
Kini Cahaya tampak tidak sehat setelah pulang dari rumah mertuanya karena saat menunggu angkutan umum tiba-tiba saja hujan deras. , Tapi Cahaya memaksakan dirinya untuk pergi bekerja, karena ada banyak pekerjaan yang harus disiapkannya. Apalagi saat hari ini ada rapat penting dengan perusahaan dari Singapura.
"Kak, apa tidak sebaiknya kak Aya ijin saja dulu?" ucap Kevin saat ingin mengantar Cahaya bekerja.
"Tidak, bisa Vin. Hari ini banyak pekerjaan Kakak."
"Tapi kak, wajah kakak sangat pucat."
"Semuanya akan baik-baik saja..." ucap Cahaya.
"Baiklah..." dengan terpaksa Kevin mengalah pada Cahaya.
Sesampainya di perusahaan milik keluarga Ryan, Cahaya menyuruh Kevin untuk pergi kerja.
"Jika terjadi sesuatu, hubungi aku ya kak!" ucap Kevin sebelum pergi meninggalkan perusahaan milik keluarga Ryan.
"Ia, aku tahu" Saat Kevin ingin pergi, tiba-tiba dia teringat dengan apa yang dilihatnya semalam saat dia tidak sengaja bertemu dengan Cahaya di halte busway.
"Kak, tunggu dulu ada yang ingin aku tanyakan pada kak Aya. Semalam aku lupa karena melihat kakak tampak banyak pikiran" ucap Kevin.
"Kamu mau bertanya apa?"
"Emmm... Aku hanya penasaran saja, kenapa setiap tahun kakak selalu saja datang ke halte busway itu dengan meletakkan bunga putih disana?" ucap Kevin dengan menatap Cahaya dengan serius.
"Maaf, untuk saat ini kakak tidak bisa cerita. Kamu akan tahu nantinya..." Kevin langsung menghela nafasnya dengan panjang. Dia tahu kalau Cahaya pastinya akan mengatakan hal itu padanya.
"Pergilah. Aku juga ingin masuk kedalam..." ucap Cahaya dengan tersenyum, sebelum pergi meninggalkan Kevin.
-
-
"Aya apa kamu sakit?" tiba-tiba Gery berada di belakang Cahaya yang lagi menunggu lift.
"Apa aku terlihat pucat?" tanya Cahaya refleks pada Gery. Gery langsung tersenyum mendengar pertanyaan Cahaya padanya, karena ini pertama kalinya Cahaya mau menanggapi ucapannya.
"Ya...Apa kamu sakit?"
"Aku hanya lagi tidak enak badan saja..."
Ting..
__ADS_1
Cahaya dan Gery langsung masuk kedalam lift bersamaan. Mereka menekankan angka yang berbeda. Cahaya menekan angka lantai 20 karena dia bekerja sebagai sekretarisnya Ryan sedangkan Gery bekerja di lantai 16. Gery bekerja sebagai manajer pemasaran.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Gery basa basi saat mereka dalam lift. Cahaya hanya mengangguk kepalanya saja untuk menjawab pertanyaan Gery.
Saat di lantai tiga, pintu lift terbuka dan beberapa karyawan masuk kedalam. Dengan cepat Gery memilih untuk berdiri di samping Cahaya.
"Pagi pak Gery..." sapa karyawan wanita yang masuk kedalam lift.
"Pagi..." jawab Gery dengan ramah.
Para karyawan wanita yang tadi masuk langsung menatap Cahaya dengan sinis. Mereka tidak menyukai kehadiran Cahaya. Karena bagi mereka Cahaya adalah saingan berat mereka. Semenjak Cahaya masuk kedalam perusahaan, para pegawai pria banyak mengidolakan Cahaya. Apalagi para pria incaran mereka, seperti Gery. Mereka tahu kalau Gery seorang manajer pemasaran sedang mengejar-ngejar Cahaya.
Ting...
"Baiklah aku duluan ya, Aya..." Ucap Gery saat pintu lift terbuka, dan Cahaya langsung mengangguk kepalanya. Semuanya langsung menatap kearah Cahaya. Cahaya sadar kalau dirinya sedang ditatap para pengagum berat Gery, tapi dia lebih memilih untuk cuek.
Saat pegawai wanita itu keluar dari dalam lift, Cahaya langsung memegang pegangan yang ada di belakangnya. Karena dia merasa seluruh tenaganya tidak ada.
"Aku tidak boleh lemah..." gumam Cahaya.
Ting..
Dengan cepat Cahaya merogoh dalam tasnya. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Cahaya langsung membukanya dan memasukkan kedalam mulutnya.
