
Cahaya sangat kaget melihat Nancy mengambil botol susu dan memasukkan sesuatu kedalam botol susu tersebut.
"Apa yang akan kamu lakukan? Tolong jangan sakiti putra ku..." ucap Cahaya sambil berusaha untuk melepaskan ikatannya.
"Kalian lakukan tugas kalian. Aku ingin lihat betapa hancurnya hidupnya saat melihat adiknya yang dinodai dan putranya yang akan tidur selamnya...." perintah Nancy pada anak buahnya dengan tersenyum puas melihat putus asah cahaya.
"Hiks hiks hiks.. Tolong jangan lakukan itu.... Ryan tolong...." Cahaya menjerit memanggil suaminya.
"Ryan... Ryan... "
"Jeritlah semau mu. Dia tidak akan datang! Saat dia datang, semuanya akan terlambat"
Cahaya terus menerus memanggil suaminya, dia merasa kalau saat ini suaminya ada didekatnya, dia tidak memperdulikan apa yang dikatakan Nancy. Walaupun hatinya sangat sakit melihat bagaimana adiknya yang akan dinodai dan putranya akan diberikan minum racun, Cahaya terus memanggil nama suaminya. Saat dia terus memanggil nama suaminya, Cahaya sangat terkejut tiba-tiba saja ada suara tembakan.
Dor.... Dor...Dor...
Dua pria yang ingin menodai Jeje terkapar di lantai begitu juga dengan Nancy. Mereka mendapatkan tembakan ke tubuh mereka. Nancy meringis kesakitan karena kakinya kena tembakan, susu yang ada dalam genggamannya bergulir jauh. Cahaya yang tadinya menangis kini langsung tersenyum saat melihat sosok suaminya, Bisma, Kevin dan beberapa polisi dihadapannya.
Ryan melihat istrinya yang tampak sangat memprihatikan langsung berlari untuk membantu istrinya. Begitu juga dengan Bisma. Bisma yang melihat wanita yang dari tadi sangat di cemaskan nya langsung membuka jasnya untuk menutupi tubuhnya Jeje bagian atas. Karena baju yang dikenakan Jeje sudah koyak. Sedangkan Kevin membantu keponakannya dari gendongan seorang pria yang berniat untuk melarikan diri.
"Maaf kan aku sayang...." ucap Ryan sambil melepaskan ikatan tangan istrinya. Setelah lepas ikatannya Cahaya langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Aku tahu kamu pasti akan datang dengan cepat" ucap Cahaya dalam pelukan suaminya.
Sebenarnya Ryan dan yang lainnya sudah berada didepan rumah Nancy. Rumah yang sangat luas dan sedikit jauh dari pemukiman penduduk. Rumah yang satu-satunya yang tampak sangat mewah. Saat mereka masuk kedalam pekarangan rumah Nancy, Ryan sangat terkejut mendengar suara teriakan Cahaya memanggil namanya.
Dengan hati-hati Ryan dan yang lainnya langsung mengintip dari jendela. Untungnya Nancy tidak memiliki banyak anak buah dan semuanya ada didalam. Saat melihat Nancy membawa botol minuman susu, membuat Ryan sangat yakin kalau minuman itu tidak ada yang beres.
Ryan mengambil pistolnya dan siap-siap untuk menembak Nancy. Begitu juga dengan Bisma, Bisma dan polisi yang lainnya siap untuk menembak anak buahnya Nancy yang ingin menodai Jeje.
Cahaya langsung melepaskan pelukannya dan berlari ke arah Kevin yang sedang menggendong putranya. Cahaya memeluk erat putranya sambil menangis, Cahaya terus menerus meminta maaf pada putranya.
Ryan yang melihat hal itu langsung menatap tajam Nancy. Nancy yang sudah di borgol polisi, tampak sangat ketakutan melihat tatapan tajam Ryan.
__ADS_1
Plak...
Ryan menampar pipi Nancy dengan keras, untuknya Nancy dipegang polisi. Kalau tidak mungkin Nancy sudah jatuh.
"Kamu akan menerima akibat perbuatan mu" ucap Ryan dengan dingin.
Ryan membawa istri dan Putranya untuk pergi dari ruangan itu. Bisma juga langsung menggendong Jeje, Bisma sangat sakit mendengar tangisan Jeje dalam pelukannya.
