IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Menyakitkan


__ADS_3

Didalam gedung tempat acara diadakan, Nayla tampak sangat gusar karena tidak melihat keberadaan Ryan dan Cahaya. Saat dia bertanya pada kedua orangtuanya Ryan, malahan dia dicuekin.


Sudah dua jam dia tidak melihat keberadaan Ryan dan Cahaya. Maka karena itu membuat dia sangat gusar. Karena tidak mendapati keberadaan Ryan, Nayla berniat untuk pergi.


"Kak, Ryan..." gumam Nayla saat melihat Ryan didepan pintu. Nayla langsung berlari memeluk Ryan.


"Kakak kemana saja?" tanya Nayla dengan manja.


"Kakak tadi ada urusan penting" jawab Ryan dengan masih kesal.


Ryan yang melihat keberadaan kedua orangtuanya, Ryan menarik Nayla untuk melepaskannya.


"Maaf, kakak harus hampiri kedua orang tua kakak" ucap Ryan. Belum ada jawaban dari Nayla, Ryan langsung pergi begitu saja.


-


-


Dengan wajah yang sendu Cahaya keluar dari dalam kamar, Cahaya memutuskan untuk pulang tidak ada lagi niatnya untuk kembali ke ruangan pesta.


Saat dia keluar dari dalam lift, Cahaya yang tidak memperhatikan jalannya malah menabrak seorang wanita.


-


-


"Kemana Cahaya?" tanya Andini saat melihat putranya datang hanya sendiri.


"Aku ingin bicara sesuatu pada mama dan papa" ucap Ryan.


Tut...Tut...


Rudi yang ingin bicara pada putranya, langsung berhenti karena melihat nomor yang menghubunginya.


"Ada apa?"


"......" Rudi langsung menatap tajam putranya.


"Baiklah. Tolong awasi mereka..." ucap Rudi tampa melepaskan tatapannya pada putranya. Setelah mendapat jawaban dari seberang telepon, Rudi langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Kenapa pa? Apa terjadi sesuatu?"


"Sebaiknya kita pergi kebawah. Cahaya sedang dalam masalah" ucap Rudi.


Tentu saja membuat Andini, Bisma, Jessie, Richard dan Ryan terkejut mendengarnya. Terutama dengan Ryan.

__ADS_1


Mereka langsung pergi ke luar untuk melihat apa yang terjadi pada Cahaya. Richard lah yang ditugaskan Rudi untuk menghandle pesta yang masih saja berlangsung.


Sesampainya di bawah mereka sangat terkejut melihat keadaan Cahaya yang sangat memperihatinkan. Rambut panjangnya yang sudah tampak berantakan, sebelah pipinya sudah bercap warna merah dan ujung bibirnya mengeluarkan darah segar sedikit.


Plak...


Didepan mata mereka, Cahaya kembali ditampar dengan keras sehingga membuat Cahaya langsung jatuh.


"Hentikan..." teriak Andini sambil berlari memeluk menantunya, begitu juga dengan Jessie.


"Apa yang kamu lakukan Kiara? Apa salah menantuku?" tanya Andini dengan menatap tajam Kiara.


"Tanyakan pada menantu mu itu, apa yang telah dilakukannya pada putri ku! Lihat wajah putriku seperti ini..." ucap Kiara dengan emosi.


"Apa kamu pikir aku percaya begitu saja? Tidak akan, menantu ku wanita yang baik-baik. Seharusnya yang perlu kamu waspadai adalah putri mu itu" ucap Andini dengan emosi.


"Stop ma..." teriak Ryan emosi karena menurutnya mamanya telah menghina Nayla.


"Kenapa kamu membela mereka Ryan? Seharusnya yang kamu bela itu istrimu!" ucap Andini dengan emosi.


"Sayang sebaiknya kita pulang... Maafkan mama, karena membiarkan mu menghadapi mereka sendiri" ucap Andini sambil menuntun Cahaya untuk berjalan.


"Kiara, mulai saat ini persahabatan kita putus" ucap Andini dengan dingin.


"Tidak perlu berteriak dengan ku seperti itu. Pa, kita pulang..." ucap Andini.


"Ryan kamu juga ikut pulang, sekarang juga. Acara ini biarkan Richard yang mengaturnya. Kamu sungguh membuat papa dan mama kecewa" ucap Rudi sebelum mengikuti istrinya dari belakang.


