IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Mencari tahu apa yang terjadi pada Ryan


__ADS_3

Cahaya menatap kearah Bisma yang berjalan mendekatinya. Sedangkan Kevin memilih untuk duduk di sofa yang ada dalam kamar rawat inap Cahaya.


"Kamu ingin tahu kenapa dia semakin kurus dan pucat seperti itu?" Cahaya hanya diam saja mendengar pertanyaan Bisma padanya.


"Semuanya berawal dari kamu pergi meninggalkannya...." ucap Bisma lagi.


"A.. apa maksud mu?"


"Setelah mengetahui kamu pergi, Ryan terus mencari keberadaan mu. Dia tidak pernah memikirkan kesehatannya, setiap dia pulang bekerja maka dia akan pergi mencari keberadaan mu. Kalau dia sudah sibuk dengan pekerjaannya dan mencari keberadaan mu, dia lupa kalau dia belum makan dan nafsunya untuk makan mulai berkurang. Setiap kota di Indonesia sudah dikelilingi nya untuk mencari keberadaan mu. Apa kamu tahu saat dia mendengar tentang keberadaan mu, dia langsung pergi. Padahal dia sedang sakit, tapi dia tidak memperdulikannya. Dia mengatakan rasa sakit dalam tubuhnya sudah menghilang." jelas Bisma dengan panjang lebar.


"Setiap malam dia selalu berdoa supaya kamu mau memaafkannya saat kalian bertemu. Ternyata tidak, kamu mengusirnya begitu saja tanpa mau menatap matanya yang benar-benar sungguh meminta maaf pada mu" sambung Bisma lagi.


Cahaya yang mendengar hal itu membuat hatinya sangat perih. Dia tidak menyangka kalau Ryan mencarinya selama ini. Karena merasa dia sudah terlalu lama meninggalkan Ryan sendiri, Bisma berniat untuk kembali ke ruangan Ryan.


"Kapan ingatannya kembali?" tiba-tiba Cahaya memberikan pertanyaan kembali sebelum Bisma meninggalkan ruangannya.


Bisma yang berniat untuk pergi, menghentikan langkahnya dan memutarkan tubuhnya menghadap Cahaya yang sudah duduk tegak di atas tempat tidur.


"Aku yakin kamu tahu malam itu dia mengalami kecelakaan. Di malam itulah dia mengingat semuanya...." ucap Bisma.


"Jika kamu ingin tahu lebih lagi, kamu bisa bertanya langsung padanya. Kumohon tolong maafkan dia, aku tahu dia melakukan kesalahan besar terhadap mu." sambung Bisma.


-


-


Sepanjang perjalanan pulang Kiara terus-menerus menangis. Dia tidak menyangka kalau Cahaya yang dikenalnya adalah putri yang dicarinya selama ini. Putri dari suami pertamanya, suami yang tidak pernah direstui Keluarganya.


Nayla yang baru saja pulang dari Singapura tampak bingung melihat mamanya terusan menangis. Nayla menyusul kedua orangtuanya ke Indonesia. Saat dia bertanya pada papanya, papanya hanya geleng kepala saja. Tak ada satupun yang mau menjelaskan padanya.


Nayla yang merasa kalau papanya lagi sibuk mengurus mamanya memutuskan untuk pergi ke perusahaan Ryan, karena itu kesempatan baginya untuk bertemu dengan Ryan. Sejak kejadian di negara N, papanya membawanya kembali ke Singapura. Dia tidak diperbolehkan lagi untuk menemui Ryan.


"Apa maksud kalian?" Nayla tampak sangat kesal karena tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam perusahaan.


"Maaf, nona ini semua atas perintah dari pak Rudi" ucap satpam yang menghalangi Nayla masuk.


"Ah, sial. Ternyata om Rudi benar-benar melakukannya" ucap Nayla kesal.

__ADS_1


-


-


"Apa yang harus ku lakukan pa? Selama ini aku menyakitinya dan menghinanya. Aku sangat yakin kalau dia sangat membenci ku" ucap Kiara sambil menangis.


"Aku yakin dia sudah memaafkan mu..."


Aku ingin bertemu dengannya, pa....A.. aku ingin memeluk putriku..."


"Kita akan bertemu dengannya. Aku sudah menyuruh orang kita untuk mencari keberadaannya" Kiara hanya mengangguk kepalanya sambil menangis.


-


-


Cahaya tampak merenung apa yang dikatakan Bisma padanya. Kevin hanya diam saja menatap Cahaya yang terus saja diam.


