IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
SAH


__ADS_3

Kini semua para tamu tampak sangat terpesona dengan kecantikan Nayla saat keluar bersama Kiara dan Cahaya. Terutama Kevin, Kevin tidak menyangka kalau wanita yang menarik baginya saat pertemuan awal mereka, kini akan menjadi istrinya.


Kevin tidak memperdulikan bagaimana masa lalu Nayla, karena setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Yang terpenting saat ini adalah Nayla benar-benar sudah berubah.


"Baiklah, apa kita sudah bisa mulai?" tanya penghulu pada Renaldo dan Kevin. Mereka berdua langsung mengangguk kepalanya.


Acara pun dimulai, Kevin tampak sangat gugup tapi Ryan meminta pada Kevin supaya rileks. Kevin pun langsung mengikuti apa yang dikatakan Ryan padanya. Bunda Kamala tampak sangat terharu karena anak yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang meskipun bukan putra kandungannya, tapi Bunda Kamala tampak terharu.


"Bagaimana saksi Sah?" tanya Penghulu setelah Kevin berhasil mengikuti apa yang dikatakan Renaldo.


"SAH...." teriak semuanya.


Setelah mendengar teriakkan para tamu dan keluarga mereka, Kevin dan Nayla langsung tukaran cincin. Setelah itu Nayla mencium punggung tangan Kevin, sedangkan Kevin mencium kening Nayla, wanita yang sudah menjadi istrinya.


Cahaya yang melihat itu mengingat bagaimana pernikahannya dan Ryan dulu. Benar-benar sangat berbeda, Cahaya sangat iri melihat Nayla dapat mengadakan acara pernikahan impiannya.


"Maaf kan aku...." ucap Ryan sambil mencium tangan Cahaya yang ada digenggamannya. Ryan tahu kalau saat ini Cahaya mengingat bagaimana pernikahan mereka dulu. Cahaya menolehkan pandangannya ke arah Ryan yang tampak sendu.


"Kenapa?"


"Maaf kan aku karena acara pernikahan kita tidak seperti dalam impian mu" Cahaya memberikan senyum tulusnya pada Ryan.


"Tidak perlu minta maaf, lagian kamu membuat acara resepsi pernikahan kita dengan sangat meriah." bisik Cahaya, mendengar ucapan Cahaya barulah Ryan kembali tersenyum.


"Sayang bagaimana kalau kita honeymoon besok?"


"CK..... Siapa yang menikah, kenapa kamu yang ingin honeymoon?"


"Apa masalahnya? Lagian kita belum pernah honeymoon berduaan saja"


"Tidak bisa. Dengar putra kita masih membutuhkan ASI dari ku, dia juga belum genap satu tahun"


"Emmmm.. Kalau gitu setelah putra kita satu tahun, kita pergi honeymoon nya"


"Kalau itu aku setuju..."


Cup...


Cahaya langsung mencubit pinggang Ryan karena mengecup pipinya di hadapan semua orang. Apalagi ada beberapa tamu yang melihatnya. Cahaya sangat malu, tapi juga merasa sangat bahagia. Bahagia karena para wanita yang hadir, yang dari tadi mencuri pandang pada suaminya dapat melihat kalau Ryan adalah miliknya.

__ADS_1


-


-


Satu persatu para tamu yang hadir, memberikan selamat pada Nayla dan Kevin. Tapi di saat acara resepsi pernikahan Kevin dan Nayla berlangsung, dari arah pintu terdengar suara keributan.


"Lepaskan saya...." teriak seorang wanita tua penampilannya sangat kacau.


"Maaf nyonya, kalau tujuan anda untuk membuat keributan silahkan keluar" ucap Bisma dengan tegas.


"Aku akan pergi setelah aku bertemu dengan bos mu" ucap wanita itu dengan emosi.


"Anda bisa menemui atasan saya di kediamannya. Apa anda tidak memiliki malu, seorang wanita berkelas seperti anda membuat keributan di acara orang?"


"Aku tidak peduli... Ryan dimana kamu?" teriak wanita itu dengan emosi.


"Saya disini!" Ryan datang bersama Cahaya untuk melihat siapa yang dari tadi berteriak memanggil nama Ryan.


