IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Memukau


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju hotel, Ryan selalu melirik ke Cahaya. Ada rasa takut dalam diri Ryan, bukan takut dengan hal-hal yang buruk. Tapi dia takut akan semakin banyak pula pria yang mengagumi istrinya.


Istri? Sejak kapan Ryan menganggap Cahaya istrinya? Sampai sekarang saja, Ryan tidak pernah sekalipun menganggap Cahaya sebagai istrinya. Saat mereka mulai semakin dekat dengan hotel, Ryan semakin gelisah. Ryan banyak tahu tentang bagaimana para pegawai pria dan kolega bisnisnya yang menatap Cahaya dengan kekaguman.


"Yan, bukannya itu Nayla..." ucap Bisma saat melihat Nyala ada didepan pintu hotel.


"Aku yang mengundangnya..." ucap Ryan.


"Oh..."


Saat mobil berhenti Cahaya lebih dulu keluar dari dalam mobil, Barulah Ryan. Bisma dan Cahaya berjalan dibelakang Ryan, mereka mengikuti Ryan yang menghampiri Nayla.


"Kakak kenapa lama sekali? Capek tahu..." ucap Nayla dengan gaya manjanya.


Nyala yang melihat Cahaya tampak sangat berbeda membuat dia semakin kesal dengan sengaja dia langsung memeluk lengan Ryan. Nyala ingin menunjukkan kepada Cahaya kalau Cahaya tidak layak berdiri di samping Ryan.


Ryan bukannya menolak, malah tersenyum pada Nyala.


Saat mereka masuk semua mata tertuju pada mereka, para wanita banyak mengagumi sosok Ryan dan Bisma. Sedangkan para pria menatap sosok Cahaya, yang tampak sangat memukau dimata mereka.


"Apa kamu tidak berniat ingin berjalan disampingnya?" bisik Bisma pada Cahaya.


"Tidak...." jawab Cahaya singkat sambil melihat bagaimana Nayla yang tampak sangat bahagia bisa berjalan disampingnya Ryan.


"Terimakasih Mr. Steven atas kedatangannya..." ucap Ryan sambil berjabat tangan.


"Seharusnya saya yang sangat berterimakasih kepada anda karena sudah mengundang saya" ucap pria itu dengan ramah.


"Apa ini is...."


"Bukan. Dia adik saya..." ucap Ryan sebelum Mr Steven menyelesaikan ucapannya. Nayla yang tadi sudah sangat bahagia karena Mr Steven mengatakan kalau dia istrinya Ryan, langsung kecewa karena Ryan langsung menyanggahnya.


Mendengar penjelasan Ryan, Mr Steven hanya mengangguk kepalanya sambil tersenyum. Kemudian Mr Steven menatap Cahaya dengan tersenyum bahagia, dari awalnya sebenarnya dia sudah sangat terpesona dengan Cahaya. Tapi dia berusaha untuk mengendalikan dirinya karena tidak ingin tidak sopan dengan Ryan, pemilik acara pesta yang dihadirinya.


"Apa kabar nona Cahaya? Kita bertemu lagi..." ucap Mr Steven sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Cahaya.

__ADS_1


"Kabar baik Mr..." ucap Cahaya sambil membalas uluran tangan Mr Steven.


Ryan sebagai seorang pria pastinya tahu kalau saat ini kliennya itu dari awal sudah tertarik dengan Cahaya. Ryan yang tampak semakin kesal langsung menarik tangan Nayla untuk melepaskannya.


"Maaf Mr Steven saya perlu bicara dengan sekertaris saya...." ucap Ryan sambil menatap tajam Cahaya. Bisma yang mengerti langsung menahan Nayla untuk tidak mengikuti Ryan.


"Tentu saja Mr...." ucap Mr Steven dengan pandangannya tidak pernah lepas dari Cahaya.


"Permisi sebentar Mr..." ucap Cahaya sebelum mengikuti Ryan dari belakang.


Kedua orangtuanya Ryan yang melihat Cahaya mengikuti putranya menyuruh Richard dan Jessie mengikuti mereka dari belakang. Mereka ingin tahu kenapa tampang putranya sangat berbeda.


-


-


Kini Cahaya dan Ryan berada di salah satu kamar hotel, karena hanya mereka berdua saja yang didalam membuat Cahaya sangat gugup.


"Maaf pak, apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya?" tanya Cahaya dengan gugup.


"Kenapa kamu memakai baju yang seperti itu?" tanya Ryan dengan dingin.


"Baju?" Cahaya yang belum mengerti mengernyitkan dahinya.


