IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Permintaan maaf dari Nayla


__ADS_3

Dengan langkah lemah, Nayla kembali ke Mamanya yang masih tampak saja mematung di tempatnya. Kini Nayla mengetahui siapa yang telah membeli pabrik milik keluarga kakeknya dari mamanya.


"Ma, apa benar kalau kak Ryan yang mengambil semua pabrik milik kakek?" tanya Nayla dengan gemetar karena menahan dirinya untuk tidak menangis.


"Nay...." gumam Kiara dengan air mata yang mulai keluar. Nayla yang melihat mamanya seperti itu langsung menghela nafasnya sambil menutup matanya.


"Sebaiknya kita pulang saja, ya ma...." ucap Nayla yang mulai tenang. Kita hanya mengangguk kepalanya.


****


Ryan menatap istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Ryan tidak menyangka kalau mereka akan bertemu dengan mertuanya dan Nayla disana. Ryan tahu kalau Keluarga mertuanya telah kembali ke Indonesia untuk mengurus hotel milik mertuanya.


"Aku janji tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakiti mu lagi sayang..." gumam Ryan sambil mengelus pipi Cahaya dengan lembut supaya istrinya tidak terbangun dari tidurnya.


Ryan yang ingin juga tertidur, langsung bangun karena mendengar suara tangis putranya. Malam ini putra mereka tidur bersama mereka karena Cahaya rindu tidur dengan putra mereka malam ini.


Dengan cepat Ryan mengendong putranya, sebelum istrinya terbangun karena tangisan putranya.


"Cup...cup... jagoan papa bangun ya.... Untuk saat ini papa yang menemani mu bergadang ya..."


-


-


Sejak pulang dari mall semalam Kiara memilih mengurung dirinya sendiri dan tidak makan. Renaldo dan Nayla sepanjang malam terus menerus membujuk Kiara untuk membuka pintu kamar dan mengajak makan. Tapi Kiara tidak juga mau mendengarkan apa yang dikatakan suami dan putrinya.


"Pa, tolong jaga mama aku harus ke rumah om Rudi. Aku tidak akan pulang sebelum kak Cahaya datang menemui ku" ucap Nayla sambil mengambil kunci mobilnya.

__ADS_1


"Tidak, Nay. Papa tidak akan mengijinkan kamu kesana. Papa yakin rumah itu dijaga ketat, kamu akan disakiti penjaga rumah itu!"


"Aku tidak peduli, pa. Ini semua karena aku, jadi aku yang harus menyelesaikan semuanya. Kalau saja aku tidak egois mungkin saat ini mama sudah dekat dengan kak Cahaya dan cucunya."


"Baiklah, tapi ingat kamu harus menghubungi papa kalau terjadi sesuatu pada mu!" Nayla mengangguk kepalanya.


-


-


Karena hari weekend Ryan memutuskan untuk menghabiskan waktunya bersama istri dan Putranya. Ryan mengajak putranya untuk berjemur di matahari.


Saat Ryan lagi menikmati liburannya dengan putranya, Ryan mendengar suara ribut dari luar. Tidak hanya Ryan saja, tapi seluruh penghuni kediaman keluarga Aditama. Semuanya berlari keluar rumah untuk melihat siapa yang telah membuat keributan.


"Nayla...." gumam Cahaya saat melihat Nayla yang terus berteriak memanggil namanya.


"Kak Cahaya tolong keluar Lah... Aku tidak akan pergi kalau Kak Cahaya tidak mau bertemu dengan ku...." begitu lah teriak Nayla terus.


"Tapi..."


"Nak, apa yang dikatakan Ryan itu benar. Lebih baik kita masuk saja. Sebentar lagi dia akan pergi dari sana!" ucap Andini.


Akhirnya Cahaya mengikuti apa yang suami dan Mertuanya. Cahaya dan Andini kembali melanjutkan acara masak mereka, sedangkan Ryan dan Rudi memilih untuk bermain bersama dengan baby Ezra.


Nayla yang melihat Cahaya dan keluarga Ryan masuk kembali kedalam, membuat dia langsung menghentikan ucapannya. Dengan wajah sendu Nayla bersujud di depan pagar kediaman keluarga Aditama.


