IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Bertemu Kiara dan Renaldo


__ADS_3

"Papa tidak bohong, kalau Cahaya ingin bertemu dengan ku?" tanya Kiara dengan memastikan apa yang dikatakan Renaldo kalau Cahaya ingin bertemu dengan mereka besok.


"Tidak, ma... Kita akan bertemu dengan mereka di restoran milik Ryan, jam tiga sore" Kiara mengangguk kepalanya.


Renaldo yang melihat reaksi istrinya tampak berbeda membuatnya gelisah. Renaldo takut kalau istrinya tampak memikirkan sesuatu yang akan membuat istrinya semakin jauh dengan Cahaya.


"Aku berharap ini awal yang baik dan aku berharap Cahaya mau membantu ku. Hanya ini jalan satu-satunya." gumam Kiara dalam hatinya.


"Mudah-mudahan dia tidak memikirkan apa yang dikatakan Nayla" gumam Renaldo"


-


-


"Nona Syena ini yang anda minta tadi siang..." ucap asisten Syena sambil memberi berkas yang dibawanya.


Melihat isi dari berkas itu, Syena langsung meremasnya dengan kesal. Asistennya tampak sangat bingung melihat raut wajahnya Syena yang langsung berubah. Raut wajah yang sama saat mereka makan siang di restoran.


Asisten itu merasa kalau Syena telah jatuh hati pada Ryan Aditama. Saat melihat Ryan bergandengan tangan saat keluar dari dalam restoran dimana mereka makan siang, Syena Tampak sangat kesal dan memerintahkannya untuk mencari siapa wanita yang bersama Ryan.


"Nona apa anda baik-baik saja?" tanya asisten itu dengan gugup.


"Bukan urusanmu! Pergilah!" ucap Syena dengan menahan kesalnya.


"Apa yang ku suka, aku harus mendapatkannya!" gumam Syena sambil menyandarkan kepalanya di kursinya.


-


-


Seusai janji Ryan pada Cahaya, hari ini dia akan menemani Cahaya untuk bertemu dengan mertuanya. Tapi sebelum mereka bertemu dengan mertuanya, Ryan membawa Cahaya untuk jalan-jalan untuk mencari keperluan calon anak mereka nanti.


Sebenarnya keperluan baby mereka sudah dilengkapi oleh kedua orangtuanya Ryan. Tapi Ryan juga terlibat memilih keperluan untuk anak mereka. Kedua orangtuanya Ryan sangat antusias menyambut kelahiran anggota keluarga mereka yang baru, penerus keluarga Aditama. Hasil dari USG jenis kelamin anak yang ada dalam kandungan Cahaya laki-laki. Tentu saja hal itu membuat keluarga Ryan sangat senang. Walaupun anak jenis kelamin anak dalam kandungannya Cahaya perempuan, mereka akan tetap sangat bahagia.

__ADS_1


"Bagaimana kalau yang ini?" Ryan tampak semangat memilih tempat tidur yang akan dipakai anak mereka.


"Setuju..." Cahaya menunjukkan jempolnya.


Setelah mendapat persetujuan dari Cahaya, Ryan langsung membayarnya dan memberikan alamat rumah mereka untuk mengantarkan tempat tidur yang mereka pilih untuk anak mereka.


Setelah membeli tempat tidur untuk calon anak mereka, Ryan juga membelikan beberapa mainan untuk anaknya nanti.


"Sayang ini sudah cukup..." ucap Cahaya karena Ryan sudah memilih 5 mobil-mobilan dan 7 robot untuk mainan anak mereka.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian! Sekarang kamu bayar itu!" ucap Cahaya dengan kesal.


"Baiklah. Tapi jangan ngambek, ya..."


"Ada satu syaratnya..."


"Apa?"


"Hahaha. Iya, sayang..."


Beberapa wanita yang melintas di hadapan mereka tampak sangat cemburu melihat Cahaya seperti itu. Mereka dapat melihat jelas kalau Ryan begitu sangat mencintai Cahaya.


-


-


Kini Cahaya dan Ryan telah sampai di restoran dimana mereka akan bertemu dengan Kiara dan Renaldo. Seperti biasa, Ryan lebih suka di ruangan VIP, karena mereka akan lebih leluasa untuk mengobrol.


"Cahaya..." Kiara langsung bangkit berdiri dan berjalan untuk memeluk Cahaya saat melihat Cahaya dan Ryan datang.


