Naina.


Plak...


Plak...


"Apa yang telah kamu lakukan pada putriku?" Saat Kiara masuk kedalam restoran tempat dimana dia dan putrinya janji untuk makan malam berdua, sangat shock melihat putrinya ditampar dua kali.


"Kamu..." Melihat Cahaya yang telah menampar putrinya membuat dia semakin emosi.


Plak...


Kiara yang tidak terima dengan apa yang dilakukan Cahaya pada putrinya, langsung membalasnya.


"Berani sekali kamu menampar putriku? Saya tidak menyangka istri yang dipilihkan putri saya untuk menjadi penggantinya wanita yang sangat kasar." ucap Kiara


Entah kenapa rasanya sangat sakit mendengar ucapan Kiara padanya. Rasa sakit yang sangat berbeda, yang tidak bisa diartikannya. Karena tamparan Kiara sangat kuat membuat ujung bibirnya Cahaya terluka dan membuat mengeluarkan darah segar sedikit.


Dengan diam, Cahaya mengambil hp nya yang sudah tergeletak di lantai dengan keadaan hancur. Kiara yang terus memperhatikan Cahaya tampak sangat bingung dengan keadaan hp hancur yang dikutip Cahaya di atas lantai.


"Apa karena tamparan ku tadi sehingga membuat hp nya hancur?" gumam Kiara, tanpa mereka sadari kalau saat ini Naina tengah tersenyum dibalik wajah sedihnya.


Setelah mengambil hp nya yang sudah hancur, Naina meletakkan uang nya di atas meja lalu dia mengambil semua barang belanjaannya.


"Ma..." Naina pura-pura merengek karena melihat mamanya tengah mempersiapkan Cahaya yang lagi sibuk mengambil bungkusan.


"Sayang apa kamu baik-baik saja?" Kiara langsung tersadar dan langsung menolehkan kepalanya menatap putrinya yang tampak seperti meringis kesakitan.


Naina hanya mengangguk kepalanya saja dengan pura-pura. Sebenarnya dia sangat tidak terima dan kesakitan karena tamparan Cahaya, tapi karena mamanya yang membalasnya membuat rasa malunya dan sakitnya tidak terlalu penting.


-


-


Saat Gery kembali dari toilet, Gery sangat terkejut Cahaya tidak ada lagi di tempat. Gery langsung bertanya dengan pelayan restoran itu.

__ADS_1


Pelayan restoran yang mengerti dan melihat apa yang terjadi langsung memberi tahu semuanya pada Gery.


Tentu saja membuat Gery merasa bersalah karena telah meninggalkan Cahaya sendiri tadi. Dia pun juga penasaran siapa yang telah menganiaya Cahaya.


-


-


Cahaya sangat beruntung saat dia menunggu taksi, Kevin telah sampai.


"Wah, kak Aya tumben beli boneka..." ucap Kevin saat melihat boneka besar yang ada di tangan Cahaya.


"Aku butuh hiasan ditempat tidur ku" ucap Cahaya.


"Hahaha. Kak Aya ada-ada saja! Ya, sudah ayo naik. Oh, ya kenapa hp kakak tidak bisa dihubungi?"


"Pecah!" Kevin langsung menoleh ke belakangnya dimana Cahaya sudah duduk di sepeda motornya.


"Kok bisa?"


"Ya, bisalah kalau jatuh"


"Jadi kak Aya tidak punya hp sekarang?"


"Oh..."


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka telah sampai di tempat kostnya. Kevin lah yang membantu Cahaya untuk membawa semua belanjaannya.


"Letakkan saja disana" ucap Cahaya pada Kevin saat mereka masuk kedalam tempat kostnya.


"Ini, pesanan mu..." Cahaya memberikan beberapa bungkusan pesanan Kevin padanya.


"Terimakasih kak, apa kakak sudah sehat?"


"Sudah. Tadi aku sudah minum obat"


"Baiklah. Aku kembali dulu ke kamar ku" Cahaya hanya mengangguk kepalanya saja.