-
-
Kini Ryan tengah mendekap istri dan Putranya didalam pelukannya setelah dokter memeriksa keadaan istri dan Putranya. Ryan sangat bersyukur karena datang tepat waktu, kalau dia terlambat mungkin saja dia akan kehilangan putranya kedua kalinya. Ryan melihat bagaimana trauma Cahaya tadi. Cahaya tampak sangat posesif terhadap putra mereka. Dia meras berat untuk pergi untuk meninggalkan putra mereka. Meskipun yang menggendong putranya kedua orangtua mereka. Ryan juga merasa lega karena bekas tusukan jarum yang dilakukan Nancy tidak meninggalkan bekas.
"Tenang saja sayang, aku akan pastikan dia akan menerima akibatnya." gumam Ryan sambil mengelus pipi Cahaya.
-
-
"Maaf kan aku sayang, kalau saja aku lebih cepat datangnya mungkin kamu tidak akan seperti ini. Kamu tenang saja pria-pria itu akan menerima akibatnya, aku akan membuat kedua tangannya patah" Gumam Bisma.
"Kak, apa Jeje sudah tenang?" tiba-tiba saja Kevin dan Nayla masuk kedalam kamar Jeje.
"Sudah. Tapi aku tidak bisa bergerak, kalau aku sedikit saja bergerak dia akan langsung terbangun. Kalau dia terbangun dia kembali menangis...." jelas Bisma.
"Untuk malam ini kak Bisma temani Jeje saja dulu. Besok mungkin Jeje sudah kembali seperti biasanya" ucap Kevin.
"Ehmmm... Kev, apa aku bisa minta tolong?"
"Bisa kak. Apa itu?"
"Begini aku sangat haus, bisakah kamu tolong panggil bibi untuk membawakan aku minum? Aku sangat haus dari tadi"
__ADS_1
"Oke kak. Kalau begitu kami keluar dulu"
-
-
Didalam penjara Nancy terus merengek pada kedua orangtuanya untuk membebaskannya. Setelah mengetahui kalau Nancy berada dalam penjara, kedua orangtuanya langsung datang ke kantor polisi.
"Nan, papa tidak tahu apakah bisa mengeluarkan mu dari sini" ucap pak Richard dengan sendu.
"Kenapa tidak bisa, pa? Apa susahnya sih? Papa hanya tinggal cari pengacara yang hebat"
"Sehebat apapun pengacaranya nantinya, papa yakin kamu tidak akan bisa keluar. Bukti-bukti apa yang kamu lakukan pada Cahaya sangat kuat, apalagi yang kita lawan saat ini adalah keluarga Aditama"
"Ma, tolong aku..." rengek Nancy pada mamanya. Nancy merasa kalau papanya memang tidak berniat membantunya.
"Hiks hiks hiks. Mama tidak tahu apa yang harus mama lakukan sayang. Kenapa kamu melakukannya, sayang?" ucap mamanya Nancy dengan menangis.
"Apa mama ingin tahu kenapa aku melakukannya? Ini semua karena mereka sendiri. Terutama pada Ryan, dia telah membuat aku hancur ma..."
"A..apa maksud mu? Apa dia menodai mu?" tanya Mamanya Nancy.
"Tidak, bukan dia. Kalau saja obat itu dia yang meminumnya bukan aku, mungkin aku tidak harus melayani pria itu selama satu Minggu" mendengar itu membuat mamanya Nancy langsung menutup mulutnya.
"Apa maksud mu? Obat? Obat apa?"
"Obat perangsang yang sengaja dia masukkan dalam minuman putraku" Richard dan keluarganya langsung menoleh kebelakang.
"Pak Rudi, pak Renaldo" Gumam pak Richard dengan terkejut.
"Apa maksud pak Rudi?" tanya pak Richard yang belum mengerti.
"Apa kamu tahu sewaktu acara ulangtahun putra ku, putri mu sengaja memasukkan obat kedalam minuman putraku. Kamu tahu bukan kalau aku tidak akan pernah membiarkan siapapun yang menggangu rumah tangga putraku. Meskipun dia bisa menjaga dirinya dan keluarganya tapi aku tidak akan langsung meninggalkannya begitu saja." ucap Rudi sambil menyerahkan bukti-bukti dimana Nancy dan asistennya membayar seseorang pegawai hotel untuk melancarkan aksi mereka.
__ADS_1
"Saya tahu kalau kamu berpikir kalau putra saya yang melakukan hal itu, anda salah nona. Saya lah yang meminta pelayan itu untuk memberikan minuman yang dicampurkan nya pada mu, bukan pada putra saya. Kalau masalah kamu bisa berakhir dengan pria itu, itu bukan karena kami. Tapi karena anda sendiri yang menarik pria itu untuk masuk kedalam kamar anda." ucap Rudi sekaligus memberikan video dimana Nancy menarik seorang pria yang niatnya ingin masuk kedalam lift, malah Nancy tarik masuk kedalam kamarnya.
****