Cahaya yang dulu langsung menolak untuk dipeluk Kiara, tapi kali ini sangat berbeda. Cahaya mau di peluk oleh Kiara.

__ADS_1


"Terimakasih ya sayang, kamu mau bertemu dengan mama..." ucap Kiara sambil memeluk Cahaya. Cahaya hanya mengangguk kepalanya saja.


"Ma, biarkan mereka duduk dulu..." ucap Renaldo dengan tersenyum.


"Ah, ia... Maaf ya sayang mama lupa..."


"Ayok nak, duduk dulu.." ucap Kiara dengan tersenyum.


Ryan membawa Cahaya untuk duduk di hadapan Kiara dan Renaldo. Setelah mereka duduk, Kiara terus menerus bertanya tentang bagaimana kesehatan Cahaya dan perkembangan janin dalam kandungannya.


"Baguslah, mama senang dengarnya. Em, sayang maafkan mama ya dulu mama meninggalkan mu. Mama tahu kalau mama salah, mama tahu kalau kamu pasti sangat kecewa dengan mama. Tapi mama ingin kamu mau memaafkan mama. Hiks hiks hiks. Asalkan kamu tahu, mama tidak pernah sekalipun melupakan mu. Mama sangat merindukan mu. Hanya saja keadaan yang tidak bisa membuat mama meninggalkan mu dengan papa mu." ucap Kiara dengan menangis.


"Ada satu hal yang ingin ku tahu, apa ka..." Cahaya tampak bingung memanggil Kiara apa.


"Panggil senyaman mu saja, sayang..." ucap Kiara yang mengerti kenapa Cahaya menghentikan ucapannya. Kiara juga tidak ingin memaksa Cahaya untuk memanggilnya mama.


"Baiklah. Saya hanya ingin bertanya kepada Tante, Sewaktu saya dan papa saya datang, kenapa Tante menyuruh papa untuk membawa saya pergi lagi? Padahal papa ingin Tante untuk merawat ku" ucap Cahaya dengan dingin, Meskipun saat itu usia Cahaya dua tahun, tapi Cahaya sangat ingat hal itu dan apalagi dia pernah membaca surat peninggalan papanya untuk Kiara.


"Kamu tahu dari mana, nak?"


"Walaupun usia ku saat itu dua tahun, tapi aku ingat hal itu. Apalagi tatapan Tante saat itu kepada papa dan aku" ucap Cahaya.


"Maaf kan mama sayang, saat itu mama tidak punya pilihan. Kakek mu tidak suka dengan papamu dan apalagi saat itu umur Mesya baru beberapa bulan dan tubuh Mesya sangat lemah makanya mama disaat itu ingin fokus pada Mesya. Apalagi kakek mu tidak menyukai papa mu" ucap Kiara dengan merasa bersalah.


Mendengar jawaban dari Kiara membuat hatinya Cahaya sangat Sakit. Ternyata mamanya lebih memikirkan Mesya, dibandingkan dirinya. Ryan saja yang mendengar jawaban dari Kiara sangat sakit mendengarnya.


"CK... Itu berarti bahwa Tante mengganggap aku adalah beban, dan berpikir kalau kehadiran ditengah keluarga anda, maka Tante akan terganggu.." Cahaya mengambil kesimpulan dari apa yang dikatakan alasan Kiara.


"Bukan sayang... Bukan begitu...."


"Sudah lupakanlah... Aku hanya ingin tahu kenapa Tante menolak ku supaya tinggal bersama dengan Tante" ucap Cahaya.


"Maaf kan mama sayang. Tapi setelah kamu pergi, mama dan suami mama langsung mencari mu dan papa mu. Mama langsung sadar kalau mama seharusnya tidak menolak mu untuk tinggal bersama mama" ucap Kiara.

__ADS_1


"Nak, apa yang dikatakan mama mu benar. Semenjak kalian pergi, mama langsung mencari keberadaan mu. Setiap hari mama selalu mencari keberadaan mu, saat mama mu tahu kalau papa mu meninggal dan menitipkan mu ke panti asuhan mama langsung mencari mu ke panti asuhan. Ternyata saat kami datang panti asuhan itu sudah pindah. Kami kehilangan jejak mu, tak ada satupun yang tahu kemana panti asuhan itu pindah" Renaldo membantu istrinya untuk menjelaskan pada Cahaya.


****


__ADS_2