
Seperti yang sudah dijanjikan Cahaya, dia tidak akan pernah lupa dengan tugasnya sebagai istri dan seorang ibu.
"Sayang mandilah, air hangatnya sudah ku siapkan" ucap Cahaya sambil menggendong baby Ezra.
"Kita mandi bareng saja...." ucap Ryan sambil memeluk erat Cahaya dari belakang.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan urus putra kita dulu" Ryan mengangguk kepalanya.
"Bagaimana pekerjaan mu? Apa kamu mengalami kendala?" tanya Ryan sambil membantu istrinya.
"Tidak. Oh, ya sayang aku ingin berdiskusi dengan mu tentang restoran.
"Oke, sayang...."
Cup...
"Hai, boy.... Jagoan papa sudah harum...." Ryan tampak sangat gemas dengan putranya itu.
"Jangan menciumnya, kamu belum mandi...." ucap Cahaya dengan tersenyum.
Cup...
"Ish... Kamu ini..." Cahaya mengeluh karena tiba-tiba Ryan mengecup bibirnya tiba-tiba.
"Kamu melarang ku untuk menciumnya, jadi aku mencium mama nya saja..." Cahaya hanya tersenyum saja mendengar ucapan Ryan.
"Tunggu sebentar, aku akan menyerahkan Ezra pada Jeje" Ryan mengangguk kepalanya.
Setelah Cahaya kembali ke dalam kamar, Cahaya sangat terkejut karena Ryan langsung menyerangnya. Cahaya yang juga sangat merindukan suaminya, langsung mengikuti permainan Ryan. Di sore hari itu mereka lalui dengan penuh kehangatan. Setelah satu jam melepaskan kerinduan mereka, barulah mereka membersihkan mereka. Ryan adalah Ryan, Ryan tidak akan pernah puas melakukannya sekali saja, akhirnya hanya untuk mandi saja menghabiskan waktu satu jam.
-
-
"Kamu...." Nayla sangat terkejut melihat pria yang menolongnya.
"Apa nona mengenal saya?" tanya pria itu dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Nayla mengangguk kepalanya dengan tersenyum. Nayla tidak menyangka kalau yang menolongnya adalah pria yang selama ini dia cari. Pria yang pernah menghiburnya disaat dia terpuruk beberapa bulan yang lalu.
Saat pria itu ingin menanyakan lebih detailnya, rombongan polisi datang. Pria itu lah yang langsung menjelaskan apa yang terjadi pada Nayla.
"Nona, bisakah anda ikut bersama kami untuk menulis laporan?"
"Baik, pak!"
"Tuan, anda juga harus ikut. Karena kami juga perlu mencatat keterangan anda!"
"Baik, pak."
"Kalau begitu silahkan ikut bersama kami" ucap Polisi itu pada Nayla dan pria itu.
"Saya dan nona ini bawa mobil saya saja pak." ucap pria itu.
"Bagaimana dengan mobil ku?" Nayla tidak ingin meninggalkan mobilnya begitu saja di jalan yang sangat sepi.
"Biar salah satu anggota saya yang akan membawa ke kantor polisinya, nona"
"Terimakasih, pak..."
"Ini sapu tangan, anda...." ucap Nayla sambil menyodorkan saputangan yang diambilnya dari dalam tasnya.
"Saputangan?" Pria itu mengerutkan keningnya.
"Iya, apa anda masih ingat wanita yang nangis sendirian di taman x?" Pria itu langsung tampak memutarkan otaknya untuk mengingat kembali apa yang dikatakan Nayla.
"Jagan katakan gadis cengeng itu adalah anda ...." ucap pria itu dengan mengkerutkan keningnya.
Plak...
"AW ... Kenapa nona memukul saya?" pria itu mengkerutkan keningnya karena Nayla memukulnya tiba-tiba.
"Aku bukan gadis cengeng. Aku menangis karena meratapi nasib cintaku saja" ucap Nayla kesal.
"Hahaha. Sama saja, nona. Kenapa harus nangis hanya karena cinta saja"
__ADS_1
"Hei, setiap wanita yang gagal dengan kisah cintanya pasti nangis" ucap Nayla ketus.
"Baiklah, maaf kan saya. Sekarang katakan apa hubungan nona dan pria itu sudah baik-baik saja?" Nayla langsung menggeleng kepalanya, sebelum memalingkan wajahnya ke jendela.
