
Cahaya tampak bingung melihat Nancy yang seperti gelisah.
"Kenapa dengannya?" Tanya Cahaya dengan bingung.
"Tidak apa-apa sayang. Mungkin dia lagi tidak enak badan" ucap Ryan dengan tersenyum.
"Mungkin, juga. Oh, ya aku ke tempat mama dulu lihat Ezra" ucap Cahaya.
"Sama-sama sayang. Sekalian kita minta ijin pada mama dan papa kalau kita pulang lebih dulu. Tidak baik untuk putra kita angin malam. Lagian banyak para tamu yang sudah berpulangan" Cahaya mengangguk kepalanya.
-
-
Nayla sangat kaget melihat Kevin sibuk dengan hpnya sedang bersandar di dinding yang tidak jauh dari tempat toilet.
"Apa yang dilakukannya di sana?" gumam Nayla sambil menatap Kevin.
"Apa urusan ku juga tentangnya. Lebih aku pura-pura tidak tahu saja, jika dia memanggilku lebih pura-pura tidak mendengar saja!" gumam Nayla lagi.
"Apa kamu tidak membutuhkan tas dan hp mu lagi?" Mendengar ucapan Kevin membuat Nayla langsung mengehentikan langkahnya, sangat berbeda dengan rencananya. Dengan gugup Nayla menolehkan kepalanya ke Kevin.
"Tas ku..." Nayla langsung berlari mendekati Kevin dan mengambil tasnya dan hp nya dari tangan Kevin.
"Terimakasih. Untung saja kamu bersama mu, kalau tidak mungkin isi dan hp ku sudah lenyap" ucap Nayla sambil memeluk tasnya.
"Apa aku hanya mengucapkan kata terimakasih saja?" Nayla langsung menatap Kevin dengan tatapan tajam.
"Ku kira kamu ikhlas. Ya, sudah katakan kamu mau minta imbalan apa?" ucap Nayla dengan ketus.
"A..apa yang kamu lakukan?" tanya Nayla gugup karena tiba-tiba Kevin membuat jarak antara wajah mereka beberapa centi.
"Apa kamu akan mengabulkan yang ku minta?" tanya Kevin sambil menatap mata Nayla.
"I..ya.."
"Baiklah, besok aku akan hubungi mu setelah aku tahu apa yang ingin ku minta"
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Aku belum tahu mau minta apa dari mu..." Nayla tampak sangat gugup karena Kevin terus menatapnya. Kevin yang merasa puas setelah menggoda Nayla, Kevin menegakkan tubuhnya.
"Baiklah aku kembali ke dalam dulu. Jeje sudah menunggu ku" ucap Kevin dengan santainya.
Mendengar nama Jeje membuat hatinya Nayla terasa tertekan. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca melihat punggung Kevin yang mulai menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
-
-
Nayla keluar dari dalam kamarnya dengan wajah kusud. Satu malam Nayla tidak bisa tidur karena memikirkan kenapa sikap Kevin tampak sangat berbeda.
"Nay, kenapa wajah nya kusud begitu? Kamu pasti tidak tidurkan?" ucap Kiara saat melihat wajah kusud Nayla yang ingin minum.
"Ma, papa dimana?" tanya Nayla tanpa menjawab pertanyaan mamanya.
"Masih di kamar" Nayla mengangguk kepalanya.
"Ma, apa mata seperti mata panda?" Kiara mengangguk kepalanya.
"Kenapa? Pasti ada yang kamu pikirkan."
"Tidak. Oh, ya ma aku ke mau tempat kak Nayla ya..."
"Ia... Oh ya papa dan mama mau ke kota B dengan om Rudi dan Tante Andini, kamu mau ikut?"
"Tidak. Kak Cahaya mengajak aku ntar sore ada acara di restoran kak Ryan"
"Kalau begitu kamu menginap di rumah mereka saja. Mama dan papa tidak tahu apa langsung pulang atau menginap di sana."
"Lihat saja nanti, ma...." ucap Nayla sambil berjalan kearah kamarnya.
-
-
"Si..apa kamu?"
"Apa kamu tidak ingat dengan ku? Ayolah sayang jangan katakan kalau kamu juga lupa apa yang telah kita lakukan semalam?"
"A..pa maksud mu. Menyingkir dari hadapan ku!" ucap Nancy sambil mendorong pria itu untuk menjauhinya.
Dengan senyum liciknya Pria itu langsung menarik Nancy untuk tidak turun dari tempat tidur. Pria itu langsung menimpa tubuh Nancy dan menahan kedua tangannya Nancy ke atas kepala Nancy.
"Lepaskan aku. Aku mau pulang!" ucap Nancy emosi.
