
"Cahaya?" cicit Kiara dengan terkejut.
"Ya, wanita itu Cahaya. Apa ada pernah tanya bagaimana kehidupan yang dilaluinya selama ini? Jawabannya tidak! Asalkan anda tahu selama ini dia selalu menunggu anda untuk bertanya tentang kehidupannya selama ini. Kalau saja anda bertanya tentang kehidupannya, pasti dia akan memberi tentang masa sulit yang dilaluinya saat aku menghilang begitu saja tanpa jejak setelah kami mengalami kecelakaan, Saat dia membuka matanya setengah koma beberapa bulan, dia tidak menemukan ku. Disaat di menemukan ku setelah satu tahun ternyata dia mengetahui bahwa saya menikah dengan wanita yang sudah seperti sahabatnya." ucap Ryan lagi, kali ini benar-benar membuat Kiara menyadari kesalahannya.
"Meskipun dia tahu saya adalah pria yang dicintainya, tapi dia tidak pernah sekalipun niat untuk merebut saya dari Mesya. Padahal dia gampang saja melakukannya, kalau dia menunjukkan foto-foto kami, pasti saya akan meninggalkan putri anda. Tapi dia tidak mau melakukannya, karena dia tidak ingin menyakiti hati wanita lain."
"Sekarang anda ingin menyakiti hati wanita yang selama ini tidak menyakiti hati putri anda. Apalagi kenyataannya wanita yang ingin sakiti hatinya putri anda sendiri, putri yang anda abaikan sejak dia lahir"
Kiara menggeleng kepalanya, Kiara sepertinya tidak terima dengan ucapan Ryan.
"Tidak... Tidak.... Hentikan!" ucap Kiara dengan suara pelan.
"Kenapa? Apa saya salah?"
Hiks hiks hiks....
Kiara terus menangis.
"Mulai saat ini tolong jangan temui istri saya lagi, menjauh dari istri saya dan jangan pernah berharap saya akan menikahi putri anda. Sampai kapanpun itu tidak akan terjadi! " ucap Ryan sebelum dia ingin menyusul Cahaya ke dalam.
"Ryan tolong jangan suruh mama untuk menjauhi putri mama. Mama, akui kalau mama salah. Ya, mama salah! Tolong jangan suruh mama untuk menjauhinya... Hiks hiks hiks...Mama tidak bisa, mama tidak ingin putri mama menjauhi mama lagi." Kiara langsung menarik tangan Ryan sebelum Ryan pergi.
"Maaf, anda sendiri lah yang membuat hal ini terjadi. Kalau saja anda tidak langsung mengikuti keinginan Nayla dan memikirkan bagaimana perasaan istri ku, anda tidak akan kembali menjauh darinya" ucap Ryan. Ryan, menarik tangannya dari genggaman tangan Kiara.
Kiara yang tidak tahu lagi mau bicara apa langsung menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Rudi dan Bisma yang dari tadi diam, memilih mengikuti Ryan masuk.
-
-
Ryan berlari naik keatas menuju kamarnya, saat dia membuka pintu kamarnya dia melihat Cahaya sudah terlelap dalam tidurnya.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ryan pada dokter yang menangani Cahaya selama hamil.
Sebenarnya dokter itu dari tadi sudah selesai memeriksa keadaan Cahaya, tapi Ryan meminta dokter itu menunggunya setelah memeriksa keadaan Cahaya.
"Nyonya Cahaya baik-baik saja, rasa sakit yang tiba-tiba seperti tadi itu hanya kontraksi palsu saja."
"Terimakasih dokter..."
__ADS_1
"Sama-sama, pak. Kalau begitu saya permisi dulu!" Ryan mengangguk kepalanya.
"Mari dokter, saya akan antar ke depan...." ucap Bisma.
Setelah dokter pergi, Ryan berjalan mendekati istrinya. Andini yang tahu kalau putranya ingin bersama Cahaya, langsung bangkit berdiri dan mengajak suaminya yang tadi ikut bersama putra masuk, untuk keluar.
"Maaf, sayang..." gumam Ryan sambil mengelus pipi istrinya. Ryan merasa bersalah karena dirinya lah yang membuat istrinya menderita.
"Aku akan pastikan mereka akan menerima akibatnya. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka untuk menyakiti hati mu lagi" gumam Ryan lagi.