Dengan cahaya terik matahari tidak membuat Nayla mengubah keputusannya. Nayla tetap bersujud di depan gerbang kediaman keluarga Aditama. Yang dipikirkan Nayla saat ini adalah mamanya, dia tidak memperdulikan tentang harga dirinya lagi. Padahal bodyguard dan satpam yang berjaga membujuk Nayla untuk menghentikan aksinya.

__ADS_1


Tidak terasa waktu berjalan, sudah sembilan jam Nayla berada diluar. Cahaya yang melihat itu membuat pertahanannya runtuh. Disaat semuanya lagi menikmati makan malam, Cahaya mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan Nayla.


"Sayang..." Ryan sangat kaget mendengar kalau istrinya ingin bertemu dengan Nayla.


"Aku tidak apa-apa. Kasihan dia diluar terus seperti itu. Mungkin saja saat ini dia sudah berubah." ucap Cahaya dengan lembut.


"Apa yang dikatakan istri mu itu benar, son! Mungkin saja Nayla sekarang sudah berubah!" sambung Rudi.


"Baiklah. Tapi kalau dia ingin menyakiti mu, jangan halangiku" Cahaya mengangguk kepalanya.


Selesai acara makan malam, mereka semua berkumpul di ruang tamu. Mereka semua menatap tajam kearah Nayla yang baru saja masuk dengan didampingi salah satu bodyguard Ryan.


"Katakan apa yang ingin kamu mau katakan pada istri ku!" ucap Ryan dengan dingin. Nayla menutup matanya sambil menghela nafasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya dihadapan seluruh keluarga Aditama. Setelah tenang, Nayla langsung mengambil posisi bersujud di hadapan mereka semua.


"Maaf kan saya... Maafkan saya, saya tahu kalau apa yang saya lakukan sudah menyakiti hati kak Cahaya. Saya sungguh menyesali perbuatan saya, karena saya membuat mama saya sendiri dibenci dengan putrinya yang selama ini dia rindukan. Tolong, kak untuk sekali ini saja temui mama...." ucap Nayla dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Tolong kami... Sudah satu malam ini mama mengurung diri di dalam kamar, dia juga belum makan dari semalam sampai sekarang. Hanya Kak Cahaya yang dapat membujuknya. Aku tahu aku tidak pantas untuk minta tolong pada kak Cahaya karena perbuatan ku dan mama. Tapi.... mama melakukannya karena aku mengancamnya untuk bunuh diri, kak. Ku mohon...."


Cahaya dapat melihat dari tatapan mata Nayla yang sungguh-sungguh meminta maaf padanya. Apalagi ini pertama kalinya dia mendengar Nayla memanggilnya kakak. Cahaya ingin sekali membantu Nayla, tapi dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri, Cahaya harus meminta ijin pada Ryan.


"Ku mohon kak... Tolong maafkan kami.... Mama benar-benar sangat merindukan kak Cahaya" ucap Nayla lagi.


"Aku tidak bisa mengambil keputusan begitu saja, aku harus minta ijin dari suami ku terlebih dahulu." ucap Cahaya dengan lembut. Mendengar itu Nayla langsung menghadap Ryan, meskipun dia sangat gugup karena tatapan Ryan yang tajam padanya, tapi dia harus bisa demi mamanya.


"Kak, tolong ijinkan kak Cahaya untuk bertemu dengan mama ku. Sekali ini saja, kak. Tolong kami...." ucap Nayla sambil menundukkan kepalanya.


Ryan langsung bangkit berdiri dan pergi dari ruangan itu dengan diam. Melihat reaksi Ryan seperti itu Cahaya langsung terjatuh duduk lemas sambil menangis. Cahaya yang melihat suaminya pergi begitu saja langsung mengejar suaminya. Cahaya sangat mengenal suaminya kalau suaminya seperti itu, itu artinya suaminya belum bisa terlalu percaya pada Nayla.

__ADS_1


Andini dan Rudi merasa kasihan melihat Nayla yang seperti itu, mereka dapat melihat jelas kalau saat ini Nayla benar-benar sungguh meminta maaf pada menantunya. Mereka hanya bisa menenangkan Nayla saja.


*****


__ADS_2