
Ryan menggemgam tangan Cahaya dengan rasa bersalah. Ryan tidak tahan melihat wajah pucat Cahaya dan terbaring lemah.
"Dad, mommy baik-baik saja..." Ezra tahu kalau Daddy nya merasa bersalah.
"Boy, apa yang terjadi pada mommy? Kenapa mommy terlihat sangat pucat?"
"Sebentar lagi dokter datang dan dokter yang akan menjelaskan pada Daddy"
Seperti yang dikatakan Ezra, dokter langsung datang setelah mendengar kalau Ryan telah tiba.
"Kamu sudah datang?"
"Katakan apa yang terjadi pada istri ku?'" tanya Ryan tanpa melepaskan tatapannya pada istrinya yang terbaring lemah.
"Dia tidak apa-apa. Hal seperti ini sudah terbiasa untuk ibu hamil" Ryan tertegun mendengar kalau istrinya lagi hamil.
"Hamil?" kali ini Ryan Lewis menatap dokter dengan serius.
"Emmm.... Setelah dia sadar nanti, lebih baik ku bawa ke bagian obigyn untuk memastikannya."
"Baiklah" Ryan sangat bahagia mendengar kalau istrinya hamil anak kedua mereka.
Dia tidak menyangka baru dua bulan istrinya melepaskan alat KB nya, Istrinya kini tengah berisi. Tapi di satu sisi, Ryan sangat tidak tega melihat istrinya yang tampak seperti itu. Hanya saja karena istrinya, ingin memiliki anak lagi, membuat dia langsung setuju. Istrinya ingin sekali memiliki anak perempuan seperti Nayla dan Jeje.
Ryan menyuruh putranya untuk istirahat lebih dulu, dan dialah yang akan menjaga istrinya sampai bangun. Selama istrinya belum sadar, Ryan tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya.
Saat Ryan yang ingin ke toilet, langsung mengurungkan niatnya karena mendengar suara gumaman istrinya.
"Sayang...." gumam Ryan sambil mengelus pipi Istrinya.
Melihat sosok yang dari tadi terus dirindukannya, Cahaya langsung bangkit dan memeluk erat Ryan. Entah kenapa dia langsung menangis dalam pelukan Ryan.
"Maaf sayang, aku salah! Aku telah mengabaikan mu....." Mendengar Isak tangis istrinya membuat hatinya Ryan sangat sakit.
"Hiks hiks hiks... Kamu susah dihubungi, aku merindukan mu...."
"Maaf sayang... Ku mohon tolong jangan menangis ya...." setelah dibujuk Ryan, Cahaya mengehentikan tangisannya dan mendongakkan kepalanya menatap Ryan.
"Sayang aku lapar..." rengek Cahaya dengan manja.
"Sekarang katakan kamu mau ingin makan apa?" Ryan sangat menyukai kalau istrinya manja padanya.
"Aku mau bubur ayam..."
"Tunggu sebentar aku akan menyuruh Bisma" Cahaya mengangguk kepalanya.
-
-
Sehabis makan, Ryan memberi tahu pada Cahaya kalau saat ini sedang mengandung anak kedua mereka. Cahaya tidak menyangka kalau Tuhan langsung mengabulkannya. Begitu juga dengan kedua orang tua mereka. Saat mereka kembali dari perjalanan mereka, Ryan langsung memberitahu kepada mereka kalau Cahaya tengah hamil anak kedua mereka.
"Apa kalian sudah memeriksanya?" tanya Kiara
"Belum, ma. Tapi kami sudah buat janji" ucap Ryan.
"Baguslah. Sayang apa kamu ingin sesuatu?" tanya Kiara.
__ADS_1
"Tidak, ma. Baru saja saya makan bubur" ucap Cahaya sambil memeluk erat-erat Ryan dengan manja. Cahaya tidak ingin jauh-jauh dari Ryan, kalau Ryan menjauh dia ingin menangis.
"Kalau kamu ingin sesuatu, kasih tahu mama ya..."
"Ia, ma..."
-
-
Hanya satu hari saja Cahaya dirawat di rumah sakit. Ryan menjadi suami siaga untuk saat ini, setiap dia pergi istrinya pasti akan jauh kecuali kalau ada urusan luar kota. Walaupun terasa berat untuk pergi Ryan tetap harus menjalankan tugas nya sebagai pemimpin.
Kalau dia diluar kota dia akan selalu menghubungi istrinya dan setiap Kalau malam, dia akan video call dengan istrinya dan mematikan sambungan video callnya kalau istrinya sudah terlelap.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, dari perkiraan dokter Cahaya akan melahirkan. Mereka tidak sabar untuk kelahiran anak kedua mereka. Cahaya tidak menyangka kalau keinginannya terkabul, saat dia mengetahui dari USG kalau jenis kelamin bayi dalam kandungannya perempuan Cahaya langsung sibuk mencari nama untuk Putrinya. Tidak hanya Cahaya dan Ryan saja yang sangat antusias menyambut kelahiran putri mereka, Ezra tidak sabar menanti kelahiran adik perempuannya. Ezra berjanji pada kedua orangtuanya akan selalu menjaga adiknya. Tentu saja membuat Ryan dan Cahaya sangat senang.
"Bisma malam ini kita langsung pulang!" ucap Ryan yang baru saja menyelesaikan meeting nya.
"Baik, pak!"
Ryan tidak memberi tahu kepada istri dan Putranya kalau dia akan pulang. Dia ingin padamemberikan kejutan pada istri dan Putranya. Ryan sangat bangga dengan putranya karena putranya masih kecil tapi bisa diandalkan. Putranya lah yang menggantikan posisinya untuk menjaga istrinya kalau dia pergi.