Melihat kehadiran Ryan bersama Cahaya, wanita itu menatap Cahaya dengan penuh kebencian.


"Bisma bawa wanita itu ke ruangan sebelah" perintah Ryan pada Bisma.


-


-


"Sekarang katakan apa yang anda mau?" ucap Ryan dengan dingin.


"Lepaskan putri saya" ucap wanita itu dengan emosi.


"Apa anda berpikir kalau saya akan melakukan apa yang anda minta? Dengar kan saya nyonya Miranda saya tidak akan pernah membiarkan orang yang sudah menyakiti istri dan putra saya bebas begitu saja" Mendengar ucap Ryan membuat wanita itu langsung bersujud di hadapan Ryan dan Cahaya. Wanita tua yang bernama Miranda itu istri dari Richard, ibu kandungnya Nancy.


Miranda sebenarnya tidak memiliki niat untuk membuat kacau acara pernikahan Kevin dan Nayla, karena dia di larang untuk masuk membuat dia jadi sangat emosi. Dia langsung berteriak memanggil Ryan, karena tujuannya hanya satu yaitu ingin bertemu dengan Ryan.


Miranda datang kesana hanya ingin meminta Ryan untuk membebaskan Putrinya. Miranda sudah sangat putus asa karena putri nya selalu berteriak untuk meminta dibebaskan. Apalagi saat hakim menjatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun dua Minggu yang lalu, membuat Nancy terus mengamuk dalam penjara. Sedangkan suaminya tampak tidak lagi memperdulikan tentang Putrinya lagi.


"Saya tahu kalau putri saya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, tapi saya mohon tolong kasihanilah saya tuan! Saya ingin dimasa tua saya ini, saya ingin putri saya ada bersama saya"


"Maaf kan saya nyonya Miranda, saya tidak bisa melakukannya" ucap Ryan dengan tegas. Ryan yang tidak ingin berlama-lama, langsung bangkit berdiri. Ryan mengajak Cahaya untuk ikut bersamanya kembali ke tempat acara.

__ADS_1


Wanita itu langsung menangis histeris karena gagal membujuk Ryan untuk membebaskan Putrinya dari penjara.


-


-


Tiga bulan kemudian.


Ezra Aditama sudah tampak mulai bisa berjalan, dan sudah mulai bisa bicara. Cahaya dan Ryan tampak sangat bahagia melihat perkembangan putra mereka. Apalagi sejak putra mereka merayakan ulang tahunnya ke satu tahun, putra mereka lebih memilih untuk belajar mandiri.


"Ternyata jagoan mama sudah bisa makan sendiri..." ucap Cahaya sambil memperhatikan putranya lagi makan sendiri.


"Tentu aja, ma... Ezla kan anak pintal..." ucap Ezra yang masih cadal bicaranya.


"Ia... Jagoan mama anak pintar. Ezra mau ikut bersama mama ke kantor papa?"


"Mau... Ezla mau ikut kelja sepelti papa..."


"Hahaha. Ia....Ia... Sekarang kamu habiskan dulu makanannya, biar kita pergi ke kantor papa"


Kini Cahaya dan Ezra sedang menuju kantor Ryan, tujuan Cahaya ke kantor suaminya karena ingin mengantarkan dokumen yang diminta suaminya.


Saat mereka sampai di perusahaan, para pegawai yang ada dilantai bawah tampak sangat terpesona dengan ketampanan Ezra Aditama, putra dari Ryan dan Cahaya. Apalagi wajah Ezra sangat mirip dengan Ryan, tidak ada bedanya.


"Ciang om..." sapa Ezra dengan sopan.


"Siang nyonya, tuan muda ....." sapa Bisma pada Cahaya dan Ezra.


"Siang. Suami saya ada didalam?"


"Ada nyonya. Pak Ryan sudah menunggu kedatangan anda"


"Baiklah, terimakasih"


Saat Cahaya membuka pintu ruangan Ryan, Ryan langsung bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan mereka. Ryan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi putra mereka sambil merentangkan kedua tangannya. Ezra yang melihat itu langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan mamanya dan langsung berlari memeluk papanya.


"Jagoan papa...." ucap Ryan dengan bahagia.


******

__ADS_1


__ADS_2