"CK... Aku tahu kamu sudah sering melakukannya dengan pria yang diluar. Jadi anggap saja aku ada klien mu..."
"Apa kamu pikir aku memberikan tubuh ku pada pria sembarangan? Lepaskan aku..."
"Tidak akan. Dengar kamu lah yang lebih dulu memasak ku untuk melakukannya. Aku belum puas dengan semalam yang kita lakukan, karena kamu melakukannya dengan keadaan tidak sadar. Jadi sekarang kita akan bermain dengan dirimu yang sadar"
__ADS_1
"Tidak akan. Lepaskan aku, aku tidak hanya akan melakukannya dengan pria yang membuat ku tertarik. Dan kamu bukanlah salah satu dari pria yang menarik bagiku!"
"Baiklah, aku akan membuat mu tertarik dengan permainan ku. Aku akan menunjukkan pada mu, permainan ku aku akan membuat suka..."
Tanpa bicara lagi pria itu langsung melakukan yang diinginkannya. Nancy selalu berusaha untuk memberontak, tapi tenaganya kalah besar dari pria itu. Nancy merasakan sangat Sakit di seluruh tubuhnya karena pria itu Melakukannya dengan sangat kasar. Nancy merasa apa yang dialaminya saat ini karena Cahaya dan Ryan. Nancy memutuskan untuk akan membalas rasa sakit yang dialaminya hari ini.
Sudah empat jam, pria itu terus melakukannya. Nancy sudah berusaha untuk membujuk pria itu untuk berhenti tapi pria itu tidak juga mau berhenti. Pria itu hanya memberikan Nancy jedah lima menit lalu pria itu memaksakan Nancy untuk mengikuti permainannya. Sampai akhirnya Nancy pingsan karena pria itu terus melakukannya.
-
-
Nayla yang lagi menikmati acara kumpul-kumpulnya dengan teman kuliahnya dulu sebelum ke tempat Cahaya.
"Nay, kamu ingat Dodi tidak? Cowok yang dulu suka dengan mu..." ucap Rika, salah satu sahabat Nancy.
"Emm..... Memangnya kenapa?"
"Saat ini dia ada di kota J, dia baru pulang dari negara A. Apalagi yang aku dengar dari pacar ku kalau dia masih suka dengan mu. Kamu mau tidak memberikan dia kesempatan?"
"Tidak akan! Kamu tahu sendiri kan aku tidak suka dengannya. Aku paling membenci pria yang hanya suka bermain dengan banyak wanita"
"Katanya dia melakukan itu karena ingin mencari perhatian mu..."
"Pokoknya aku tidak suka! Jangan bilang kamu mengatakan kalau kita lagi kumpul?" Rika mengangguk kepalanya dengan takut.
Nayla langsung bangkit berdiri dan mengambil tasnya. Kedua sahabatnya langsung berlari mengejar Nayla. Rita memohon pada Rita untuk memberikan Dodi kesempatan. Tapi Nayla langsung menatapnya dengan tajam.
"Jangan pernah mencoba kesabaran ku, Rit!" Rita langsung menghela nafasnya. Saat Nayla ingin masuk kedalam lift, dia melihat Kevin dan Jeje ada dihadapannya. Nayla sangat terkejut melihat Kevin dan Jeje sedang bersama. Apalagi dia melihat Kevin merangkul pundak Jeje.
"Nayla..."
"Nona Nayla..." gumam Kevin dan Jeje bersamaan.
Nayla dan kedua sahabatnya langsung masuk kedalam lift yang sama dengan Kevin dan Jeje. Nayla lebih memilih untuk berdiri membelakangi Kevin dan Jeje. Dia tidak sanggup melihat kedekatan antara Kevin dan Jeje. Ingin sekali Nayla cepat-cepat untuk keluar dari dalam lift, karena dia merasa susah bernafas.
"Nay, kamu kenal dengan mereka?" bisik Naya salah satu sahabat dari Nayla juga.
"Diam lah!" ucap Nayla dengan berbisik.
"Nay, ternyata Dodi tadi mengirimkan pesan, dia sudah ada di mall ini" ucap Rita sambil memainkan ponselnya.
Kevin dan Jeje yang ada di belakang mereka mendengar apa yang dikatakan Rita pada Nayla. Kevin tampak tidak senang mendengar nama pria yang ingin bertemu dengan Nayla. Kevin menduga Nayla ada di mall ingin bertemu dengan dengan seorang pria.
"Nay, bukannya seharusnya kamu ke tempat kan Nayla? Karena kak Nayla tadi mengatakan kalau kamu akan ke restoran, makanya Jeje ijin untuk keluar." ucap Kevin sambil menatap punggung Nayla. Kevin hanya ingin memastikan bahwa dugaannya salah.
__ADS_1
*****