IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Rasa Bersalah


__ADS_3

Dengan susah payah, papa Rudi membujuk istrinya untuk menceritakan semuanya, apa yang menyebabkannya terus menangis. Reaksi papa Rudi sama seperti reaksi Andini saat mendengar dari dokter Jimmi tentang Cahaya.


"Pa, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus memberi tahu pada Ryan semuanya?" tanya Andini dengan bingung.


"Kita tidak mungkin melakukannya, ma. Mama tahukan Ryan tidak akan percaya begitu saja, dia pasti memaksakan dirinya untuk mengingat masa lalunya" ucap Rudi yang tidak setuju untuk memberitahu semuanya pada Ryan, putra mereka.


"Begini saja, tugas kita saat ini kita harus membuat Ryan mencintai menantu kita. Semua penderitaan Aya pasti akan berganti dengan kebahagiaan."


"Papa benar. Tapi bagaimana dengan apa yang diinginkan Kiara?"


"Papa tidak setuju, papa tidak ingin kita melakukan kesalahan-kesalahan lagi, menyakiti hati menantu kita lagi"


"Mama juga tidak setuju. Apalagi mama sangat kenal bagaimana sikap Naina yang sangat tempramen"


"Ya, sudah. Satu bulan lagi ulang tahun pernikahan mereka. Papa ingin mereka liburan bersama di Negara N. Ya, sekalian Ryan memantau perusahaan kita disana."


"Mama setuju banget, pa. Tapi kita juga ikutkan? Karena mama yakin kalau hanya mereka berdua saja, mereka tidak akan pernah satu kamar. Ya, sekalian aku ingin mendekatkan diri dengan Aya."


"Baiklah kita akan ikut bersama mereka. Kalau masalah perusahaan disini, papa akan menyuruh Doni untuk mengurusnya sementara. Karena Bisma pasti akan ikut bersama Ryan" Andini hanya mengangguk kepalanya saja.


-


-


Cahaya sudah tampak terbiasa melihat Naina selalu datang menghampiri Ryan. Meskipun rasanya sangat sakit melihat suaminya sering bersama dengan wanita lain, tapi Cahaya sangat mengerti posisinya.


Karena tidak ingin melihat suaminya sedang bersama wanita lain didalam ruangan, Cahaya lebih memilih ijin sebentar pada Bisma untuk makan bersama dengan Gery.


Hubungan Cahaya dan Gery semakin dekat. sejak beberapa bulan terakhir. Mereka juga sudah sepakat menjadi seorang sahabat. Awalnya Gery sangat sedih karena Cahaya hanya ingin menjadi sahabatnya, tapi seiring berjalannya waktu Gery akhirnya menerima keputusan Cahaya. Rasa cintanya pada Cahaya kini bukanlah rasa sayang antara wanita dan pria tapi rasa sayang Gery pada Cahaya, kasih sayang seorang kakak pada adiknya. Karena umur mereka pun berjarak dua tahun.


"Ay, bagaimana pendapatmu? Apa dia gadis yang baik?" tanya Gery sambil menikmati makanannya.


"Kalau yang aku lihat selama ini dia gadis yang baik. Sekarang katakan apa kamu memang benar menyukainya?"


"Tentu saja. Apalagi saat aku sakit kemarin, dia slalu memberikan perhatiannya dengan ku..."

__ADS_1


"Bagaimana dengan keluarga mu? Kamu tahu sendiri kan, kalau dia hanya gadis dari kampung. Sedangkan kamu pria kota dan sangat mapan, dan dia hanya sebagai pelayan kafe"


"Aku tahu itu. Sebenarnya aku juga bingung bagaimana harus memberitahu pada orang tuaku"


"Lebih baik kamu kasih tahu dulu dengan orang tuamu, sebelum kamu menyatakan cinta mu untuknya" ucap Cahaya.


"Benar juga apa yang kamu katakan. Baiklah nanti aku beritahu orang tuaku" Cahaya hanya mengangguk kepalanya saja.


-


-


Cahaya yang lagi siap-siap untuk pulang, Cahaya mendapatkan pesan dari Andini untuk bertemu di mall yang dekat dengan perusahaan mertuanya. Tentu saja Cahaya mengikuti keinginan Andini, karena Cahaya sangat menghormati kedua mertuanya.


"Ma, maaf saya telat..." ucap Cahaya setelah menghampiri Andini yang menunggunya di depan pintu.