Didalam mobil tak ada satu kata yang keluar dari mulut Cahaya, yang ada hanya tatapan kosong yang terlihat dimatanya. Melihat itu membuat Andini dan Jessie tampak sangat gusar. Selama dalam perjalanan pulang, sampai mereka di mansion, Cahaya tetap saja seperti orang yang tidak lagi memiliki semangat.


Setelah mobil berhenti Andini dan Jessie menuntun Cahaya untuk keluar dari dalam mobil.


"Sayang kamu duduk di sini dulu...." ucap Andini sambil menuntun Cahaya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Ma, pa... Tidak seharusnya kalian tidak boleh kasar pada Tante Kiara. Apa yang dilakukan Tante Kiara tidak ada yang salah" ucap Ryan dengan emosi yang baru saja masuk.


"Kenapa kamu malah membela mereka? Mereka sudah menyakiti istri mu! Lihat keadaan istri mu!" ucap Andini sambil bangkit berdiri.


"CK... Kenapa aku harus membela wanita ****** sepertinya..."


"Ryan..." teriak Rudi dengan emosi


Plak..


Andini menampar Pipi Ryan dengan keras karena ucapan Ryan yang sungguh membuat hatinya Cahaya semakin terluka.

__ADS_1


Ini sudah sekian kalinya Cahaya mendengar hinaan Ryan padanya. Sungguh membuat hatinya semakin terluka, karena sudah tidak sanggup lagi Cahaya ingin kembali ke dalam kamarnya.


"Ah.... Kenapa kalian membelanya?" teriak Ryan emosi sambil mengacak rambutnya. Cahaya yang sudah melangkahkan kakinya langsung berhenti dan menatap Ryan yang tampak sangat kacau karena kedua mertuanya membelanya. Setelah itu dia langsung berlari ke atas.


"Asalkan kalian tahu dia wanita rendahan, dia sudah tidak suci lagi..." sambung Ryan dengan emosi. Cahaya menutup matanya dengan air mata yang sudah tidak bisa dia bendung lagi, rasa sakit akibat pukulan yang diterimanya dari Kiara tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Karena pikirannya yang sangat kacau Cahaya tidak memperhatikan langkahnya, sehingga membuat dia jatuh dari tangga.


"Ryan..." lagi-lagi Rudi berteriak memanggil nama putranya itu. Karena ucapan Ryan membuat Andini memukul dada putranya sambil menangis.


"Ini semua salahku... Hiks hiks hiks hiks...Apa kamu tahu..."


"Tante, Aya..." Jessie langsung berteriak saat melihat Cahaya sudah berguling dari atas ke bawah. Andini langsung menghentikan ucapannya dan menoleh ke belakang.


"Aya..." teriak Rudi dan Andini sambil berlari menolong Cahaya.


-


-


Kini semuanya tampak memperhatikan dokter yang sedang mengobati luka di kepala Cahaya. Mereka sangat bersyukur karena luka Cahaya tidak berbahaya. Hanya luka kecil saja yang didapatkan Cahaya akibat jatuh dari tangga.


"Baiklah, kalau nona Cahaya sudah bangun tolong berikan dia minum obatnya dan jika terjadi sesuatu tolong langsung bawa saja ke rumah sakit" ucap dokter Stefanie pada Andini.


"Baik, dok. Terimakasih..." ucap Andini.


"Mari dok saya antar ke depan" ucap Rudi.


Andini dan Jessie terus berada di samping Cahaya, mereka ingin menunggu Cahaya bangun dari tidurnya.


Sedangkan Ryan sudah pergi entah kemana, Bisma lah yang selalu menemaninya. Saat Andini dan Jessie menuggu Cahaya bangun, Rudi datang dengan gelisah.


"Ma, Ryan kecelakaan..." ucap Rudi sambil menatap istrinya.


-


-


"Bisma apa yang terjadi? Kenapa seperti ini?" tanya Andini dengan meneteskan air matanya.


"Tante tenang lah, Ryan pasti baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Saat aku sampai dia sudah tidak sadarkan diri dan mobilnya menabrak pohon yang ada di pinggir jalan" jelas Bisma.


Mendengar hal itu membuat Andini langsung memeluk erat Rudi. Mereka tampak sangat cemas dengan keadaan putranya yang ada di dalam.


Saat pintu terbuka, Andini dan Rudi langsung berlari mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.


*****

__ADS_1


__ADS_2