IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Kekesalan Ryan


__ADS_3

Ini pertama kalinya Cahaya dan Ryan pulang bersama dari kantor. Tapi selama perjalanan pulang, mereka berdua tampak ada percakapan.


Tut...Tut...


Melihat nama Nayla yang menghubunginya, Ryan langsung mengangkat teleponnya.


"Ya, Nay..."


Mendengar nama Nay, membuat Cahaya dan Bisma langsung tahu kalau Mau yang dimaksud Ryan ada Nayla adiknya Mesya.


"Kak, apa kamu sibuk? Aku mau cerita kalau aku, mama dan papa akan ke negara N. Kami ingin merayakan ulang tahun ku disana. Apa kakak punya waktu untuk ikut bersama kami? kakak bisa nyusul kami kalau mau..." Nayla pura-pura tidak mengetahui kalau Ryan ada di negara N.


"Hahaha. Kebetulan sekali, kak Ryan ada disini bersama keluarga kakak. Kapan kalian berangkat?"


"Benarkah? Sejak kapan kak Ryan ada disana?" Sebentar lagi kak, kami berangkatnya..."


"Kemarin. Hubungi kakak kalau kalian sudah sampai. Kakak akan usahakan untuk menjemput kalian dari bandara.."


"Terimakasih kak..."


"Sama-sama." ucap Ryan sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


"Kenapa Nyala menghubungi mu?" tanya Bisma sambil menatap Ryan dari kaca spion mobil mereka.


"Nayla dan keluarganya sedang liburan ke negara N. Nayla ingin mengajakku, jadi aku mengatakan kalau aku sedang di negara N." jelas Ryan.


"Oh...." ucap Bisma singkat.


Sesampainya mereka di depan mansion, Cahaya langsung keluar begitu saja tanpa bicara apapun dan menutup pintu mobilnya dengan kuat.


"Kenapa dengannya?" tanya Bisma sambil merangkul pundak Ryan yang tengah menatap punggung Cahaya.


"Aku tidak tahu, lagian kenapa kamu heran? Bukannya dia seperti itu biasanya?"


"Hahaha. Sepertinya kamu memang tidak tahu tentang istrimu."


"Apa maksud mu?"


"Dia seperti itu hanya dengan mu, tapi tidak bagi ku, Jessie, Richard dan kedua orang tua mu. Oh, iya satu lagi Gery..." ucap Bisma sambil tersenyum.


"Sudahlah, itu tidak penting bagiku..." ucap Ryan dengan sedikit kesal.


"Baiklah. Sekarang kita masuk saja..."


-

__ADS_1


-


Keesokan harinya Ryan memilih untuk pulang sendiri karena dia ingin menghampiri Nyala dan kedua mertuanya, yang kini sudah berada di hotel milik keluarganya.


"Dimana mereka?" Ryan sangat mengenal siapa saja karyawan yang bekerja di hotel milik keluarganya, Karena Ryan dulu sangat suka menikmati waktu santainya bersama istrinya di hotel milik papanya.


"Oh, keluarga anda saat ini sedang ada restoran pak" ucap sang manager hotel.


"Terimakasih..." Ryan langsung berjalan menuju restoran yang ada dalam gedung hotelnya. Saat dia masuk dia melihat jelas keluarga mertuanya sedang menikmati makanannya.


"Ma, pa...." Renaldo dan Kiara langsung bangkit berdiri, dengan sopan Ryan langsung mencium tangan kedua orangtuanya Mesya dan Nayla.


"Kamu sudah makan?" tanya Kiara dengan lembut.


"Belum, ma..."


"Ya, sudah kita makan bareng saja, kak..." sambung Nayla dengan semangat.


"Benar, nak kata Nayla...." sambung Kiara.


"Baik, ma..."


Saat mereka makan malam bersama, mereka tidak menyadari kalau Cahaya juga ada di hotel itu. Cahaya yang kebetulan melintas restoran dimana Ryan lagi makan malam bersama keluarga Mesya melihat bagaimana Ryan yang tampak tersenyum mengobrol bersama dengan Nayla. Nyala yang sangat Sakit melihatnya, memilih untuk pergi secepatnya.


-


-


Ryan sampai di rumah jam sepuluh malam, saat dia masuk dia melihat kedua orangtuanya masih menonton.


"Ma, pa..." sapa Ryan dengan kedua orangtuanya. Tapi kedua orangtuanya memilih untuk diam, mereka sangat kesal pada putranya itu.