"Mau kemana kak Aya?" tanya Kevin saat melihat Cahaya bangun dari tidurnya.


"Ke kamar Ryan. Jangan halangi aku" ucap Cahaya dengan tegas.


Kini Cahaya berada di dalam ruangan Ryan. Melihat wajah pucat Ryan. Bisma dan Kevin memilih untuk menunggu diluar. Saat hanya mereka tinggal berdua yang ada dalam ruangan.


"Bagaimana dengan keadaan mu?" tanya Cahaya setelah hanya mereka berdua didalam ruangan.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja" jawab Ryan dengan menampilkan senyumnya. Ryan sangat bahagia karena Cahaya mau bertemu dengannya.


"Baiklah kalau kamu baik-baik saja, aku akan kembali ke ruangan ku" ucap Cahaya dingin.


Melihat Cahaya memutarkan tubuhnya, Ryan langsung bangun dari tidurnya.


Bugh...


Cahaya langsung memutarkan kursi rodanya saat mendengar suara jatuh.


"Astaga Ryan..." Cahaya sangat terkejut Ryan ada di atas lantai. Cahaya berusaha untuk membantu Ryan untuk bangun.

__ADS_1


"Tolong jangan pergi..." ucap Ryan dengan lemah.


Karena dirinya duduk dengan kursi roda membuat Cahaya susah untuk membantu Ryan kembali ke atas tempat tidur.


"Kevin..." Kevin dan Bisma yang mendengar suara teriakan Cahaya langsung masuk kedalam.


"Astaga Ryan..." gumam Bisma dengan kesal. Bisma dan Kevin dengan cepat membantu Ryan untuk kembali ke tempat tidurnya. Cahaya tampak sangat kesal karena Ryan bertindak dengan gegabah.


Setelah membantu menaikkan Ryan ke tempat tidur, Bisma dan Kevin memilih kembali keluar. Cahaya mengarahkan kursi rodanya untuk mendekati Ryan.


Plak..plak...


Cahaya memukuli pahanya Ryan dengan tangannya, dia sangat kesal karena Ryan bertindak gegabah seperti itu.


"Aw..." Ryan langsung bangun dari tidurnya dan menangkap tangan Cahaya. Ryan sangat kesakitan karena Cahaya memukulnya dengan terlalu kuat.


"Kamu itu masih sakit. Bagaimana kalau tadi membuat mu terluka? Apa kamu sengaja melakukannya dan membuat kedua orangtuamu menyalahkan ku!" ucap Cahaya kesal.


Bukannya marah karena Cahaya memukulnya, Ryan malah melengkungkan kedua sudut bibirnya ke atas.


"Kenapa kamu malah tersenyum? Aku tidak butuh senyum mu!" ucap Cahaya yang masih kesal.


"Aku sangat senang karena kamu kuatir dengan ku" ucap Ryan dengan tersenyum.


"Si..apa yang kuatir. Aku begini karena takut kalau kedua orangtuamu akan meminta pertanggungjawaban dari ku" elak Cahaya, padahal sebenarnya saat melihat Ryan jatuh Cahaya sangat kuatir.


Dia takut Ryan tambah terluka. Ryan hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Cahaya, dia sangat tahu kalau saat ini ucapan Cahaya sebaliknya. Setelah beberapa detik Cahaya menyadari kalau tangannya di genggam Ryan. Cahaya yang ingin menarik tangannya untuk dilepaskan, malah merasa genggaman tangan Ryan semakin kuat.


"Tolong maafkan aku..." ucap Ryan dengan lirih. mendengar ucapan Ryan, Cahaya menghentikan usahanya untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ryan. Cahaya menutup matanya lalu menghela nafasnya. Setelah merasa pikirannya tenang, Cahaya menatap Ryan dengan lembut.


"Aku sudah memaafkan mu, hanya saja aku belum bisa melupakannya" ucap Cahaya dengan lembut.


Mendengar ucapan Cahaya membuat Ryan langsung melepaskan tangan Cahaya. Hatinya sangat Sakit karena Cahaya belum bisa melupakan apa yang dilakukannya.


"Bisakah kamu memberikan ku waktu?" tanya Cahaya dengan lembut.


"Aku akan menunggu mu sampai kapanpun. Aku tahu kesalahan ku sangat besar. Sekali lagi maaf kan aku" sekali lagi Ryan mengucapkan kata maaf pada Cahaya.

__ADS_1


****


__ADS_2