"Ya! Apa kamu sengaja memakai baju yang seperti ini? Lihat kamu membuat semua pria menatap mu! Apa kamu sengaja memakai model baju yang seperti ini? Kamu ingin menggoda mereka? Aku tidak menyangka kalau wanita yang ku nikahi wanita ******! Aku sangat yakin kalau sudah banyak pria yang menyentuh tubuh mu" teriak Ryan dingin.


Sungguh sakit hati Cahaya mendengar ucapan Ryan tentang dirinya. Cahaya tidak menyangka Ryan berpikir seperti itu tentangnya.


"Aku sangat menyesal telah menyetujui menikahi wanita seperti mu..." ucap Ryan lagi. Setelah mengatakan hal itu Ryan berniat untuk pergi meninggalkan Cahaya yang masih mematung.


"Berhenti...." Ryan langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar teriakkan Cahaya padanya untuk berhenti.


Cahaya memutarkan tubuhnya, lalu berjalan mendekati Ryan dengan sekuat tenaganya karena saat Ryan mengucapkan hatinya, kakinya terasa sangat lemas. Kini Cahaya berdiri di hadapan Ryan dengan menatap Ryan penuh kekecewaan.


"Aku tidak menyangka kalau kamu berpikir seperti itu tentangku...." ucap Cahaya dengan tersenyum, Cahaya tidak ingin kelihatan lemah dihadapan Ryan.

__ADS_1


"Aku akan memberikan mu sebuah rahasia, rahasia yang tidak pernah ada yang tahu tentang ku. Kamu mau tahu kenapa aku tidak marah karena ucapan mu?" Cahaya mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Ryan, dengan lembut Cahaya mengelus pipi Cahaya.


"Karena ucapan itu sangat benar. Dulu aku wanita ******, aku menyerahkan kesucian ku dengan pria yang sangat ku cintai. Aku tidak menyangka kalau dia menganggap ku wanita ******. Jadi karena kamu mengatakan kalau aku wanita ******, aku akan menunjukkan pada mu sebagaimana ******nya aku" ucap Cahaya sambil tersenyum.


"Aku tidak akan menyesal karena kamu menikmati tubuh ku, karena dari awal tubuh ku sudah rusak!" ucap Cahaya. Mendengar ucapan Cahaya membuat Ryan menahan emosinya. Dengan kasar Ryan menghempaskan tangan Cahaya dari wajahnya.


Bukannya marah, Cahaya malah tertawa dan yang paling mengejutkan adalah Cahaya membuka bajunya dihadapan Ryan.


"Apa yang kamu lakukan?" Tentu saja Ryan tampak gelisah karena melihat tubuh Cahaya yang hanya ditutupi dengan pakaian dalam. Ryan seorang pria yang sangat normal, pastinya melihat tubuh wanita yang polos akan membuat hasratnya naik.


"Kenapa? Bukannya aku wanita ******? Aku akan menunjukkan padamu, bagaimana cara ku melayani pria-pria yang diluar sana" ucap Cahaya sambil berjalan melangkah mendekati Ryan.


Kini tubuh cahaya tidak tertutupi sehelai benang, sungguh membuat dibawah tubuh Ryan sudah memberontak. Karena hasratnya yang sudah tidak bisa dikendalikannya, Ryan langsung menerkam Cahaya.


-


-


Andini dan Rudi tampak senyum bahagia karena mendengar dari Jessie dan Richard kalau Putra mereka membawa Cahaya masuk kedalam salah satu kamar hotel mereka. Apalagi sudah satu jam lebih Ryan dan Cahaya belum kembali ke ruangan pesta.


"Ma, sebentar lagi kita akan punya cucu..." ucap Rudi dengan bahagia.


"Benar, pa. Seharusnya kita sudah mempunyai cucu, kalau..." ucap Andini dengan sendu.


"Sudahlah ma, lupakan semuanya. Kita harus menatap ke depan" ucap Rudi sambil merangkul pundak Andini.


-


-


Didalam kamar mandi Cahaya meringkuk tubuhnya dengan menangis dibawah guyuran shower. Sedangkan Ryan tampak menyesali perbuatannya, dia mengacak rambutnya.


"Ah sial! Kenapa aku tidak bisa menahan diriku!" ucap Ryan dengan penuh penyesalan.


Ryan kembali teringat kalau Cahaya tidak lagi suci membuat rahangnya mengeras, dia tidak menyangka kalau ucapan Cahaya benar. Dia mengira kalau ucapan Cahaya hanyalah emosi saja.

__ADS_1


****


__ADS_2