IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Memaafkan tapi tidak melupakan


__ADS_3

Saat Cahaya keluar dari dalam kamar mandi, Ryan yang sudah berada dalam kamar tampak tertegun melihat tampilan Cahaya yang sangat berbeda. Ini pertama kalinya Ryan melihat Cahaya memakai dress dan rambutnya yang panjang dan lurus digerai begitu saja. Tapi saat melihat tampilan Cahaya yang sangat berbeda, dia seperti melihat bayangan wanita yang belakangan ini muncul dalam mimpinya.


Cahaya yang melihat Ryan berada dalam kamar, Cahaya kembali lagi masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu dia kembali keluar.


"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu...." ucap Cahaya dingin saat dia mengambil hp nya yang terletak di atas tempat tidur. Setelah itu Cahaya memutuskan turun ke bawah untuk menemui mertuanya.


"Apa sampai saat ini kamu belum bisa memaafkan ku?" tiba-tiba saja Ryan bertanya kepada Cahaya. Cahaya yang sudah berada di depan pintu, langsung menghentikan langkahnya.


"Aku sudah memaafkan mu, tapi aku tidak akan bisa melupakannya begitu saja. Aku sudah memohon pada mu, untuk tidak melakukannya. Tapi, Kamu tidak memperdulikan apa yang ku katakan" ucap Cahaya tanpa menolehkan pandangannya ke arah Ryan.


Setelah mengatakan itu, Cahaya memutuskan untuk pergi. Sedangkan Ryan langsung melemparkan bantal yang ada di dekatnya ke lantai. Hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan Cahaya.


"Kenapa dengan diriku? Apa aku sudah membuka hatiku untuknya?" gumam Ryan, lalu dia mengacak rambutnya sendiri.


Saat malam hari, Cahaya dan Ryan masuk kedalam kamar mereka bersama-sama. Cahaya mengambil bantal yang akan digunakannya. Cahaya yang tidak ingin satu kasur dengan Ryan, memutuskan untuk tidur di atas sofa.


Saat dia ingin memejamkan matanya, Ryan duduk di hadapannya. Sungguh Cahaya tampak bingung kenapa Ryan tidak tidur, malahan duduk di depannya.


"Aya, apa kita pernah bertemu?" tentu saja membuat Cahaya langsung menatapnya.


"Tidak..." jawab Cahaya bohong, dan Ryan mengangguk kepalanya saja setelah mendengar jawaban dari Cahaya.


"Apa kau memiliki trauma selain dengan kecepatan tinggi dan duduk di bangku paling depan mobil?"


"Kamu tahu dari mana?"


"Kevin..." Mendengar nama Kevin Cahaya menghela nafasnya.


"Itu bukan urusan mu..." jawab Cahaya dengan ketus.


"Aku tahu itu bukan urusan ku, tapi setidaknya aku harus tahu semuanya tentang mu...."


"Untuk apa? Apa kamu ingin menakuti ku dengan kelemahan ku?"


"Kamu ini, apa sebegitu buruknya aku dipikiran mu?"


"CK... Sekarang aku akan membalikkan pertanyaan itu pada mu. Apa aku sebegitu buruk aku Dimata mu? Kamu selalu berpikir kalau akulah adalah wanita yang selalu menyakiti adik ipar kesayangan mu itu."


"Hei, kenapa kamu membawa Naina?"


"sudahlah, lupakan. Aku mau tidur..." ucap Cahaya sambil membelakangi Ryan.


Dengan kesal, Ryan juga kembali naik ke tempat tidurnya.

__ADS_1


-


-


Cahaya matahari sudah memasuki celah-celah jendela kamar Ryan dan Cahaya. Cahaya yang sudah tampak segar, memilih untuk menyediakan baju yang akan dipakai Ryan ke kantor. Karena Ryan harus memimpin rapat perusahaan milik papa mertuanya nanti siang. Saat dia ingin membangun Ryan, betapa sakitnya hatinya saat melihat Ryan tidur sambil memeluk foto Mesya.


"Apa sebegitu besarkah cinta mu untuknya? Apa nama ku sudah tidak ada lagi tempat? Sepertinya cinta mu yang dulu tidak sebesar cintamu untuknya..." gumam Cahaya dalam hati sambil mengelus rambut Ryan.


Ryan yang masih memejamkan matanya, bermimpi. Didalam mimpinya dia mengalami kecelakaan, dan didalam mobil itu dia bersama seorang wanita. Tapi dia tidak dapat melihat jelas wajah wanita itu, karena wajah wanita masih kabur dalam ingatannya.