Setelah Kevin kembali ke kamarnya, Cahaya membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket dengan peluhnya.


-


-

__ADS_1


Sesudah mandi, Cahaya langsung mengambil hp nya yang rusak dan yang baru. Cahaya memindahkan semua data HP-nya ke dalam HP nya yang baru. Sebenarnya Cahaya sangat berat untuk membeli hp yang baru, karena hp nya itu pemberian hadiah ulangtahunnya dari Ryan saat mereka pacaran dulu. Tapi karena dia sangat membutuhkan yang namanya hp untuk urusan pekerjaannya, membuat dia harus membeli hp baru.


Sedangkan hp nya yang lama, akan dia perbaiki besok. Baru saja dia menghidupkan hp nya yang baru, dia langsung mendapat telepon dari nomor yang tidak ada dalam kontaknya.


"Halo..." Cahaya langsung mengangkat teleponnya karena dia takut itu telepon yang penting.


"Apa yang kamu lakukan pada Naina?" Cahaya langsung menjauhkan teleponnya dari telinganya karena mendengar suara keras Ryan. Cahaya sangat yakin kalau yang tengah menghubunginya Ryan, karena membawa nama Naina adiknya Mesya.


"Maaf pak jika anda menghubungi saya hanya karena itu saja, tolong anda jangan mendengar dari sebelah pihak. Terimakasih" ucap Cahaya dengan kesal. Karena kesal dengan Ryan Cahaya mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Di perusahaan Ryan sangat emosi karena Cahaya mematikan sambungan teleponnya, dan apalagi Cahaya seperti mengajarinya.


Sebelum saat Ryan ingin pulang, dia mendapatkan telepon dari mama Mertuanya. Mendengar ucapan mama Mertuanya kalau Cahaya telah menampar Naina dua kali, membuat Ryan sangat emosi. Ryan meminta maaf pada Kiara atas perbuatan Cahaya.


"Ah...Sial..." Ryan mengacak rambutnya karena sangat kesal dengan Cahaya.


-


-


Cahaya berusaha untuk memejamkan matanya, tapi bayangan Kiara menamparnya tadi selalu terbayang. Entah kenapa melihat matanya dan wajahnya Kiara seperti sangat tidak asing baginya.


Karena tidak bisa memejamkan matanya, Cahaya memilih untuk menyibukkan dirinya untuk menggambar dibuku sketsa yang selalu ada di atas mejanya.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi, selama lima jam Cahaya masih menyibukkan dirinya dengan menggambar. Rasa kantuknya mulai menyerangnya. Akhirnya Cahaya memilih untuk tidur, tapi seperti biasa Cahaya lebih dulu meminum obat yang selalu ada di laci mejanya.


-


-


Sesampainya di perusahaan, Ryan meminta Cahaya untuk masuk kedalam ruangannya. Didalam ruangan, Ryan menyuruh Cahaya untuk menjelaskan penyebab dia menampar pipi Naina.


Cahaya tidak menyangka kalau dia di suruh masuk kedalam ruangan Ryan untuk mengintrogasi nya karena semalam.


"Apa bapak akan percaya setelah aku mengatakannya?" Cahaya malah memberikan memberikan pertanyaan pada Ryan, karena dia tidak ingin membuang energinya setelah menjelaskan semuanya.


"Tidak perlu bertanya yang tidak penting bagi saya. Jawab saja pertanyaan ku, kenapa kamu menampar Naina?" ucap Ryan dengan dingin.


"Karena dia telah menghancurkan hp saya dan telah mengganggu saya"


"Hp? Hanya karena itu?" Ryan semakin kesal mendengar jawaban dari Cahaya.


"Hanya? Mungkin menurut bapak itu tidak terlalu penting, tapi itu penting bagi saya" ucap Cahaya dengan terbawa emosi.

__ADS_1


*****


__ADS_2