
Kini seluruh ruangan rapat tampak sangat ribut, mereka sangat penasaran dengan isi rapat yang mereka hadiri. Tidak ada satupun yang mengetahui kalau pemimpin perusahaan mereka saat ini sedang menuju ruangan rapat.
Saat pintu ruangan terbuka mereka sangat terkejut melihat kedatangan pemimpin mereka, bersama beberapa yang tidak pernah lihat sebelumnya. Hanya Richard saja yang mereka kenal, tapi saat melihat wajah Ryan yang tampak sangat tidak asing, mereka langsung berbisik.
"Bukankah itu pria yang mengintip kita tadi.?"
"Benar. Siapa dia? Tapi wajahnya sangat tampan ya dan sangat mirip dengan pak Rudi..."
"Benar...Apa jangan-jangan...." pikiran mereka langsung traveling bawah Ryan putra dari pemimpin mereka.
Mereka memang mengetahui kalau pemimpin mereka memiliki seorang putra yang fokus bekerja di perusahaan pusat yang ada di Indonesia dan di Inggris.
Rudi yang sudah berdiri di seluruh pegawainya, tampak menatap tajam pegawainya. Begitu juga dengan Ryan, tidak ada perbedaan antara Rudi dan Ryan. Mereka memang sangat dingin menatap orang lain kecuali keluarga mereka sendiri.
Rudi memperkenalkan Ryan sebagai putranya, dan yang akan memimpin rapat mereka hari ini adalah putranya. Tentu saja mereka sangat terkejut dan beberapa orang yang tadi melihat kedatangan Ryan sangat gugup.
"Saya akan memanggil setiap pemimpin dari setiap divisi di perusahaan ini" ucap Ryan dengan dingin.
"Bisma..." Ryan memberikan kode pada Bisma untuk melakukan tugasnya. Bisma pun langsung mengangguk kepalanya.
Satu per nama disebut, sungguh membuat para ketua divisi sangat gugup.
Setelah melihat orang-orang yang bertanggung jawab dalam setiap divisi, Ryan mulai bicara. Tanpa diduga semua orang Ryan mencampakkan semua berkas yang diberikan Cahaya padanya.
"Apa selama yang kalian lakukan dengan perusahaan ini? Lihat sangat berantakan!" teriak Ryan emosi sambil menatap tajam beberapa pemimpin dari setiap divisi.
"Pantas saja dari semua cabang perusahaan, perusahaan ini yang sangat anjlok....Apa karena pemimpin kalian tidak lagi datang memantau kalian, bisa sesuka hati kalian?"
"Saya ingin besok nama-nama bawahan kalian yang selama ini kinerjanya buruk." ucap Ryan lagi. Mendengar itu membuat semua para pegawai grasak-grusuk, mereka takut kalau mereka akan dipecat oleh Ryan.
"Rapat selesai, kalian bisa kembali ketempat kalian....." ucap Ryan sambil kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Tujuan Ryan untuk mengumpulkan semuanya untuk memberitahu pada semua karyawan apa tujuan mereka datang. Sebenarnya Ryan sudah mengetahui siapa saja karyawan yang kinerjanya pekerjaannya menurun, tapi Ryan ingin melihat sejauh mana kepala divisi perusahaannya mengetahui siapa saja bawahannya yang layak untuk dipertahankan atau malah mengambil kesempatan pada bawahnya. Ryan juga mendapat laporan dari Richard banyak para pegawai yang kinerjanya sangat baik dipecat karena mereka mau memprotes pemimpin mereka. Dan banyak pegawai yang bekerja karena koneksi, padahal mereka tidak layak untuk diposisi tempat mereka bekerja.
-
-
"Ryan, papa harap kamu dapat mengubah perusahaan kita ini menjadi lebih baik. Papa ingin istirahat dulu selama papa disini, dan Richard mulai sekarang akan bergabung dengan kalian untuk memperbaiki perusahaan ini seperti dulu" ucap Rudi dengan menikmati kopi yang dibuat Cahaya untuknya.
"Baik, pah. Pah, aku ingin menghentikan investasi kita pada perusahaan PT Worley..." ucap Ryan sambil berjalan mendekati papanya yang tampak duduk santai di ruangannya.