Saat dia keluar dari dalam mobil nya Ryan melihat jam tangannya menunjukkan jam sebelas malam, Ryan sangat yakin kalau istrinya pasti sudah tidur.
Saat dia masuk kedalam rumahnya, Ryan yang sangat haus memutuskan untuk ke dapur. Saat dia ke dapur, Ryan sangat kaget melihat istrinya lagi makan mie.
"Sayang kamu belum tidur?" Cahaya yang lagi menikmati makanannya langsung mendongakkan kepalanya. Melihat suaminya berdiri di hadapannya, Cahaya langsung berlari memeluk erat Ryan.
"Jangan lari-lari sayang..." ucap Ryan dengan cemas.
"Kenapa? Kangen ya?" Cahaya mengangguk kepalanya.
"Ya, sudah makan nya dihabiskan dulu"
"Sudah tidak selera lagi."
"Yakin?" Cahaya mengangguk kepalanya.
"Ya sudah kita naik ya..."
Sesampainya di kamar Ryan dan Cahaya yang sudah menahan rindu selama tiga langsung menyalurkan rindu mereka di atas kasur.
-
-
Ryan memutuskan untuk membawa istri dan Putranya jalan-jalan. Karena Ryan sudah berjanji pada putranya akan membawa putranya jalan-jalan setelah dia pulang dari luar kota. Ryan membawa keluarga kecilnya ke pantai yang ada di kota J.
"Sudah lama tidak jalan-jalan ke sini" ucap Cahaya sambil berjalan menyusuri tepi pantai tanpa alas kaki.
"Apa kamu senang?" Cahaya mengangguk kepalanya dengan cepat.
"Sayang sepertinya putra kita sangat bahagia" sambung Cahaya saat melihat putranya tampak sangat bahagia bermain air pantai.
"Emm.... Maaf ya karena kesibukan ku, aku sudah sangat jarang membawa kalian jalan-jalan" ucap Ryan.
"Tidak apa-apa. Kami mengerti posisi mu"
__ADS_1
Saat mereka berjalan ditepi pantai, tiba-tiba Cahaya merasa mules.
"AW..."
"Sayang kenapa? Apa yang sakit?"
"Perutku... Sepertinya aku akan melahirkan" ucap Cahaya sambil meringis kesakitan.
Dengan sigap Ryan memanggil putranya dan membawa istrinya ke rumah sakit yang tidak jauh dari tempat mereka. Ezra yang sangat pintar langsung menghubungi kakeknya.
"Boy, apa kamu bisa menunggu di sini?" tanya Ryan dengan cemas.
"Bisa, Dad. Daddy temani mommy saja! Aku menunggu di sini!"
"Baiklah. Tetep disini ya boy!" Ezra mengangguk kepalanya.
Sudah satu jam Ryan berada didalam menemani Cahaya. Ezra terus menatap arah pintu, berharap kalau mommy dan calon adiknya sehat-sehat.
"Ezra sayang, dimana Daddy mu?" tiba-tiba saja Rudi datang bersama istri dan yang lainnya.
"Daddy masih didalam menemani mommy, kek!"
"Baiklah...." Semuanya memilih duduk dan berdoa kalau Cahaya dan calon anaknya baik-baik saja.
Setelah satu jam mereka menunggu diluar dengan cemas, langsung tampak bahagia saat mendengar suara tangisan bayi dari dalam.
-
-
-
Kini semuanya tampak sangat bahagia melihat kelahiran cucu kedua dari keluarga Aditama. Semuanya memuji kecantikan putri kecil Cahaya dan Ryan. Cahaya dan Ryan memutuskan untuk memberi nama Ratu Felicia Aditama.
"Dedek, kakak janji akan lindungi mu dan selalu ada untuk mu...." ucap Ezra sambil mengelus pipi adiknya yang berada dalam gendongan neneknya.
Ryan dan Cahaya tampak sangat bahagia melihat seluruh keluarganya sangat bahagia menyambut kedatangan putri mereka.
"Terimakasih, sudah memberikan ku putra pintar dan tampan dan seorang putri yang sangat cantik" ucap Ryan sambil memeluk cahaya dari samping.
Cup.
Dengan penuh kelembutan Ryan mengecup puncak kepala istrinya. Ryan sangat bersyukur dia dapat merasakan kebahagiaan. Ryan berjanji akan selalu menjaga istri dan anak-anaknya, karena baginya keluarganya adalah harta yang paling berharga yang tidak dapat ditukar dengan apapun.
"Aku yang seharusnya berterima kasih kepada mu. Kamu memberikan kebahagiaan yang tidak terpikirkan dalam hidup ku." ucap Cahaya dengan tersenyum.
Kehadiran putra dan putri mereka membuat mereka merasa keluarga kecil mereka sudah sangat lengkap.
Keduanya memilih untuk menikmati suasana yang ada dihadapan mereka, dimana semuanya tampak sangat sibuk memilih untuk menggendong putri mereka selanjutnya setelah Andini yang menggendong.
The End
********
Terimakasih atas dukungan semuanya. Maaf kan saya kalau tulisan nya masih agak belepotan. Jika ada kesalahan dalam tulisan, tolong berikan komentarnya di bab yang salah. Tanpa dukungan kalian mungkin saja cerita ini bisa mengambang. Hehehe...🤭
Dan maaf kalau selama ini saya selalu saja lama-lama up nya. Itu semua karena saya memiliki pekerjaan yang mendesak belakangan ini. 🙏
__ADS_1