
Kiara membantu putrinya untuk bangun. Saat melihat darah segar d dari ujung bibir Nayla membuat Kiara menangis kembali.
"Mulai saat ini kamu tidak boleh keluar dari dalam kamar mu, sebelum kamu menyadari apa yang kamu lakukan itu salah dan mengubah pemikiran mu untuk tidak menghancurkan kehidupan rumah tangga kakak mu sendiri!" ucap Renaldo yang masih dengan penuh tekanan.
FLASH BACK END
"Kita bisa bicara yang baik-baik dengan Nayla pa. Nayla itu masih muda, pa..." ucap Kiara dengan sendu.
"Dia itu sudah dewasa, ma. Dia sudah sarjana, itu berarti dia sudah bisa berpikir yang mana baik dan mana yang buruk!"
"Ah...Hiks... hiks..." Tiba-tiba Nayla kembali histeris sambil menangis karena dia merasa papanya lebih memihak Cahaya.
"Kenapa papa tidak mengerti perasaan ku? Kenapa papa membelanya pa?" ucap Nayla sambil menatap Renaldo dengan penuh kekecewaan.
"Ma, mama mengerti kan apa yang ku rasakan? Mama mendukung ku kan? Bukannya mama setuju kalau kak Ryan yang menjadi suami ku? Ma, tolong bantu aku mendapat kan kak Ryan..." Nayla berusaha membujuk Kiara untuk memihaknya.
"Nay, kamu tahu kan kalau saat ini Cahaya sedang hamil. Kamu tega membuat anaknya menjauh dari ayah kandungnya?" ucap Kiara dengan menangis.
"Hiks hiks hiks. Kalau itu masalahnya aku rela menjadi madunya wanita itu, ma. Aku hanya ingin kak Ryan menjadi suami ku... Hiks hiks hiks. Kalau mama tidak mau membantu ku, aku akan pergi jauh dari mama dan papa."
Plak...
Lagi-lagi Renaldo menampar Nayla.
"Papa..." Kiara menangis histeris melihat suaminya menampar Nayla lagi. Dengan penuh kelembutan Kiara memeluk putrinya.
"Lepaskan dia... Mulai saat ini dia tidak boleh keluar dari kamarnya, dan mama tidak boleh menemuinya tanpa seijin dari papa!" Renaldo menarik Kiara untuk keluar dari kamar Nayla.
-
-
"Sayang apa kamu sudah siap?" tanya Ryan yang baru saja masuk kedalam kamarnya, setelah berbicara dengan papanya.
"Sudah sayang...." ucap Cahaya yang baru saja menyelesaikan memoles bibirnya dengan lipstik.
"Ya, sudah yuk... Papa dan mama sudah menunggu kita..." ucap Ryan.
Ryan mengajak Cahaya dan keluarganya untuk mengunjungi panti asuhan dimana Cahaya dan Kevin dibesarkan. Mereka juga mengajak Kevin untuk ikut bersama mereka ke kota S. Untuk kenyamanan Cahaya, mereka memutuskan untuk naik pesawat pribadi milik Rudi.
-
__ADS_1
-
Kini Cahaya dan keluarga dari suaminya tengah sampai di pantai Asuhan dimana Cahaya dan Kevin dibesarkan.
"Bunda...Kak Aya dan Kak Kevin datang..." seorang gadis yang masih muda berteriak dari depan pintu saat melihat Cahaya dan Kevin.
"Tissa..." Cahaya merentangkan tangannya untuk memeluk gadis yang berlari kearahnya.
Setelah memeluk Cahaya, gadis itu beralih memeluk Kevin yang berdiri di samping Cahaya. Gadis yang bernama Tissa itu tampak bingung melihat Ryan berdiri di samping Cahaya. Saat dia ingin bertanya siapa Ryan, Tissa melihat ada satu mobil lagi yang masuk ke dalam pekarangan panti. Tissa memperhatikan lagi ada tiga orang yang keluar dari dalam mobil yang baru saja masuk kedalam pekarangan panti. Ketiga orang yang tidak dia kenal itu berjalan mendekati mereka dengan tersenyum.
"Mereka siapa kak?" tanya Tissa lada Cahaya.
"Kakak akan jelaskan di dalam. Apa bunda ada?"
"Ada kak..."
