IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Penculikan


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu liburan di Villa selama seminggu, kini semuanya kembali beraktivitas seperti biasa. Cahaya tampak sangat sibuk dengan pekerjaannya, apalagi saat ini restoran milik Ryan sudah semakin maju pesat.


"Je, tolong jaga Ezra ya. Kakak mau menghubungi suami kakak dulu."


"Kenapa kak? Apa kak Ryan dan kakak ada janjian?"


"Ya... suami kakak tadi minta makan siang bersama di kantornya"


"Oh, oke..."


Cahaya langsung menghubungi Ryan. Baru saja dia menghubungi Ryan, Ryan langsung mengangkatnya.


"Cepat amat mengangkatnya..." ucap Cahaya dengan tersenyum.


"Tentu saja aku harus mengangkatnya cepat dong sayang. Kamu dan putra kita nomor satu dalam hidup ku..." Ryan yang tengah rapat langsung menyuruh pegawainya untuk berhenti sebentar, karena dia harus menjawab telepon istrinya.


"Iya, deh. Sayang apa jadi kita makan siang barengnya?"


"Tentu saja jadi. Sekarang kalian ada dimana?"


"Ini baru mau berangkat. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaan mu..."


"Baiklah, hati-hati ya sayang..."


"Ia. Bye sayang..." Setelah mematikan sambungan teleponnya, Cahaya langsung menghampiri Jeje yang tengah bermain bersama baby Ezra.


"Je, kamu mau ikut bersama kakak atau kamu mau pulang?" tanya Cahaya pada Jeje sambil mengambil alih baby Ezra untuk digendongnya.


"Ikut kakak saja. Sekalian aku mau ketemu Abang tampan ku..." ucap Jeje dengan malu.


"Kamu ini.... Ingat kamu harus tamat dulu, baru menikah dengan Bisma"


"Ia, aku tahu kak!"


"Ya, sudah. Kamu bawa dulu kereta dorongnya Ezra dan tasnya"


"Ia, kak..."


-


-


Seluruh pegawai Ryan tampak menahan ketawa mereka melihat tingkah Ryan yang sangat bucin dengan istrinya. Tapi sebagian pagawai wanita tampak sangat cemburu, karena Ryan tampak sangat mencintai Cahaya.


"Kita lanjutkan rapatnya, sekarang. Siapa yang bertanggung jawab dengan proyek yang ada di kota Bekasi?" Tanya Ryan dengan tegas.


"Maaf pak itu pak Mukis yang bertanggung jawab. Tapi, saat ini beliau tidak hadir pak" jawab salah satu bawahan Ryan.


"Bisma apa dia tidak tahu kalau kita saat ini sedang rapat penting?"


"Sudah, pak. Tapi beliau saat ini sedang cuti satu Minggu yang lalu. Katanya dia sedang berobat ke Penang"

__ADS_1


"Baiklah, jadi siapa yang bisa jelaskan pada saya kenapa proyek itu sampai sekarang belum juga kelar? Ini sudah terlalu lama dari target yang ditetapkan"


"Maaf pak, bapak akan menemukan jawabannya dari sini" Bisma memberikan berkas yang dari tadi dibawanya. Bawahan yang dibawah pak Mukis langsung menunduk kepalanya karena ketakutan.


Brak...


Ryan melemparkan berkas yang baru saja dia baca. Dengan tatapan dingin Ryan menatap para pegawai bawahan Pak Mukis.


"Kalau kalian ingin masih bekerja di perusahaan ini, katakan apa yang terjadi!" ucap Ryan dengan dingin.


Tapi bawahan pak Mukis tampak diam saja, mendengar ucapan Ryan. Mereka tampak gugup dan tidak tahu apa yang harus mereka jawab. Kalau mereka mengatakan yang sebenarnya, pak Mukis pastinya akan membalas mereka semua. Karena mereka telah mendapatkan ancaman dari pak Mukis. Kalau mereka memberi tahu maka, keluarga mereka yang akan menerima akibatnya.


"Bisma siapkan surat pemecatan mereka yang terlibat dalam proyek ini" ucap Ryan sambil bangkit berdiri. Dengan gagahnya Ryan bangkit berdiri dan merapikan jasnya.


Bawahan pak Mukis langsung bangkit berdiri dan bersujud pada Ryan. Mereka semua meminta Ryan untuk membatalkan perintahnya.


"Saya mohon pak, tolong jangan pecat kami." ucap bawahan pak Mukis dengan wajah memelas.