Cahaya yang melihat Ryan yang sudah seperti ingin bangun, memilih langsung pergi keluar dari dalam kamar.


"Tidak..." teriak Ryan sambil keringat dingin. Ryan mengedarkan pandangannya.


"Ternyata mimpi...Tapi seperti nyata..." gumam Ryan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Setelah perasaan mulai tenang, Ryan bangkit dari tempat tidurnya. Dia baru menyadari kalau Cahaya tidak ada lagi didalam kamar mereka dan ada baju kantornya di pinggiran tempat tidurnya. Ada perasaan bahagia dalam hatinya karena Cahaya menyiapkan baju untuknya.


-


-


Semuanya sudah pada berkumpul di meja makan, hanya Ryan saja yang belum turun dari kamarnya.


Richard dan Jessie tinggal di mansion milik Rudi, karena Rudi ingin mansion miliknya ada yang menempati kalau dia ada di Indonesia.


"Baik..." jawab Cahaya dengan tersenyum bahagia karena dengan begitu dia untuk satu hari besok dia tidak melihat Ryan.


"Oh, ya Jess sekalian kamu pilih ya baju yang cocok untuk dipakai Aya untuk acara perusahaan..." ucap Andini.


"Siap Tante..."


"Pagi semuanya..." Ryan yang baru saja turun langsung menyapa semua keluarganya yang sudah berkumpul ruang makan.


"Pagi..." jawab mereka serentak.


Cahaya yang melihat Ryan memakai baju yang dipilihnya, langsung tersenyum tipis. Ryan memilih untuk duduk di samping Cahaya.


"Terimakasih..." ucap Ryan dengan suara yang pelan. Meskipun pelan, Cahaya bisa mendengarnya dan hanya mengangguk kepalanya untuk menjawab ucapan terimakasih dari Ryan.


-


-

__ADS_1


Ryan, Bisma dan Cahaya satu mobil menuju perusahaan, sedangkan Rudi berangkat belakangan bersama dengan Richard. Karena permintaan dari Ryan. Ryan ingin melihat bagaimana kinerja para pegawai papanya selama ditinggalkan. Karena dari laporan Richard ada beberapa pegawai yang sudah wajib untuk didisiplinkan.


"Bis, apa semuanya tahu kedatangan kita?" tanya Ryan sambil fokus dengan HP-nya.


"Tidak, pak."


"Baguslah... Bagaimana dengan kedatangan papa?"


"Belum juga ada yang tahu, pak."


"Ingat jangan pernah ada yang tahu siapa saya sebenarnya"


"Baik, pak..."


Setelah setengah jam mereka sampai di perusahaan milik Rudi. Tidak ada satupun yang mengetahui kedatangan putra pemilik dari perusahaan. Saat mereka berhenti di depan perusahaan, Ryan melihat satpam yang seharusnya berjaga di depan, malah tampak asyik mengobrol.


Ryan memilih untuk melanjutkan langkahnya, suasana perusahaan yang ada di lobby tampak sangat sepi. Tidak ada satupun pegawai resepsionis ditempatnya.


Setelah itu, melihat suasana lobby perusahaan, Ryan langsung ke tempat yang lainnya. Betapa terkejutnya Ryan melihat para pegawai perusahaan papanya tampak sangat kacau. Kebanyakan dari mereka mengobrol bukan melakukan pekerjaannya.


Setelah melihat semuanya, Bisma membawa Ryan untuk menuju ruangan yang akan digunakan Ryan.


Tut...Tut...Tut...


Ryan yang baru saja memasuki ruangannya melihat papa nya menghubunginya.


"Bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja?"


"Baik-baik bagaimana? Semuanya tampak sangat kacau balau. Pegawai papa tampak harus didisiplinkan semuanya!" ucap Ryan dengan kesal.


"Hahaha. Maka karena itu papa ingin kamu memperbaiki semuanya. Papa menyerahkan sepenuhnya pada mu, apapun keputusan mu papa akan ikuti"


"Baiklah. Pa, katakan pada Richard untuk mengumumkan siang ini semuanya harus hadir dalam rapat nanti!"


"Baiklah. Sekarang papa sedang menuju ke sana..."


"Oke, pa." Ryan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Nona Cahaya, mana data yang diberikan Richard semalam?"


"Ini, pak..." Cahaya memberikan satu map yang agak tebal pada Ryan.


Dengan serius Ryan membaca setiap isi kertas yang diberikan Cahaya padanya. Bisma dan Cahaya memilih untuk tetap berdiri untuk menunggu perintah Ryan selanjutnya pada mereka.

__ADS_1


*****


__ADS_2