
Dengan kasar Ryan mengambil cek dan menulis nominal yang bisa membeli hp canggih untuk Cahaya.
"Ambil ini, gunakan ini untuk membeli hp mu yang rusak. Setelah itu kamu harus meminta maaf pada Naina. Karena aku yakin dia tidak sengaja melakukannya" ucap Ryan.
Jleb.
Sungguh sakit hati Cahaya mendengar ucapan Ryan. Cahaya sebenarnya sudah menyiapkan dirinya, kalau Ryan akan membela Naina nantinya. Tapi karena Ryan memberikan dia cek, membuat hatinya sangat sakit. Dengan penuh kekecewaan Cahaya mengambil cek yang diberikan Ryan padanya.
Tanpa diduga Ryan, Cahaya mengoyakkan cek itu sampai kecil dan menatap Ryan penuh kekecewaan.
"Apa anda berpikir dengan uang bisa menyelesaikan masalah. Mungkin anda berpikir kalau hp saya tidak terlalu berharga, tapi itu merupakan hal yang terpenting bagi saya. Bukan karena itu merupakan milik saya yang paling berharga. Saya tahu dari awal Anda tidak akan pernah percaya dengan apa yang akan saya katakan, bagi anda saya lah yang salah dan wanita itu yang benar. Maaf kan saya kalau saya telah membuat anda dan keluarga anda malu, permisi..." ucap Cahaya sambil menahan air matanya tidak keluar.
Mendengar ucapan Cahaya membuat Ryan merasa bersalah. Apalagi melihat Cahaya menahan air matanya, hatinya terasa sakit.
-
-
Kini Cahaya berada di atas gedung, dengan menahan air matanya Cahaya menatap suasana kota J dari atas gedung. Cahaya tidak ingin air matanya menetes keluar, jika air matanya keluar itu berarti dia kalah dari Naina.
"Sepertinya dunia memang tidak ingin aku ada disini..." gumam Cahaya dalam hati.
Cahaya memikirkan kehidupan yang dia lalui selama ini, dibuang orang tua, tidak dianggap karena anak yatim-piatu dari orang tua pria yang dicintainya, menikah dengan pria yang dicintainya tapi tidak dengan hatinya dan hubungan mereka seperti orang asing.
Tut...Tut...
Cahaya langsung menghela nafasnya saat melihat nama yang tertera di hp nya.
"Ya, pak Bisma..." ternyata yang menghubunginya Bisma.
"Tolong ke ruangan rapat sekarang. Karena pak Renaldo sudah tiba." ucap Bisma.
"Baik, pak"
-
-
Ryan terus memperhatikan Cahaya yang sedang menjelaskan hasil dari desainnya. Ada perasaan lega Ryan saat melihat Cahaya tampak baik-baik saja.
Renaldo sangat puas hasil dari desain yang diberikan Cahaya. Karena hasilnya sangat memuaskan, Renaldo dan Ryan langsung menandatangani surat kerja sama mereka.
__ADS_1
-
-
Didalam mobil Renaldo tampak memikirkan wajah Cahaya yang tampak tidak asing baginya.
"Pa, apa memikirkan sesuatu?" ucap Naina saat melihat Renaldo tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak ada" jawab Renaldo singkat.
"Nai, ingat jangan membuat masalah. Papa perhatikan tadi kamu selalu saja melirik Ryan. Ingat Nai, Ryan sudah menikah" ucap Renaldo yang tidak suka melihat sikap putrinya tadi.
"Ia, pa. Lagian Nai hanya mengagumi sosok kak Ryan saja" ucap Naina berbohong.
"Baiklah. Mulai besok pembangunan hotel kita yang baru, papa serahkan dalam pengawasan mu"
"Oke, pa."
-
-
Apalagi Cahaya tidak pernah sekalipun tinggal di rumah Ryan. Cahaya hanya akan menginjak rumah Ryan kalau kedua orangtuanya Ryan datang berkunjung.
Sebenarnya kedua orangtuanya Ryan mengetahui hubungan Ryan dan Cahaya tidak pernah mengalami perubahan. Apalagi mereka mendengar Ryan sering sekali makan malam bersama Naina dan Kiara diluar.
