IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Rencana kembali bekerja


__ADS_3

Nayla langsung mengehentikan makannya dan langsung bangkit berdiri dan mengambil tasnya.


"Ma, pa aku keluar sebentar ya..." ucap Nayla.


"Cepat kembali, Nay!" ucap Renaldo dengan tegas.


"Ia, pa..."


Nayla langsung mengejar pria yang beberapa bulan ini selalu ada dalam pikirannya. Nayla selalu berharap akan bertemu lagi dengan pria yang memberikan dia sapu tangan dan memberikan menghiburnya saat dia butuh dihibur. Apalagi ucapan pria itu membuat Cahaya menyadari kesalahannya dan mencoba untuk mengikhlaskan kalau Ryan bukanlah jodoh untuknya.


Saat pria itu ingin masuk kedalam mobil, Nayla langsung berteriak untuk mengehentikan pria itu.


"Hei, tunggu sebentar..." teriak Nayla.


"Ah, sial kenapa dia tidak mendengar sih!" Nayla tampak sangat kesal karena pria itu tetap masuk kedalam mobil. Nayla langsung berhenti lari karena mobil itu melaju dengan cepat.


Nayla yang tidak ingin kehilangan jejak pria itu, langsung mencatat plat nomor mobil pria itu. Berharap dengan plat mobil itu dia bisa menemukan pria itu.


-


-


"Siapa yang kamu kejar, Nay?" tanya Renaldo saat melihat putrinya kembali dengan kusut. Ternyata Renaldo dan Kiara melihat putri mereka mengejar seorang.


"Oh, itu pria yang pernah menolong Nayla dulu..."


"Menolong?


"Iya, pa."


"Memangnya kamu pernah kecelakaan?" Nayla menggeleng kepalanya.


"Jadi?" tanya Kiara dengan menatap putrinya yang kini tampak senyum-senyum.


"Ada saja, papa dan mama tidak perlu tahu. Oh, ya apa kita sudah bisa pulang? Nay, ngantuk..."


"Baiklah. Lagian papa dan mama sudah selesai makannya"


-


-


"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Cahaya yang baru saja kembali dari kamar putranya, melihat suaminya masih sibuk dengan laptopnya.


"Apa Ezra sudah tidur?" tanya Ryan balik, tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


"Sudah, dia sama dengan kamu. Susah banget disuruh untuk tidur" ucap Cahaya sambil merebahkan kepalanya di bahu Ryan. Ryan hanya tersenyum saja mendengar keluhan istrinya.


"Sayang apa bagaimana kalau kita liburan?"


"Liburan?"


"Ya, aku ingin membawa mu dan putra kita jalan-jalan. Saat ini putra kita sudah bisa untuk jalan-jalan. Kemana saja yang kalian mau..."

__ADS_1


"Benarkah? Kalau kita liburan, bagaimana dengan pekerjaan mu?"


"Semua pekerjaan yang penting sudah aku siapkan. Jadi untuk sementara Bisma dan Cerry yang akan menghandle perusahaan." Cahaya langsung memeluk Ryan.


"Katakan kamu mau kemana?" tanya Ryan sambil mengelus rambut Cahaya dengan lembut.


"Aku tidak tahu, kamu saja yang tentukan..."


"Baiklah kalau begitu bagaimana kalau kita ke Bali?"


"Oke..." Cahaya setuju dengan usulan yang diajukan Ryan pada mereka.


"Sayang saat putra kita satu tahun nanti, apa aku bisa kembali bekerja?" Mendengar hal itu Ryan langsung menarik istrinya untuk melepaskan pelukannya.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Kamu tahu sendiri dari dulu aku selalu bekerja keras. Tapi kalau kamu tidak setuju aku tidak akan memaksakan mu untuk mengijinkan ku kembali bekerja..." Ryan malah mendekati wajahnya dengan Cahaya, sehingga kini jarak mereka hanya beberapa centi.


Cup....


Ryan mengecup bibir istrinya dengan singkat.


"Apa aku mengatakan kalau aku tidak setuju?" Cahaya membulatkan matanya.


"Aku akan mendukung apapun yang kamu inginkan, hanya saja kamu tidak melupakan tugas mu sebagai istri dan seorang ibu..." mendengar itu membuat Cahaya sangat bahagia.


Cup...cup..cup..


Cahaya mengecup pipi kiri kanan dan bibir Ryan dengan tersenyum bahagia.