"Tidak apa-apa sayang. Mama juga baru sampai...." ucap Andini sambil mengelus pipi Cahaya.


" Ya, sudah yuk kita masuk" ucap Andini sambil menggandeng tangan Cahaya.


Andini tidak mengijinkan Cahaya untuk memilih, tapi dia sendirilah yang akan memilih baju untuk Cahaya.


"Ma, aku sungguh tidak nyaman dengan model yang seperti ini..." ucap Cahaya karena baju yang dipilih Andini model Sabrina yang menunjukkan bahunya.


"Tentu tidak sayang. Kamu sangat cocok dengan memakai baju ini. Sekarang kamu ganti bajunya, mama angkat telepon dulu" ucap Andini saat hp nya berdering.


Cahaya langsung mengikuti apa yang dikatakan Andini. Setelah mengganti bajunya, Cahaya sangat terkejut melihat Naina ada dihadapannya.


Dengan kasar, Naina mendorong Cahaya kebelakang. Karena sangat terkejut membuat Cahaya tidak dapat menahan keseimbangannya. Karena tubuh tidak seimbang membuat dirinya jatuh.


"Sepertinya kau sangat ingin menjadi menantu dari keluarga om Rudi dan Tante Andini" ucap Naina dengan emosi.


Ternyata Naina melihat bagaimana kedekatan Andini dengan Cahaya. Naina sangat kesal melihat hal itu, dia berusaha untuk mencari cara untuk melabrak Cahaya. Saat dia melihat Andini pergi, Naina langsung melancarkan aksinya.


Dengan menahan rasa sakit di bagian bo****nya, Cahaya berusaha untuk bangkit berdiri. Setelah bangkit berdiri, Cahaya berjalan mendekati Naina.

__ADS_1


"CK... Seharusnya pertanyaan mu itu kamu berikan pada diri anda sendiri. Apa kamu berpikir saya tidak tahu kalau kamu menyukai suami ku?" ucap Cahaya dengan dingin.


Naina yang ingin membalas ucapan Cahaya melihat mamanya berjalan kearahnya. Dengan liciknya Naina pura-pura menjatuhkan tubuhnya di lantai.


"Aw...." jerit nya tiba-tiba. Tentu saja Kiara yang mendengar suara teriakan Naina langsung menghampiri Naina.


"Astaga sayang, kamu tidak apa-apa?" Kiara berusaha untuk membantu Naina bangkit berdiri.


"Kenapa kamu sangat kasar pada putriku? Kamu itu memang wanita yang tidak punya hati ya...Saya tidak menyangka kalau anak yang dibesarkan di panti asuhan, tidak mempunyai etika" ucap Kiara dengan emosi.


"Cukup..." tiba-tiba saja Andini datang dari belakang.


"Kamu sudah kelewatan bicaranya Kia dengan menantuku" ucap Andini sambil merangkul Cahaya yang sudah tampak menahan emosinya, karena ucapan besannya itu.


"Dini, dia itu sudah sangat kasar mendorong Naina" ucap Kiara.


"Apa kamu melihatnya?"


"Tidak. Tapi, hanya dia disini..."


"Bukan artinya Aya yang membuat Naina jatuh, bisa saja kan dia jatuh sendiri" ucap Andini sambil melirik Naina dengan sinis.


"Kenapa Tante membelanya? Aku jatuh karena nya..." ucap Naina dengan berpura-pura nangis.


"Tentu saja Tante membelanya, karena Tante sangat mengenal Aya..." ucap Andini


"Ma, lebih baik kita pergi saja...." ucap Cahaya yang sudah tidak ingin melihat wajah Naina dan Kiara.


"Baiklah sayang, tunggu sebentar ya..." Andini mengambil baju yang ada ditangan Cahaya untuk dibayar dan diantarkan ke alamat rumah Ryan.


"Ayo, nak kita pergi dari sini" ucap Andini yang masih sangat kesal dengan Kiara dan Naina.


Cahaya sangat terharu dengan apa yang dilakukan Andini. Karena Andini sangat mempercayainya, sedangkan Ryan pastinya akan lebih percaya dengan apa yang dikatakan Naina dan Kiara.


Malam ini dengan terpaksa Cahaya tinggal dikediaman keluarga mertuanya, karena Andini dan Rudi tidak mengijinkan Cahaya pulang sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2