"Kenapa?" tanya Rudi terkejut. Karena perusahaan itu milik dari sahabatnya yang ada di negara N. Rudi memberikan investasi ke perusahaan itu, karena perusahaan sahabatnya itu membutuhkan suntikan dana.
Ryan memberikan semua berkas yang diberikan Bisma tadi setelah mereka menyelesaikan rapat. Bisma mendapatkannya karena atas perintah dari Ryan untuk memberikan laporan perusahaan mana yang ada di negara N menerima suntikan dana dari perusahaan papanya.
"Apa kamu yakin data ini sudah akurat?" tanya Rudi yang tidak percaya.
"Benar, pa. Perusahaan itu sudah banyak menggelapkan dana dan beberapa tahun ini mereka tidak pernah membayar pajak dan banyak karyawan mereka yang mengalami kecelakaan saat bekerja dalam proyek mereka"
"Baiklah, kalau itu yang terbaik. Papa tidak menyangka kalau Werly melakukan hal itu" ucap Rudi dengan penuh kekecewaan.
"Nayla? Apa maksud papa?"
"Papa perhatikan semenjak kepergian Mesya, kamu sangat dekat dengan Nyala" ucap Rudi.
"Ingat kamu sudah menikah! Papa tidak ingin kamu menyakiti hati Cahaya" sambung Rudi lagi.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Nayla, selama ini aku hanya menganggap Nayla adik saja tidak lebih. Tapi hubungan ku dengan Cahaya kalau boleh jujur, hubungan kami tidak ada perubahan. Aku sama sekali tidak ingin pernikahan ini terjadi, pa. Kenapa Mesya memaksakan aku menikah dengan wanita yang tidak aku cinta sama sekali" ucap Ryan dengan kesal.
"Apa kamu yakin tidak mencintainya? Apa kamu belum membaca surat yang diberikan Mesya sebelum dia meninggal?" Ryan menggeleng kepalanya.
"Baca lah, kamu akan tahu kenapa Mesya meminta mu menikah dengan Cahaya. Jangan sampai semuanya terlambat... Maaf kan kami, nak terutama dengan mama mu. Seharusnya kami tidak melakukannya..." ucap Rudi, dengan raut wajah kesedihan. Setelah itu Rudi bangkit berdiri dan menatap Ryan yang tampak bingung.
__ADS_1
"Setelah kamu membacanya, kamu akan tahu semuanya..." ucap Rudi, setelah itu dia keluar dari ruangan Ryan.
-
-
Di Indonesia, Nayla yang mendengar kalau Ryan pergi ke negara N bersama Cahaya membuat dia sangat kesal. Nayla meminta tolong pada mamanya untuk mengajak papanya untuk liburan ke negara N.
"Tenang sayang, mama akan meminta papa untuk mengajak kita liburan ke Negara N. Tapi, tumben kamu mau liburan ke negara N..." ucap Kiara sambil menatap Nayla.
"Nay, hanya merasa jenuh saja ma disini..." ucap Nayla dengan manja.
"Baiklah mama akan meminta membawa kita liburan ke negara N" ucap Kiara.
"Terimakasih ma..." Nayla langsung memeluk erat Kiara dengan bahagia.
"Oh, ya ma bagaimana pencarian mama? Apa mama sudah menemukannya?" sambung Nayla sambil melepaskan pelukannya.
"Kata papa sih, anak buahnya sudah bertemu dengan orang yang pemilik rumah itu. Tapi, mereka belum mendapatkan telepon dari pemilik rumah itu lagi..." ucap Kiara dengan raut wajah yang sedih.
"Sabar ya, ma. Pasti kita akan mendapatkan hasilnya..." Kiara memeluk erat Nayla sambil meneteskan air matanya.
-
-
Bisma, Richard dan Cahaya kini berada di ruangan Ryan. Mereka menunggu perintah dari Ryan apa yang harus mereka kerjakan.
"Nona Cahaya saya ingin kamu yang mempersiapkan segala sesuatu untuk ulang tahun perusahaan kita satu Minggu lagi" ucap Ryan dengan dingin sambil menatap Cahaya.
"Baik, pak..." jawab Cahaya, Cahaya tampak biasa saja dengan tatapan Ryan padanya.
__ADS_1
"Kalian boleh Keluar!" perintah Ryan pada mereka.
****