"Terimakasih..."


"Aku takut kalau aku tidak bisa, karena aku tidak punya pengalaman untuk mengurus restoran"


"Aku yakin kamu bisa. Kamu tenang saja akan ada seseorang yang akan membantu mu. Dalam waktu singkat kamu pasti bisa membawa restoran itu bangkit kembali"


"Baiklah, aku akan mencobanya. Jika aku gagal, apa kamu akan marah?"


"Hahaha. Tentu saja tidak sayang, tapi aku yakin kamu pasti bisa"


"Aku janji tidak akan mengecewakan mu...


Cup...


"Sekarang aku minta imbalannya karena mengijinkan mu bekerja" ucap Ryan dengan tersenyum penuh arti.


Cahaya yang mengerti langsung mendorong tubuh Ryan dan langsung naik ke atas tubuh Ryan. Tentu saja membuat Ryan bahagia, malam ini Ryan membiarkan istrinya yang menguasai dirinya.


-


-


-


Kini seluruh keluarga Aditama berkumpul untuk sarapan bersama. Hal ini merupakan rutinitas yang biasa mereka lakukan.

__ADS_1


"Ryan, kapan kalian berangkat ke Bali?" tanya Rudi sambil menikmati makanannya.


"Dua hari lagi, pa..."


"Baiklah, papa akan membantu Bisma untuk mengurus perusahaan. Kalian bersenang-senang lah."


"Terimakasih, pa..."


"Apa kalian yakin akan membawa Ezra? Mama bisa loh untuk menjaganya, lagian kalian belum pernah berbulan madu. Jadi kalian bisa menganggap untuk liburan ini, sebagai bulan madu kalian..." ucap Andini.


"Tidak, ma. Aku ingin membawa istri dan putra ku untuk liburan, mumpung aku lagi tidak sibuk. Kalau masalah bulan madu kami, kami sudah sepakat akan melakukannya setelah usia Ezra satu tahun." ucap Ryan sambil menggenggam tangan Cahaya.


"Baiklah. Tapi kalian harus membawa Jeje supaya ada yang membantu kalian untuk mengurus Ezra."


"Iya, ma...."


-


-


-


"Sayang apa tidak sebaiknya setelah putra kita satu tahun, aku bekerja?" tanya Cahaya yang sambil memasang dasi Ryan.


Saat mereka sarapan pagi tadi, Ryan mengutarakan pada kedua orangtuanya kalau Cahaya mulai hari ini akan membantunya mengurus restoran miliknya yang sudah beberapa bulan sangat kacau. Kedua orangtuanya Ryan langsung mengijinkannya, karena mereka sangat yakin kalau menantunya dapat melakukannya.


"Kenapa harus ditunda sayang. Kalau masalah putra kita, kamu bisa membawanya dan Jeje. Jadi kalau kamu sedang bekerja, Jeje yang bisa membantu mu untuk menjaga putra kita."


"Tapi..."


Cup...


Ryan mengecup bibir Cahaya untuk menghentikan ucapan Cahaya.


"Sekarang kamu harus siap-siap. Sebelum aku perusahaan, aku harus memperkenalkan mu pada mereka semua. Bisma sudah menunggu kita" Cahaya mengangguk kepalanya.


Hanya butuh sepuluh menit Cahaya sudah tampak sangat rapi karena Cahaya tidak suka berdandan yang berlebihan. Saat mereka keluar dari kamar mereka, mereka melihat putra mereka juga sudah tampak sangat tampan.


"Biar saya saja yang menggendongnya Je, kamu bawa tasnya saja...." ucap Cahaya pada baby sitter Putranya.


"Baik, nya.."


Saat mereka turun kebawah, mereka melihat Bisma sudah menunggu mereka dibawah. Seperti biasa Bisma menyambut mereka dengan menundukkan kepalanya sedikit.


"Apa kamu sudah menghubunginya?" tanya Ryan pada Bisma setelah mereka turun.


"Sudah, pak. Riki sudah menyiapkan semuanya..."


"Baiklah...." Setelah berbicara dengan Bisma, Ryan menghampiri istrinya yang lagi mengobrol dengan mama dan papanya.


"Sayang sudah siap?"


"Sudah. Ma, pa kami pergi dulu ya..." ucap Cahaya sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya.

__ADS_1


****


__ADS_2