IF...(Seandainya)

IF...(Seandainya)
Kedatangan Kiara


__ADS_3

Semua orang sudah pada berkumpul untuk sarapan, Cahaya masih tampak terlelap dalam tidurnya dengan tubuh yang polos dan hanya selimut saja yang menutupi tubuhnya. Karena ulah Ryan yang menggaulinya sampai jam dua pagi membuat dia kelelahan.


Berbeda dengan Ryan, Ryan sudah membuka matanya. Tapi tak ada tanda dari Ryan untuk mandi karena dia masih setia memandang wajah cantik istrinya. Wajah yang akan selalu dia rindukan setiap detik, menit, dan setiap jam nantinya.


Saat ini tangannya sudah berada di pipi mulus istrinya, dengan penuh kelembutan dia mengelus pipi istrinya.


Cahaya yang merasakan sentuhan, pelan-pelan membuka matanya dan melihat suaminya sedang menatapnya dengan tersenyum.


Cup.


Mata Cahaya membulat karena tiba-tiba Ryan mengecup bibirnya. Sungguh Cahaya sangat malu, malu karena dia belum cuci mulut. Dia takut kalau Ryan mencium aroma mulutnya yang tidak sedap.


"Morning kiss sayang..." ucap Ryan dengan tersenyum, Ryan tahu kalau saat ini istrinya sedang malu karena ulahnya yang tiba-tiba mencium istrinya.


Karena sangking malunya, Cahaya menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Ryan yang melihat itu tampak sangat bahagia karena melihat istrinya yang masih tampak malu-malu padanya. Inilah Cahaya yang dia kenal, dulu saat mereka masih pacaran saja, setiap mereka selesai menukar slavina mereka, Cahaya selalu saja menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena sangat malu padanya.


Ryan bangun dan menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya. Tentu saja Cahaya sangat kaget.


"A..apa yang kamu lakukan?" tanya Cahaya dengan gugup.


"Kita harus mandi sayang..." ucap Ryan sambil mengangkat tubuh polos istrinya.


"Aku bisa sendiri, yan..." Cahaya menolak untuk mandi bersama dengan Ryan.


"Tapi tidak dengan ku. Mulai hari ini kita akan selalu mandi bareng, kamu harus membantu ku..." ucap Ryan.


"Kamu seperti anak kecil saja..."


"Biarkan saja. Yang penting aku mandi bersama mu..." ucap Ryan.


Ryan meletakkan istrinya di atas kloset yang ada dalam kamar mandi mereka. Setelah itu Ryan mengisi bathtub dengan air hangat untuk mereka. Saat melihat air bathtub nya terisi Ryan kembali mengangkat tubuh istrinya. Mereka berdua memilih untuk lebih dulu berendam untuk merilekskan tubuh mereka.


-


-

__ADS_1


Disaat semua orang lagi sarapan, bel apartemen Cahaya berbunyi. Rudi langsung menatap kearah Andini yang juga sedang menatapnya.


"Sepertinya mereka yang datang..." ucap Rudi.


Bisma dan Kevin yang juga ikut sarapan tampak bingung dengan siapa yang dimaksud Rudi.


"Om, tahu siapa yang datang?" tanya Kevin.


"Ehm, om dapat kabar dari orang om Kalau keluarga Richard sudah menuju ke apartemen ini"


" Om Richard? Kenapa mereka kemari om?" Bisma tampak bingung saat mendengar penjelasan dari Rudi.


"Kamu akan tahu nantinya. Sekarang kalian beritahu pada Ryan kalau mereka sudah datang" ucap Rudi. Rudi dan Andini memilih untuk yang membuka pintu untuk keluarga Renaldo.


"Rudi, Andini..." gumam Renaldo dan Kiara bersamaan.


"Kalian..." Rudi dan Andini memilih pura-pura tidak tahu tujuan kedatangan keluarga Renaldo.


"Jangan salah paham, dulu Rud. Aku tahu kalau kalian masih sangat kecewa dengan apa yang ku lakukan pada menantu kalian. Tapi, aku ingin bertemu dengan Cahaya. Ada yang ingin aku bicarakan yang penting padanya. Bolehkah aku bertemu dengannya?" Kiara mengatakan hal itu karena dia dapat melihat jelas dari tatapan Rudi dan Andini kalau mereka tidak suka dengan kedatangannya.