"Awalnya aku sangat marah karena pria yang ku cintai lebih memilih untuk tetap setia pada istrinya" ucap Nayla. Mendengar itu Pria itu langsung mengkerut keningnya. Setelah mengatakan hal itu Nayla kembali menatap pria itu.
"CK... Aku tahu kamu pasti sangat terkejut mendengar hal itu. Apa kamu tahu pria itu adalah cinta pertama ku. Saat pria itu datang ke rumah ku, aku berpikir kalau dia akan melamar ku. Ternyata aku salah dia melamar kakak ku. Tentu saja aku terkejut, meskipun dia dan kakak ku di jodohkan aku sangat tahu kalau dia tidak mencintai kakak ku. Apa kamu tahu ingin sekali aku membatalkannya, tapi melihat kakak ku sangat bahagia dan mengetahui kalau kakak ku sudah mencintai pria itu sejak lama sebelum aku jatuh cinta dengan pria itu, akhirnya aku mengalah. Aku membiarkan mereka mereka menikah. Sampai akhirnya kakak ku yang sudah sakit-sakitan menikahkan suaminya dengan perempuan yang tidak jelas asal-usulnya" pria itu terus melirik Nayla.
"Setelah kakak ku meninggal, rasa cinta ku tumbuh kembali. Aku yang tidak ingin kehilangan cintaku, akhirnya aku memutuskan untuk mendapatkannya dengan cara apapun. Sampai akhirnya aku mengetahui kalau wanita yang dinikahinya adalah kakak ku yang telah lama dicari mama ku. Kami hanya berbeda ayah, saja. Aku sangat mengenal mamaku, dia tidak akan pernah sanggup melihat putrinya menderita. Karena itu saat mama ku sudah dekat dengan kakak ku, aku memanfaatkan kasih sayang mama ku. Aku meminta mama ku untuk membujuk kakak ku mengijinkan aku menjadi madunya." ucap Nayla sambil menoleh pandangannya ke arah Pria itu.
"Aku tidak menyangka kalau nona akan melakukan hal itu dan sepertinya aku sudah bisa menebak kalau pria itu menolak anda." Nayla mengangguk kepalanya.
"Ya, begitu lah. Dihari itu aku mendapatkan jawaban dari pria itu dan keluarganya kalau mereka tidak akan pernah setuju menjadi kan bagian keluarga mereka."
"Sekarang apa kamu masih mengharapkannya?" Nayla menggeleng kepalanya.
"Itu berarti kamu sudah menghapus cinta mu?"
"Aku tidak tahu untuk hal itu. Karena sampai sekarang saja aku belum sanggup untuk kembali berjumpa dengannya. Aku hanya ingat dengan apa yang kamu katakan waktu itu!"
"Aku? Memangnya apa yang ku katakan?"
"Kamu mengatakan kalau kami memang jodoh, pasti Tuhan akan menunjukkan jalannya. Sejak saat itu aku baru menyadari kalau kami memang tidak jodoh, buktinya Tuhan tidak pernah sekalipun memberikan ku jalan untuk mendapatkan cinta ku"
"CK... Ternyata kamu mendengar ucapan ku itu! Padahal aku sangat ingat kalau kamu mengusir ku dan meminta untuk tidak ikut campur..."
"Hei, itu karena aku sangat emosi..." ucap Nayla kesal.
"Iya...Iya... Sekarang lebih kita turun dulu, Kita sudah sampai." Nayla mengangguk kepalanya.
Nayla dan pria itu memberikan segala keterangan yang mereka alami. Nayla sangat bersyukur karena pria yang menolongnya itu terus mendampinginya sampai selesai.
"Oh, iya kita belum berkenalan nama saya Kevin" ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.
"Nayla..."
Ternyata pria itu Kevin, adik angkatnya Cahaya. Kevin merasa sangat familiar dengan nama Nayla dan wajah Nayla mengingatkan dirinya dengan sosok Cahaya. Hanya saja rambut Nayla agak ikal dan panjang, sedangkan Cahaya lurus.
__ADS_1
Kevin memutuskan untuk mengantarkan Nayla mengikuti Nayla dari belakang sampai Nayla pulang. Setelah memastikan Nayla aman, barulah Kevin melajukan mobilnya menuju rumahnya. Semenjak dia pulang ke mengikuti Cahaya pulang, Ryan meminta Kevin untuk tinggal di apartemen miliknya. Karena Ryan dan Cahaya tinggal di kediaman orangtuanya Ryan.
*****