Setelah itu Cahaya memasakkan dirinya untuk melakukan tugasnya. Sebelum Ryan dan Bisma datang, seperti biasa Cahaya memastikan ruangan Ryan dan Bisma sudah rapi.
"Pak Gery..." Cahaya sangat terkejut melihat Gery berada di depan mejanya, saat dia keluar dari ruangan Bisma.
"Aku ingin mengantarkan ini untuk mu..." ucap Gery sambil membawa paper bag.
Cahaya melangkahkan kakinya menuju mejanya dan melihat paper bag yang dibawa Gery ada di atas mejanya. Melihat wajah Cahaya yang sangat pucat membuat Gery tampak sangat kuatir. Tanpa berpikir panjang Gery ingin memeriksa keadaan Cahaya.
"Pak Gery anda ada perlu apa?" saat Gery ingin menyentuh dahinya Cahaya, tiba-tiba saja Bisma dan Ryan ada di belakang Gery. Gery langsung menolehkan kepalanya dan langsung menundukkan kepalanya pada Ryan dan Bisma.
Cahaya juga langsung menundukkan kepalanya saat melihat tatapan tajam dari Ryan. Cahaya tidak ingin Ryan melihat wajah pucatnya.
"Maaf pak Bisma, saya hanya ingin memberikan sesuatu untuk nona Cahaya saja" ucap Gery dengan ramah. Mendengar ucapan Gery membuat Ryan tidak suka mendengarnya. Dengan kesal, Ryan memilih untuk masuk kedalam ruangannya. Bisma, jadi tampak bingung dengan apa yang terjadi pada Ryan.
"Baiklah kalau begitu." ucap Bisma.
"Nona Cahaya tolong ikuti saya..." ucap Bisma sambil menatap Cahaya.
__ADS_1
"Baik, pak" jawab Cahaya. Saat Cahaya menatap nya, Bisma sangat terkejut melihat wajah pucat Cahaya. Tapi dia berusaha untuk menutupi keterkejutannya. Bisma memilih langsung pergi menuju ruangan Ryan, untuk memberitahu pada Ryan apa yang terjadi pada Cahaya.
"Baiklah, Aya. Jangan lupa dimakan, ya" ucap Gery pada Cahaya sebelum pergi kembali ke ruangannya.
-
-
"Yan, sepertinya istrimu itu sakit.." ucap Bisma saat masuk kedalam ruangan Ryan.
Bisma selalu memanggil nama pada Ryan kalau mereka hanya berdua saja, karena mereka sebenarnya sahabat. Bisma sebenarnya sahabat dari Mesya. Tapi semenjak dia bertunangan dengan Mesya, mereka jadi menjalin persahabatan.
"Apa maksud mu?" Ryan tampak bingung dengan apa yang dikatakan Bisma.
"Apa kamu tidak lihat wajahnya yang sangat pucat..." jelas Bisma.
tok..tok...
Mereka langsung menghentikan pembicaraan mereka, karena mendengar pintu ruangan Ryan diketuk.
"Masuk..." ucap Ryan.
Dengan wajah yang pucat, Cahaya masuk kedalam ruangan Ryan. Sebenarnya Cahaya ingin menutup wajah pucatnya sebelum masuk kedalam ruangan Ryan, tapi karena dia tidak menemukan bedaknya dengan terpaksa dia masuk kedalam ruangan Ryan dengan wajah yang pucat.
Jleb..
Ryan tampak sangat terkejut melihat wajah pucat Cahaya. Entah kenapa hatinya sangat sakit melihat wajah pucat Cahaya. Ingin rasanya dia bertanya pada Cahaya apa yang terjadi padanya, tapi karena rasa gengsinya sangat tinggi membuat dirinya hanya diam saja.
"Maaf, pak ini berkas yang sudah saya siapkan untuk rapat dengan perusahaan dari Singapura" ucap Cahaya sambil memberikan map nya dibawanya.
Ryan mengambilnya sambil menatap Cahaya. Cahaya menyadari kalau saat ini Ryan tengah menatapnya, tapi Cahaya tampak biasa saja.
"Pergilah..." ucap Ryan dengan dingin.
"Permisi pak..." ucap Cahaya dengan sopan. Saat Cahaya ingin membuka pintu, tiba-tiba saja dia merasa pusing. Supaya dia tidak jatuh, Cahaya langsung memegang kuat kenop pintu ruangan Ryan. Ryan yang melihat Cahaya hampir jatuh, langsung berlari untuk menolong Cahaya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ryan dengan cemas.
Dengan lemah Cahaya menyingkirkan tangan Ryan dari tubuhnya. Ada perasaan bahagia dalam hatinya Cahaya, karena dia melihat dari tatapan Ryan seperti cemas dengannya.
*****
__ADS_1