Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 37 - Jitu


__ADS_3

**Paginya


Umi Fatma menyiapkan sarapan, Azzah pasti sudah lama merindukan masakannya.


"Wah wangi Umi, bikin ingkung, yah?" tanya Azzah


"Iyah hidung kamu tajam banget, Zah," kata Umi


"Ya karena Azzah udah hapal bau masakan Umi, familiar di hidung Azzah," seloroh Azzah.


"Sudah mateng Umi cuci tangan dulu, kita makan bareng," Ucap Umi.


Di meja makan Rumah lain


"Azzah meminta Ku merahasiakannya dari Umi Fatma," ucap Charlotte.


"Untuk apa menyembunyikannya toh nanti juga ujungnya ketahuan," balas Esme.


"Karena dari awal ini ulah Ronald, sebenarnya Aku tidak bisa menyalahkan Azzah dalam hal ini juga Mbak. Aku mengerti dia pasti khawatir tentang perasaan keluarganya," kata Charlotte.


"Perasaan ... perasaan keluarganya, dari awal juga kehadirannya memang tidak aku harapkan sama sekali. Ronald saja yang kukuh, kalau sudah begini semua kena getahnya," gerutu Esme.


"Aku tidak mau andil dalam hal ini," tolak Esme.

__ADS_1


"Mbak pikirkan lagi, ada baiknya juga demi menjaga nama Edwin dan keluarga Azzah. Apa jadinya kalau mereka tahu kita telah membohongi keluarga mereka. Apa hati seorang ibu sanggup melihat ibu lain tersakiti," sindir Charlotte pada Esme yang akan menjadi calon Ibu.


Esme mendelik mendapat singgungan halus dari Charlotte. Kenapa Charlotte jadi peduli pada Azzah, seharusnya biarkan saja Azzah tenggelam, karena memang dari awal Esme ingin sekali Azzah hengkang.


"Biarkan saja dia angkat kaki dari rumah ini, tanya saja pada Ronald untuk apa pusing - pusing, Kamu bodoh Charlotte, memangnya Azzah itu siapa kamu?" tanya Esme


"Bagaimana pun harus Ronald yang menyelesaikan ini, karena memang Ronald yang sudah memulai babak baru, jadi ya kalau mau tamat, Ronald sendiri yang buat episod, bagan nya Aku yakin sangat menarik," ujar Esme mengejek.


"Mba ... " ucap lirih Charlotte.


"Shhh, sini mana telponnya biar Aku yang ngomong ke Ronald, kalian ini terlalu lemot nggak suka Aku!" seru Esme.


"Hm, sabar Mba jangan marah," hela Charlotte.


"Nggak aktif, aku tinggalkan pesan suara saja, kenapa jadi mukamu yang tegang," cetus Esme


"Aku kasihan sama Azzah, apa lagi keluarganya, kamu nggak inget Mba mereka memperlakukan kita dengan baik. Apa Mba sanggup menghancurkan hati Umi Fatma, Abah Akbar mereka orang baik Mba," gumam Charlotte.


"Heh ini lagi mellow, jangan terlalu memakai hati, terkadang sesuatu juga perlu pakai logika, untuk apa pakai hati semuanya bisa binasa." Esme berkoar.


Esme sepertinya harus ikut dalam skenario ini. Entah wangsit dari mana hatinya mendadak mencelos.


"Baiklah Aku bantu," kata Esme terpaksa.

__ADS_1


"Terimakasih Mba, kita harus siap - siap Mba, Azzah akan mengajak Umi ke sini," ungkap Charlotte.


"Benar benar merepotkan, dih kalau bukan karena Ronald mana mau aku susah ribet kaya gini," gerutu Esme.


"Mba percayalah kebaikan akan di balas kebaikan," ucap Charlotte.


"Lalu kebaikan yang di balas kejahatan namanya apa, banyak kok mereka yang terlalu baik di manfaatkan, karena apa mereka gampang dibodohi, dunia tidak selamanya berpihak pada orang polos," ujar Esme.


"Sudah tahu begitu tapi masih tidak mengerti gadis sebaik Azzah," gumam Charlotte dalam hati.


"Jangan memakiku dalam hati," celetuk Esme.


"Lalu aku yang lagi balon gini, harus bilang apa ke Uminya, masa aku bilang anakku anak satpam depan, ya kali!" seru Esme


"Mereka cuma tahu kita keponakan Ronald, bilang saja Mba sudah menikah, dan suami lagi di luar kota," resah Charlotte.


"Ya emang Ayahnya di luar kota," tandas Esme


"Mba aku serius," kata Charlotte.


"Iya emang bener, kan?" tanya Esme.


"Iyah iyah Bumil," jawab Charlotte**.

__ADS_1


__ADS_2