
Kini keluarga Renaldo telah sampai di negara Indonesia kota J. Renaldo dan Nayla langsung menuju perusahaannya karena mereka harus menghadiri rapat penting di perusahaannya, sedangkan Kiara meminta supirnya mengantarkan dirinya ke kediaman keluarga Aditama.
Saat dia sampai depan rumah sahabatnya, dia melihat putrinya dan seorang wanita muda yang lagi mendorong kereta bayi menuju mobil.
"Kamu kelihatan sehat, nak!" gumam Kiara sambil menatap wajah putrinya.
Kiara yang ingin keluar langsung mengurungkan niatnya karena melihat Andini keluar dan ikut bergabung bersama putrinya. Apalagi dibelakang mobil putrinya ada mobil yang lain, Kiara tahu kalau mereka adalah bodyguard untuk putrinya.
"Kita ikuti mereka ya, pak!" ucap Kiara saat melihat mobil putrinya keluar.
Setelah setengah jam perjalanan, mobil yang ditumpangi Cahaya berhenti di depan mall. Kiara juga ikut keluar, karena masih belum puas melihat putrinya.
Melihat kedekatan Cahaya dan Andini membuat Kiara sangat cemburu. Dia juga ingin sekali berbelanja bareng dengan putrinya dan menggendong cucunya. Hampir satu jam lebih dia mengikuti kemana saja putrinya pergi.
Tut...Tut ... Tut ...
"Halo, pa..." Kiara mendapatkan telepon dari Renaldo.
"...."
"Ia, pa...."
Setelah mendapat telepon dari suaminya, Kiara langsung pergi.
"Pak, ada nona Nancy dari PT Griya untuk bertemu dengan anda!" ucap Bisma saat Ryan masuk kedalam ruangannya.
"Katakan padanya kalau sedang sibuk..." ucap Ryan dengan dingin.
"CK...Apa sebegitu sibuknya kamu sampai tidak mau bertemu dengan ku?" Bisma dan Ryan langsung menoleh kearah pintu.
"Maaf, pak nona ini memaksa masuk..." Sekretaris Lisa yang baru saja masuk karena sekretaris Ryan yang menggantikan Cahaya mengundurkan diri.
"Bisma apa tidak bisa kamu mengajari sekretaris pilihan mu itu bekerja dengan baik?" Ryan yang dari awal tampak sangat kesal, jadi semakin emosi karena sekretarisnya tidak bisa menghalangi Nancy tidak masuk.
"Maaf, pak!" Bisma hanya bisa meminta maaf pada Ryan, sambil menahan kesal dengan sekretaris Lisa. Lisa yang mendapatkan tatapan tajam dari Bisma langsung menunduk kepalanya.
__ADS_1
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ryan sambil menyandarkan bokongnya disisi mejanya dan kedua tangannya masuk kedalam kantongnya.
Nancy yang melihat gaya Ryan seperti itu membuat hatinya berdebar-debar kencang. Niatnya yang ingin memiliki Ryan semakin besar, dia tidak memperdulikan bahwa Ryan sudah memiliki istri dan anak.
Nancy terpesona dengan ketampanan Ryan saat perusahaan milik papanya mengadakan acara. Dan disana Ryan diundang sebagai tamu kehormatan, disitulah Nancy mulai terpikat dengan ketampanan Ryan. Ryan sangat tahu hal itu, maka karena itu Ryan selalu menjauhi Nancy. Bukan karena dia akan tergoda dengan Nancy, tapi dia tidak ingin istrinya akan salah paham. Ryan terlalu mencintai istrinya, makanya Ryan tidak ingin bertemu dengan seorang wanita kalau tidak ditemani Bisma.
"Apa kamu tidak bisa mengijinkan aku untuk duduk dulu?" ucap Nancy sambil berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan Ryan.
"Hei, tuan sekretaris dan nona sekretaris apa kalian tidak bisa keluar? Aku tidak suka melihat orang lain mengganggu ku untuk bicara dengan Ryan" ucap Nancy sambil menatap tajam kearah Bisma.
"Kalian jangan ada yang bergerak dari tempat kalian. Yang menggaji kalian aku, bukan dia" ucap Ryan dengan tegas.
"Kamu tidak perlu mengatur pegawai ku. Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan, kamu bisa keluar dari ruangan ku. Masih banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan!" ucap Ryan.
Kini sebuah mobil berhenti di depan pintu perusahaan milik keluarga Aditama. Wanita itu menatap gedung yang menjulang tinggi dengan penuh keraguan.