Cup...
Ryan mengecup kening Cahaya dengan lembut. Setelah itu dia bangkit berdiri dan keluar dari kamarnya.
"Ma, pa..." Ryan memanggil kedua orangtuanya yang lagi berbincang di ruangan keluarga.
"Kenapa, nak? Apa Cahaya masih tidur?" tanya Kiara. Ryan hanya mengangguk kepalanya.
"Aku ingin mengakusisi perusahaan milik keluarga mama Kiara..." tentu saja membuat Rudi dan Andini terkejut.
"Ryan..." cicit Andini.
"Itu konsekuensi yang harus mereka terima karena menyakiti istriku ma..."
"Aku tahu, maka karena itu lebih muda aku mengakusisi perusahaan itu!"
"Terserah padamu. Mama dan papa pergi dulu. Jaga baik-baik istri mu..." ucap Rudi.
"Itu sudah pasti."
Setelah mengatakan niatnya Ryan kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping Cahaya. Dengan hati-hati Ryan memeluk istrinya.
Tidak butuh waktu yang lama Ryan menyusul istrinya masuk kedalam mimpi.
-
-
Saat Rudi dan Andini sampai di kediaman keluarga Renaldo, Renaldo juga baru sampai.
__ADS_1
Renaldo tampak jelas melihat tatapan dingin dari Rudi dan Andini terhadap dirinya.
"Rudi, Andini apa terjadi sesuatu? Kenapa kalian menghubungi ku dan menyuruh ku untuk pulang?" Ya, saat Rudi keluar dari kamar putranya, Rudi menghubungi Renaldo untuk pulang dan mereka akan bertemu di rumahnya.
"Apa istri dan Putri dirumah?" ucap Andini.
"Aku tidak tahu. Masuk lah dulu, aku akan menang mereka."
Renaldo langsung masuk kedalam kamarnya, untuk memanggil istrinya. Dia melihat istrinya sedang rebahan di kasur mereka.
"Ma, apa kamu tidur? Di luar ada Rudi dan Andini, katanya mereka ingin bertemu dengan mu" ucap Renaldo.
Mendengar nama Rudi dan Andini membuat Kiara langsung bangun dan menatap suaminya yang duduk di sampingnya. Renaldo sangat terkejut melihat mata bengkak istrinya yang seperti orang baru nangis.
"Kenapa mama menangis? Apa terjadi sesuatu? Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan mereka?" tanya Renaldo menebak.
"Tidak bisakah papa menyuruh mereka pulang?" Kiara sangat gugup, dan ada rasa takut. Dia sangat takut kalau suaminya akan murka dengan apa yang dilakukannya.
"Tidak bisa! Kita harus menyelesaikannya sekarang juga!" ucap Renaldo dengan kesal.
Renaldo sangat yakin kali ini istrinya telah membuat masalah yang besar.
"Sekarang keluarlah!" ucap Renaldo sambil bangkit berdiri.
Setelah memanggil istrinya, Renaldo langsung ke kamar putrinya. Nayla yang sudah berdandan cantik langsung menyambutnya dengan bahagia. Renaldo sangat terkejut melihat perubahan sikap putrinya.
"Sekarang keluarlah! Ada yang ingin bertemu dengan mu!" ucap Renaldo.
Nayla dengan wajah bahagia keluar dari dalam kamarnya. Dia melihat mamanya tengah duduk bersama Rudi dan Andini di ruang tamu mereka. Nayla berpikir kalau saat ini kedatangan kedua orangtuanya Ryan untuk membicarakan pernikahannya dengan Ryan.
"Siang Tante, om..." sapa Nayla menunjukkan senyumnya. Setelah menyapa kedua orangtuanya Ryan, Nayla duduk di samping mamanya. Nayla belum menyadari bahwa mata mamanya tampak sangat bengkak. Renaldo lebih memilih duduk di kursi yang kosong.
Andini yang melihat Nayla duduk di samping Kiara langsung bangkit berdiri dan berjalan mendekati Nayla dan Kiara.
Plak...
Plak...
"Hentikan Andini..."
__ADS_1
Dengan kuat Andini langsung menampar pipi Nayla. Kiara yang melihat putrinya ditampar Andini dengan keras langsung memeluk tangan Andini supaya tidak menyakiti putrinya lagi.
****