Mereka kesal karena mendapat laporan dari orang kepercayaan mereka yang bekerja di hotel milik mereka memberikan foto dimana Ryan tampak mengobrol dengan Nayla di pinggir kolam renang. Karena kedua orangtuanya tampak diam, Ryan yang sudah sangat lelah memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamarnya, Ryan tidak melihat Cahaya ada di dalam kamar.


"Kemana dia?" gumam Ryan sambil melepaskan jasnya.


Saat dia mengambil bajunya dari lemari, Ryan mendengar seseorang yang lagi bicara dan melihat pintu balkon kamarnya terbuka. Dengan langkah pelan, Ryan ingin memeriksa siapa yang ada di balkon kamarnya.


"Kenapa dia belum tidur? Sama siapa dia bicara dengan tersenyum begitu?" gumam Ryan dalam hatinya saat melihat Cahaya mengobrol dengan seseorang melalui telepon di balkon kamarnya.


Deg....


Mendengar Cahaya menyebut nama Gery membuat hatinya sangat panas. Dengan kesal, Ryan langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Cahaya yang mendengar suara pintu, tampak sangat terkejut dan langsung bangkit berdiri dan melihat siapa yang menutup pintu dengan keras.

__ADS_1


"Ternyata dia sudah pulang... Kenapa dia menutup pintu dengan keras begitu? CK..." gumam Cahaya saat melihat jas dan tasnya Ryan ada di atas meja.


"Ger... Aku tutup dulu, ya... Besok kita ngobrol lagi..." ucap Cahaya sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


Setelah sambungan teleponnya putus, Cahaya merapikan barang-barangnya Ryan untuk disimpan ke tempatnya. Setelah itu dia mengambil bantal dan selimutnya, dia memilih untuk tidur sebelum Ryan keluar dari dalam kamar mandi.


-


-


Sudah empat hari Ryan tampak menghabiskan waktunya untuk menemani Nayla jalan-jalan sehabis dia pulang kerja. Cahaya yang mengetahui hal itu tampak sangat sakit, untung saja ada Jessie yang selalu membuat dia melupakan rasa sakitnya.


"Astaga Aya, ini tidak cocok untuk mu..." ucap Jessie saat melihat gaun yang dipilih Cahaya untuk dipakai acara ulang tahun perusahaan besok.


"Aku sangat tidak nyaman, memakai baju yang tidak memakai lengan, apalagi belahannya juga terlalu terbuka"



"Aya sayang, ini sangat cocok untuk mu... Lagian belahannya tidak terlalu terbuka dan ini juga memakai lengan... Pokoknya kamu harus memakai yang ini. Aku ingin kamu besok harus tampak berbeda." ucap Jessie.


"Baiklah..." Cahaya memilih mengalah, karena setelah beberapa hari dia mengenal Jessie, Jessie sangat keras kepala sepertinya. Meskipun keras kepala, cahaya sangat nyaman dengannya karena Jessie sangat humoris.


-


-


Keesokan harinya Jessie dan Andini membantu Cahaya untuk berdandan. Mereka ingin membuat Cahaya tampak sangat berbeda.


"Tante, ternyata Aya sangat cantik ya.... Aku yakin semua orang pasti semakin mengagumi sosok Cahaya...." ucap Jessie.


"Benar banget..." Cahaya yang mendengar pujian dari Jessie dan Andini membuatnya sangat malu.


"Baiklah, sekarang kita turun ke bawah, Ryan pasti sudah menunggu" ucap Andini.


"Ma, apa aku harus berangkat bersama Ryan?" Cahaya tampak gugup karena berangkat bersama Ryan ke acara ulang tahun perusahaan.


"Tentu saja sayang, kalian itu suami istri. Jadi, kalian harus berangkat bersama" ucap Andini sambil menarik kedua tangan Cahaya untuk digenggamnya.


"Aya, mama ada permintaan apa kamu mau mengabulkannya?" Cahaya langsung mengangguk kepalanya.


"Mama hanya ingin kalau kamu suatu saat ingin pergi karena sudah lelah, bisakah kamu mengatakannya pada mama? Mama tahu semuanya, hubungan kalian tidak ada kemajuan. Maafkan mama, kalau saja mama dari awal menceritakan semuanya pada Ryan mungkin saat ini kalian sudah bahagia" Andini sangat menyesali apa yang diperbuatnya dulu. Cahaya yang melihat air mata Andini, membuatnya langsung memeluk erat Andini.


"Mama tidak salah, anggap saja ini takdir yang harus ku jalani. Aku janji akan memberi tahu pada mama, kalau aku sudah lelah..." ucap Cahaya dengan sendu. Jessie yang melihat itu hanya bisa meneteskan air matanya.


****

__ADS_1


__ADS_2