"Ma, aku akan mengembalikan senyum mama lagi, karena aku yang melakukannya maka aku juga yang akan menyelesaikannya" gumam wanita itu.
Setelah itu wanita itu kembali melajukan mobilnya keluar dari gedung perusahaan keluarga Aditama.
Kini perusahaan tampak sangat heboh karena melihat kedatangan istri dari pemimpin mereka. Karena saat ini status Cahaya sudah berubah bukan lagi seorang pegawai, melainkan istri pemimpin mereka membuat mereka langsung menundukkan kepalanya.
Ini pertama kalinya Cahaya menginjakkan kakinya kembali lagi ke perusahaan setelah suami dan Mertuanya mengumumkan status nya. Cahaya tetep lah seorang gadis biasa, ramah dan tidak mempedulikan statusnya sebagai apa sekarang. Cahaya menyapa setiap pegawai yang dikenalnya. Seluruh pegawai yang ada dibawah tampak sangat gugup mendapatkan sapaan Cahaya pada mereka. Mereka tidak menyangka kalau Cahaya masih mau menyapa mereka.
"Gery..." gumam Cahaya saat melihat Gery depan lift bersama seorang wanita. Dengan cepat Cahaya melangkahkan kakinya, baby sister putranya yang lagi mendorong kereta bayinya dan bodyguardnya langsung mengikuti Cahaya dari belakang.
"Hai, Ger..." sapa Cahaya pada Gery, pegawai pria yang pernah menjadi sahabatnya di perusahaan.
"Cahaya..." Gery yang tampak sangat terkejut melihat kehadiran Cahaya.
"Apa kabar mu?" tanya Cahaya dengan tersenyum.
"Baik... Senang melihat mu lagi. Apa ini putra mu dan pak Ryan?" tanya Gery sambil berjalan mendekati Ezra yang tampak sangat asik minum susunya.
"Ya..."
__ADS_1
"Mirip sekali dengan pak Ryan, ya.."
"Hei, matanya sangat mirip dengan ku." ucap Cahaya yang sangat kesal karena semua orang mengatakan bahwa putranya sangat mirip dengan Ryan.
"Hahaha. Baiklah, matanya mirip dengan mu. Apa kamu ingin ke ruangan pak Ryan?" Cahaya mengangguk kepalanya.
"Hei, apa gadis itu pacar mu?" bisik Cahaya pada Gery karena melihat gadis yang bersama Gery tadi terus melirik kearah mereka.
"Oh, iya aku lupa." Gery berjalan mendekati gadis yang bersamanya tadi.
"Cerry ini Cahaya, istrinya pak Ryan." ucap Gery oada gadis itu. Mendengar cahaya adalah istrinya Ryan, membuat gadis itu langsung menundukkan kepalanya.
"Maaf Bu saya tidak tahu..." ucap Cerry dengan gugup.
"Dia sekretaris ku yang baru dan..." Gery langsung menjelaskan posisi Cerry dengan Cahaya. Cahaya sangat terkejut melihat Gery merangkul pundak Cerry dengan yang berbeda.
"Juga sebagai tunangan ku..." Cahaya langsung membelalakkan matanya karena mendengar kalau Cerry tunangan Gery.
"Wah ... Akhirnya kamu laku juga ..." ucap Cahaya.
"Tentu saja, aku ini pria yang tampan mana mungkin aku jomblo terus!"
"Ya, sudah baiklah. Kalau begitu selamat untuk kalian. Jangan lupa untuk undangan nya. Aku ke ruangan suami ku dulu."
"Iya, nyonya Ryan Aditama...." Cahaya hanya senyum-senyum saja mendengar ledekan Gery padanya.
Sesampainya di lantai paling atas dimana ruangan suaminya, Cahaya melihat meja sekretaris suaminya tampak kosong. Saat melangkah kakinya menuju ruangan suaminya, Cahaya sangat terkejut mendengar suara keras suaminya.
"Sudah ku katakan keluar dari ruangan ku!" teriak Ryan emosi sambil menatap tajam Nancy yang masih saja duduk santai dengan cueknya.
"Sayang...." Mendengar suara yang sangat selalu dia rindukan setiap detik, Ryan melangkahkan kakinya menuju istrinya yang sedang berjalan kearahnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak seperti i...." Cahaya langsung menghentikan ucapannya karena tiba-tiba saja Ryan langsung menyambar bibirnya.
****
__ADS_1