Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 10 - Tidak ada rasa


__ADS_3

Tercenung, saat mentari menghangatkan dunia. Tapi tidak dengan Azzah yang merasakan salju di tengah hamparan padang tandus.


Pemikiran hati yang menjadi belenggu bagi Azzah sendiri, membuatnya tak punya keberanian menatap Ronald.


Rumit sebuah rasa yang tak tau arah berlabuh. Azzah menyuarakan di dalam hati kecilnya, ia akan menemui Ronald saat pulang kerja sore ini.


Kepulangan Ronald di sapa Azzah, dengan lengkungan indah yang menghiasi bibir Gadis itu. Azzah mengambil tas kerja Ronald, dan berusaha care terhadap Ronald. Sebelum ia tahu alasan Ronald mendiamkannya.


"Mas, kamu mau mandi atau makan dulu?"


"Aku nggak lapar, aku juga bisa mandi sendiri," jawab Ronald.


"Lihat bukan, Dia lebih aneh kali ini, aku yakin pasti ada apa - apa," batin Azzah.


Yang mencengangkan adalah ketika Ronald bersikap jutek. Tetapi Ronald mengakhiri langkah dan duduk di kursi makan.


"Aku masakin gudeg buat kamu, coba deh Mas Ronald cicipi," ucap Azzah sambil tanpa sadar, tangannya mengangkat hendak menyuapi Ronald.


Ronald membuka mulut dan terpaksa menerima satu suapan dari Azzah.


"Kamu pinter Mas, makanannya habis, mau nambah?" tanya Azzah saat Ronald menatapnya jemu.


"Aku bukan tong sampah apa saja masuk!" seru Ronald tak jelas, karena mulutnya penuh.

__ADS_1


"Mas jangan dipaksa kalau udah nggak enak ya," gumam Azzah dengan menaruh tangan menengadah di depan janggut Ronald.


Ronald menelan kasar sisa makanan di mulutnya. Dan segera menenggak air putih yang Azzah sodorkan.


"Mas kamu seret ... nih di minum dulu, yah?" ucap Azzah


"Lalu menurut kamu apa, kalau nggak haus, sudah pasti kecapean buru mau istirahat!" ketus Ronald.


Ronald menaiki anak tangga dengan hentakan kasar, seperti anak kecil yang sedang merajuk. Azzah mengikuti Ronald dari belakang.


"Mas tidur sama Azzah yah, ada yang Azzah mau - "


Sebelum menyelesaikan ucapannya. Ronald malah berjalan ke kamar milik Esme.


"Bisa biarkan aku sendiri kali ini?" tanya Ronald.


"Kamu tidak salah, Aku hanya tertipu dengan keluguan mu," balas Ronald.


Paginya


"Di mana Azzah?" tanya Ronald


"Dia masih di kamar mau aku panggilkan?" tanya Esme.

__ADS_1


"Nggak usah ... aku berangkat dulu," ucap Ronald.


Di dalam kamar Azzah


Azzah menangis, karena perkataan Ronald begitu menyakitkan untuk diingat Azzah.


Azzah menggigil karena Ia tak tahu bahwa Ac saat itu bocor. Azzah yang minim pengetahuan menyelimuti tubuh karena merasa tak enak badan.


Seharian Azzah tak keluar dari kamar, saat Ronald pulang pun Azzah tak kunjung turun.


"Azzah, apa dia di dalam sudah makan?" tanya Ronald pada Esme


"Sudah, Ronald lagian dia udah gede kalau lapar juga makan sendiri," kata Esme.


Ronald yang masih tak berdamai dengan hatinya, terus memusuhi Azzah tanpa tahu seseorang membutuhkan pertolongan di dalam sana.


Saat hendak memejamkan mata. Ronald gundah gulana, saat marah begini masih sempat bayangan Azzah terlintas di benak Ronald. Memunculkan gambaran senyuman Indah sang pemilik nama Azzah tersebut.


"Tolong." Azzah merintih karena kamar kedap suara semut pun tak dapat mendengarnya.


"Mas Ronald, tega kamu mas ..." lirih Azzah.


Dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh. Azzah yang lemas terus mengucapkan kalimat tasbih. Azzah bernazar di dalam hati.

__ADS_1


Siapapun yang membuka pintu kamarnya, jika itu wanita Azzah akan membalas budi. Tapi jika itu lelaki Azzah akan mencintai sepenuh hati, meski dalam diam.


Di setengah nafas yang tersengal, Azzah terus berusaha meraih gagang pintu. Hingga seluruh tenaga yang dikerahkan Azzah harus berhenti, karena Azzah tak sadarkan diri.


__ADS_2