"Ma, pa sayang yuk kita masuk. Bunda ada didalam..." Cahaya mengajak suami dan Mertuanya masuk.
Saat Cahaya melewati Tissa, Tissa baru menyadari ada yang berbeda dari tubuh Cahaya.
"Apa kak Aya hamil?" gumam Tissa.
"Dasar bodoh, ayok masuk!" ucap Kevin sambil merangkul pundak Tissa. Kevin meras geli karena Tissa baru menyadari kalau Cahaya tengah hamil. Padahal Tissa memeluk Cahaya tadi.
-
-
"Sekarang katakan pada Bunda sudah berapa usia kandungan mu, nak?" Tanya Bunda.
"Sudah mau jalan tujuh bulan, Bun. Doakan ya bunda kalau calon anaknya Aya sehat..."
"Iya, sayang..." ucap Bunda. Mereka semua mengobrol dengan penuh canda tawa.
Setelah mereka mengobrol, Ryan mengutarakan niatnya untuk memberikan bantuan kepada panti asuhan itu setiap bulannya. Dan akan memberikan beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi di sekolahnya sampai kuliah.
Tentu saja membuat Bunda sangat bahagia mendengarnya dan anak-anak panti juga ikut bahagia. Mereka juga mengadakan party kecil-kecilan dengan anak-anak panti.
"Bunda sangat senang kamu mendapatkan pasangan yang benar-benar mencintai mu, sayang..." ucap Bunda yang duduk di samping Cahaya sambil menatap Ryan yang tampak sangat asik bercanda dengan anak-anak panti.
"Cahaya tidak menyangka kalau kehidupan Cahaya seperti ini Bunda."
__ADS_1
"Dengar sayang, apa yang kamu dapatkan sekarang itu semua karena anugerah Tuhan dan Tuhan sangat menyayangi mu" ucap Bunda.
"Apa mama mu pernah menemui mu?" tanya Bunda sambil menatap Cahaya.
"Pernah, Bun. Tapi aku menolaknya untuk bertemu dengannya"
"Kenapa?"
"Bunda tahukan kalau aku tidak sangat membencinya"
"Bunda tahu,. tapi nak kamu harus bisa memaafkan nya"
"Sulit Bunda... Apa lagi saat dia belum mengetahui kalau Aya putrinya, kata-katanya sangat menyakiti Bun..." ucap Cahaya dengan sendu.
"Lupakan semuanya nak, belajarlah untuk memaafkan orang yang menyakiti hati mu... Apalagi dia ibu mu, ibu yang melahirkan mu. Kesalahannya memang besar, tapi kamu harus bisa memaafkannya."
"Aya tidak tahu apa bisa melakukannya."
"Pasti bisa, sayang. Bunda sangat mengenal mu, kamu wanita yang sangat baik dan mau memaafkan orang lain"
"Ceritanya ini beda bunda..."
"Tidak ada yang beda sayang..." Cahaya menghela nafasnya.
"Bun, kalau Aya memaafkannya apa Aya itu berarti Aya memanggilnya mama?" Bunda mengelus pipi Cahaya dengan tersenyum.
"Kamu sendiri yang memutuskannya sayang. Kalau kamu sudah memaafkannya tapi tidak memanggilnya mama, dia tetep mama kandung mu..." Cahaya tampak memikirkan apa yang dikatakan Bunda nya.
"Sayang..." Ryan datang menghampiri mereka.
Cahaya bangkit berdiri dan memeluk lengan Ryan dengan manja.
"Mama dan papa mengajak kita untuk kembali ke hotel untuk istirahat kamu tidak boleh terlalu lelah. Apa kamu sudah selesai ngobrol dengan bunda?"
"Tapi...."
"Aya sayang, apa yang dikatakan mertua dan suami benar. Ini sudah terlalu malam, tidak baik untuk ibu hamil angin malam."
"Ya, sudah besok pagi sebelum kami pulang Aya akan mampir lagi untuk ijin pamit ya, Bun!" Bunda mengangguk kepalanya.
Ryan dan Cahaya mencium tangan bunda, begitu juga dengan Kevin dan Bisma. Kedua orangtuanya Ryan juga berpamitan pada Bunda, Tissa dan Kevin. Kevin memutuskan untuk bermalam di panti, karena dia masih kangen dengan suasana panti.
__ADS_1
****