"Kalian keruangan saya sekarang. Yang lainnya silahkan bubar" ucap Ryan tegas.


-


-


Cahaya dan Jeje sangat ketakutan saat melihat beberapa mobil mengikuti mereka dari belakang.


"Aw..." Jeje dan Cahaya meringis kesakitan karena kepala mereka terbentur dengan sandaran kursi bagian depan.


"Nyonya anda tidak apa-apa?" tanya supir pribadi Cahaya saat dia mengerem mobil yang dibawanya.


"Saya tidak tahu nyonya. Nyonya tolong jangan keluar, meskipun apapun yang terjadi. Dan saya sarankan nyonya hubungi tuan Ryan saja"


"Oh, iya saya sampai lupa. Saya akan hubungi suami saya dulu"


Diluar bodyguard Cahaya tampak sangat kewalahan menghadapi preman yang mencegat mereka. Supir Cahaya yang baru saja keluar langsung membantu bodyguard Cahaya.


-


-


Ryan yang lagi mengintrogasi pegawainya, langsung menghentikannya karena melihat istrinya menghubungi.


"Sayang..."


"Tolong kami... Kami dicegat beberapa orang..." ucap Cahaya dengan cepat. Ryan bangkit berdiri saat mendengar apa yang dikatakan Cahaya.


"Katakan kalian ada dimana sekarang?"


"Di jalan x...."


"Bertahanlah sayang, aku akan datang"

__ADS_1


"Cepatlah..."


Ryan langsung pergi bersama Bisma dan bodyguardnya. Para pegawainya yang melihat wajah kuatir dari Ryan membuat mereka tampak sangat bingung.


-


-


"Kak, apa yang harus kita lakukan?" tanya Jeje dengan ketakutan.


"Tenanglah, sebentar lagi Ryan akan datang..." Cahaya berusaha untuk menenangkan Jeje. Sebenarnya Cahaya sangat ketakutan karena bodyguardnya yang kalah jumlah sudah pada terkapar. Apalagi saat ini beberapa pria menuju ke arah mobil.


Prang...


Kaca mobilnya Cahaya kiri dan kanan pecah karena dua pria yang menghampiri mereka memecahkannya dengan pukulan yang mereka bawa.


Dengan kasar kedua pria itu menarik Cahaya dan Jeje keluar. Cahaya hanya bisa mengikuti keinginan pria itu karena memikirkan keselamatan putranya yang ada dalam gendongannya.


"Tolong jangan sakiti putra ku" ucap Cahaya dengan tegas karena pria itu merebut putra dalam gendongannya.


"Diam kamu! Kalau putra mu ingin selamat ikuti apa yang kami katakan." teriak ketua dari preman-preman itu.


"Baik, tapi tolong jangan sakiti putra ku" pinta Cahaya lagi, apalagi saat ini putranya tengah menangis.


"Bawa mereka semua, cepat! Sebelum ada yang datang. Pastikan tas dan hp milik mereka ditinggalkan"


"Baik, bos!".


Kedua tangannya Cahaya dan Jeje diikat kebelakang, begitu juga dengan matanya mereka berdua ditutup dengan kain hitam.


-


-


-


"Periksa semuanya!" perintah Ryan saat sampai di tempat kejadian. Tidak hanya Ryan saja, Ryan juga membawa polisi.


Ryan tampak sangat emosi karena tidak menemukan istri dan Putranya didalam mobil. Seluruh bodyguard istrinya kini sudah terkapar dengan keadaan babak belur.


"Pak Ryan, saya ingin bertanya apa ada orang yang bapak curigai untuk saat ini?" tanya seorang polisi.


"Saya tidak tahu untuk saat ini, pak."


"Baiklah, saat ini anggota saya sedang memeriksa cctv. Dari situ kita akan mendapatkan petunjuk" Ryan hanya mengangguk kepalanya.


"Baik pak. Tolong kabarin saya secepatnya."


"Siap, pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Oh, ya pak beberapa anggota saya akan mengintrogasi anak buah pak Ryan kalau mereka sudah sadar"


"Silahkan, pak"

__ADS_1


Setelah polisi itu pergi, Ryan memberikan kabar pada keluarganya kalau Cahaya, Jeje dan putranya sedang diculik. Rudi dan Renaldo yang mendengar kabar itu langsung menyuruh Ryan untuk pulang secepatnya.


******


__ADS_2