IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Kejutan untuk Ryan


__ADS_3

Ryan mencari keberadaan istrinya ditengah acara ulang tahunnya yang sedang berlangsung.


"Bisma apa kamu yakin tidak melihat keberadaan istri dan putra ku?" tanya Ryan pada Bisma.


"Benar, pak!"


"Yang, benar saja dari tadi mereka ada ditempat mereka duduk"


Karena tidak juga melihat keberadaan istri dan Putranya didalam ruangan, Ryan memutuskan untuk keluar. Dia mencari keberadaan istri dan putranya diluar ruangan.


"Happy birthday my husband" Ryan yang berniat untuk membuka pintu langsung memutarkan tubuhnya menghadap arah panggung. Ryan sangat mengenal suara itu, suara seseorang yang selalu ada dalam pikirannya dari tadi. Saat melihat istrinya berada di depan piano tampak sangat bingung.


Cahaya tahu kalau saat ini pasti Ryan tengah bingung, apalagi Ryan sangat tahu kalau dirinya tidak tahu memainkan alat musik. Dengan menampilkan senyum manisnya Cahaya mulai memainkan piano yang ada dihadapannya dengan jemarinya yang lentik.


Every night in my dreams


I see you, I feel you


That is how I know you go on


Far across the distance


And spaces between us


You have come to show you go on


Near, far, wherever you are


I believe that the heart does go on


Once more, you open the door


And you're here in my heart


And my heart will go on and on


Love can touch us one time


And last for a lifetime


And never let go 'til we're gone


Love was when I loved you


One true time I'd hold to


In my life, we'll always go on

__ADS_1


Near, far, wherever you are


I believe that the heart does go on (why does the heart go on?)


Once more, you open the door


And you're here in my heart


And my heart will go on and on


You're here, there's nothing I fear


And I know that my heart will go on


We'll stay forever this way


You are safe in my heart and


My heart will go on and on


Para tamu yang hadir dalam acara ulang tahun Ryan sangat terpesona dengan penampilan Cahaya. Mereka tidak menyangka kalau Cahaya yang mereka kenal gadis yang dibesarkan di panti asuhan bisa memainkan alat musik yang sangat indah dan memiliki suara yang dapat memikat hati semua orang. Kalau ada produser musik pasti mereka akan langsung mengajak Cahaya untuk rekaman.


Ryan tidak menyangka kalau istrinya begitu mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan ulang tahunnya. Saat istrinya masih memainkan musik dan menyanyikan lagu untuknya, Ryan berjalan mendekati istrinya.


Saat lagu berakhir semua para tamu langsung memberikan apresiasi kepada Cahaya. Seluruh ruangan itu dipenuhi dengan suara tepuk tangan semua orang.


Hanya ada satu tamu yang hadir tampak sangat kesal melihat keromantisan Ryan dan Cahaya. Hanya asistennya saja yang menyadari hal itu.


"Apa kamu sudah siapkan semuanya?" tanya Nancy sambil menatap Cahaya penuh kebencian.


"Sudah Bu, wanita itu sudah bersiap-siap" ucap Mery, asisten dari Nancy.


-


-


Nayla yang tampak sibuk menikmati makanannya, sangat terkejut Kevin datang menghampirinya.


"Boleh saya gabung?" Nancy terpesona melihat ketampanan Kevin.


"Boleh, tidak ada yang melarang...." ucap Nayla yang berusaha untuk menutupi kegugupannya.


Nayla berharap kalau Kevin akan mengajaknya mengobrol, tapi Kevin malah sibuk dengan hp nya. Nayla jadi kembali menikmati makanannya dan mengabaikan kalau Kevin ada disampingnya, apalagi dia masih merasa lapar.


Nayla tidak tahu kalau Kevin memperhatikannya. Melihat gaya makan Nayla yang seperti orang kelaparan membuat Kevin ingin sekali ketawa. Tapi dia lebih memilih untuk pura-pura tidak tidak melihatnya.