Mereka sangat yakin kalau Kiara berniat untuk menjodohkan Naina menjadi suami dari Ryan. Karena lima bulan yang lalu, Kiara mengatakan ingin menjodohkan Naina menjadi istri ketiganya Ryan. Karena Kiara mengetahui kalau hubungan Cahaya dan Ryan tidak pernah sekalipun mengalami perubahan, dan apalagi sampai saat ini Ryan belum mempunyai keturunan.
Setiap malam Andini selalu menangis, ingin sekali dia memberi tahu kepada putranya siapa Cahaya sebenarnya. Tapi, semuanya sirna karena beberapa bulan ini Ryan selalu bermimpi tentang kecelakaannya beberapa tahun yang lalu, dan bermimpi seorang wanita yang selalu ketawa di pinggir danau. Setiap memikirkan hal itu, Ryan selalu meringis kesakitan bagian kepalanya dan mengakibatkannya pingsan berjam-jam.
"Bagaimana putra saya?" tanya Andini dengan cemas saat mendengar dari Bisma kalau Ryan pingsan.
"Tidak apa-apa, nyonya. Mungkin tuan Ryan memaksakan dirinya untuk mengingat yang hilang dalam ingatannya" ucap dokter yang selama ini menangani Ryan.
"Terimakasih, dok." untuk Andini.
Setelah dokter pergi, Andini duduk di samping putranya sambil menggenggam tangan Ryan dengan raut wajah sedih.
"Bisma apa yang terjadi padanya? Kenapa dia memaksakan dirinya untuk mengingat semuanya?" ucap Andini sambil menatap putranya yang masih terbaring lemah.
"Maaf Tante sebenarnya saya juga bingung. Saat itu kami melewati taman yang dijalan X untuk olahraga pagi, dari kejauhan kami melihat Cahaya duduk di pinggiran danau. Jadi, saya mengajak Ryan untuk menghampiri Cahaya, tapi tiba-tiba saja Ryan merasa sakit kepala dan akhirnya dia pingsan." jelas Bisma.
__ADS_1
"Sekarang katakan dimana menantuku?" tanya Andini sambil menatap Bisma.
"Saya tidak tahu Tante. Karena Cahaya tidak mengetahui hal ini..." ucap Bisma.
"Baiklah kalau begitu. Kamu tolong jaga Ryan, Tante ada perlu sebentar" Bisma mengangguk kepalanya.
-
-
Saat Andini keluar dari dalam lift, dia melihat Cahaya didalam rumah sakit. Andini berpikir kalau Cahaya akan melihat Ryan, tapi semuanya salah. Karena arah yang dilalui Cahaya berlawanan arah. Andini yang sangat penasaran kemana tujuannya Cahaya, memutuskan untuk mengikuti Cahaya dari belakang.
Betapa terkejutnya Andini saat melihat Cahaya memasuki ruangan dokter spesialis saraf. Sungguh membuat Andini sangat penasaran, apakah Cahaya sudah mengetahui apa yang terjadi pada Ryan.
Saat pintu mulai terbuka, Andini langsung mengambil tempat persembunyian. Setelah memastikan Cahaya pergi, Andini masuk kedalam ruangan dokter.
"Nyonya Andini silahkan masuk. Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya dokter Jimmi selaku dokter yang menangani Ryan dan Cahaya.
"Aku hanya ingin tahu kenapa Cahaya bisa kesini? Apa dia bertanya tentang Ryan?"
"Nona kenal dengan Cahaya?" Andini mengangguk kepalanya.
"Tidak nyonya, dia hanya berobat rutin seperti biasanya."
"Apa maksud mu? Apa yang selama ini Cahaya sakit?"
"Sebenarnya saya tidak berhak untuk memberi tahu keadaan pasien saya, karena ini sangat rahasia kecuali pasien itu sendiri yang mengijinkan saya untuk memberitahukannya."
"Tapi saya ingin mengetahuinya, ini sangat penting. Karena Cahaya sudah seperti putri saya sendiri."
"Baiklah, nyonya." Dokter Jimmi menjelaskan apa yang terjadi pada Cahaya selama hampir enam tahun ini. Andini sangat terkejut mendengar kalau selama ini Cahaya sangat menderita. Penderitaan Cahaya tidak sebanding dengan apa yang terjadi pada putranya selama ini. Ryan dapat melupakan semuanya, tapi tidak bagi Cahaya.
-
-
Andini terus saja diam didalam kamarnya dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Papa Rudi tampak sangat bingung dengan sikap Andini karena sejak dia pulang Andini tidak menyambutnya seperti biasa.
****
__ADS_1