-


-


Saat Cahaya dan Ryan yang berniat untuk keluar dari kamar, tampak tertegun melihat Bisma dan Kevin ada didepan pintu kamar mereka.


"Kak Aya, mereka datang..." ucap Kevin. Cahaya dan Kevin mengerutkan keningnya karena tidak mengerti siapa yang dimaksud Kevin.


"Mereka siapa, sih Kev? Kenapa wajah mu tampak tegang?" ucap Cahaya sambil menatap Kevin ya tampak tegang dari tadi.


"Yang dimaksud Kevin keluarga Mesya" ucap Bisma dengan tenang.


Mendengar nama Mesya membuat Ryan langsung menatap kearah istrinya. Dia melihat wajah istrinya yang tampak tidak semangat lagi, Ryan masih tampak bingung kenapa reaksi istrinya seperti itu. Ryan merutuki dirinya karena lupa kenapa istrinya menolak keras tidak menemui orang tua mendiang istrinya.


"Sayang apa kamu takut bertemu mama Kiara? Aku tahu kalau dia sudah menyakiti mu,. mungkin saja mereka datang untuk meminta maaf pada mu" ucap Ryan.

__ADS_1


"Kamu tenang saja aku akan selalu di samping mu, aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyakiti mu" Ryan berusaha untuk meyakinkan Cahaya. Cahaya menutup matanya dengan menghela nafasnya.


"Kak Aya.... Lebih baik kakak harus menyelesaikannya... Bukankah Bunda sudah mengatakan kalau kakak harus bisa menghadapinya dan menyelesaikan masalah kakak dengan Tante Kiara." ucap Kevin.


"Sayang..." Ryan memeluk erat pinggang Cahaya.


"Baiklah...." akhirnya Cahaya mau bertemu dengan Kiara.


-


-


Kiara, Renaldo langsung bangkit berdiri saat melihat kedatangan Cahaya dengan didampingi Ryan. Mereka melihat perubahan dari tubuh Cahaya, Kiara tampak sangat bahagia karena saat ini putrinya sedang mengandung dan dia melihat kalau Ryan seperti sudah menerima kehadiran Cahaya.


Sedangkan Nayla tampak mata menatap tajam penuh kebencian terhadap Cahaya, apalagi dia melihat pinggang Cahaya dipeluk Ryan dan dia melihat perutnya Cahaya yang tampak sedikit membuncit, Nayla sangat yakin kalau saat ini Cahaya sedang hamil.


Kiara yang sudah sangat merindukan putrinya berniat untuk memeluk Cahaya. Tapi saat dia mau melangkahkan kakinya menuju Cahaya, Kiara langsung mengurungkan niatnya karena ucapan Cahaya.


"Ku mohon tolong anda tetap ditempat anda, nyonya..." ucap Cahaya dengan ketus. Semua yang ada di ruangan itu dapat melihat jelas raut kesedihan di wajah Kiara.


"Sayang..." Ryan menegur istrinya dengan lembut.


"Ku mohon untuk sementara jangan melarang apa yang ingin ku katakan dan lakukan" Ucap Cahaya dengan dingin sambil menatap Ryan. Tentu saja membuat Ryan bingung dengan perubahan sikap istrinya.


"Lebih baik nyonya dan tuan kembali duduk, saya tidak akan sopan membiarkan nyonya Kiara dan tuan Renaldo berdiri" ucap Cahaya dengan dingin. Renaldo pun langsung menarik istrinya untuk duduk kembali.


"Ryan ajak istri mu untuk duduk dulu" ucap Rudi.


Ryan langsung membawa Cahaya untuk duduk, dan mereka duduk di hadapan keluarga Renaldo.


"Baiklah kita tidak bicara tutup poin saja. Saya tahu tujuan nyonya Kiara datang ke apartemen saya yang kecil ini." ucap Cahaya.


"Nak..." Gumam Kiara dengan terkejut.


"Tidak perlu memanggil saya dengan nak, karena saya bukanlah putri anda. Maaf kalau saya bersikap kasar dengan anda nyonya. Seperti yang anda tahu kalau saya anak yatim-piatu dan dibesarkan di panti asuhan." Kiara menggeleng kepalanya dengan meneteskan air matanya. Dia merasakan kalau saat ini hatinya seperti tertusuk duri karena Cahaya mengatakan anak yatim-piatu dan dibesarkan di panti asuhan.

__ADS_1


******


__ADS_2