Hanya beberapa menit saja makanan yang tadi masih penuh dalam piring, kini sudah tampak bersih. Melihat Nayla yang sudah menyelesaikan makanannya, barulah Kevin menghentikan kegiatannya. Melihat ada sisa makanan disudut bibirnya Nayla membuat Kevin langsung tersenyum. Nayla yang kebetulan ingin mencari pelayan untuk mengambil minuman untuknya melihat Kevin menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Tanpa bicara apa-apa, Kevin mengambil tissue dan langsung membersihkan sisa makanan yang ada diujung bibir Nayla. Tentu saja membuat Nayla langsung mematung, degup jantung berdebar kencang. Apalagi jarak antara wajah mereka sangat dekat.


"Selesai.... Jangan pernah makan seperti tadi kalau di hadapan pria lain..." ucap Kevin dengan lembut. Nayla mengedipkan matanya tampak bingung dengan apa yang dikatakan Kevin padanya. Setelah mengatakan itu barulah Kevin menegakkan tubuhnya lagi.


"A....apa yang kamu lakukan? Dan a..apa maksud mu?" tanya Nayla dengan gugup.


"Memang nya apa yang kulakukan? Aku hanya membantu mu membersihkan sisa makanan yang ada diujung bibir mu..."


"Kamu bisa mengatakan nya padaku".


"Ribet. Kenapa wajah mu memerah seperti kepiting rebus?" goda Kevin saat melihat wajah Nayla yang sudah memerah sejak dia membantu Nayla untuk membersihkan ujung bibirnya.


Nayla langsung bangkit berdiri dan langsung berlari menjauh dari Kevin. Nayla sangat malu karena ucapan Kevin seperti itu.


Kevin yang melihat itu langsung tersenyum, dengan tenang Kevin mengambil tas dan hp Nayla yang tertinggal di atas meja.


"Ah... Apa dia juga mendengar detak jantungku tadi?" gumam Nayla sambil memegang kedua pipinya. Nayla tidak menyadari kalau Kevin mengikutinya dari belakang.


-


-


"Sayang aku ke toilet sebentar...." bisik Cahaya para Ryan yang lagi menikmati makanannya. Ryan mengangguk kepalanya.


Saat Cahaya pergi, seorang pelayan wanita datang menawarkan Ryan minuman. Ryan pun mengambil minumannya berhubung minumannya habis. Setelah memberikan minuman yang dibawanya ke Ryan, pelayan itu memberikan minuman pada Nancy.


"Apa kamu yakin kamu tidak memberikan minuman yang salah?" tanya Nancy pada pelayan itu.


"Tidak, Bu."


"Pergilah!" pelayan itu mengangguk kepalanya.


Nancy yang melihat itu langsung tampak sangat bahagia. Nancy langsung bangkit berdiri dan berjalan mendekati Ryan. Melihat Ryan meminum minuman yang diberikan pelayan tadi membuat dia tersenyum manis terus.


"Hai, Ryan.... Selamat ulang tahun untuk mu.." ucap Nancy dengan manja sambil mengulurkan tangannya.


"Terimakasih" jawab Ryan tanpa membalas uluran tangan Nancy.


"Apa aku boleh duduk di sini?" Nancy tidak akan pernah menyerah begitu saja, dia ingin melihat dari reaksi obat yang sudah dicampurinya dalam minuman Ryan.


Ryan lebih memilih untuk diam dan mengambil hp nya untuk menyuruh istrinya kembali ke ruangan sekarang. Setelah Lima menit Nancy tampak bingung karena dia tidak melihat reaksi obat itu pada diri Ryan. Malahan dia merasa seluruh tubuhnya terasa panas.


"Sayang..." Nancy langsung bangkit berdiri saat melihat kedatangan Cahaya.


"Hai, nona Nancy ternyata anda datang." ucap Cahaya dengan lembut.


"A... aku permisi dulu..." ucap Nancy dengan gugup karena dia mulai merasa tidak nyaman dengan dirinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2