
Di kediaman Edwin
Ronald menapaki rumahnya dengan perasaan asing.
"Ini rumah kita," tuntun Charlotte.
"Rumah ini sangat besar, apa benar aku sekaya itu?" tanya Ronald.
"Hm, bukan hanya kaya harta, Suamiku ini tampan," goda Charlotte.
"Selamat datang tuan Ronald," sapa Pengasuh Zero
"Bayi laki - laki itu putramu, Suamiku!" seru Charlotte.
"Putraku, ternyata aku ahli membuat anak," ceplos Ronald.
"Dan itu Zarina," kata Esme
"Dia putri Kita!" tegas Esme.
"Kemari, aku ingin melihat wajahnya," ucap Ronald pada pengasuh Zarina.
Sedangkan Azzah berdiri di belakang Ronald dan Charlotte, terus mengelus perutnya.
"Dek, apa kamu yakin mau tinggal di sini," bisik Mirza
"Kakak, besok pulang saja, Azzah nggak papa, kok lagian Azzah tinggal di rumah belakang," ujar Azzah.
"Apa jadi kamu tinggal terpisah, bagaimana bisa, kamu sedang hamil bagaimana jika ada apa - apa," ujar Mirza panik.
"Kak, Azzah bisa jaga diri, lagian nggak mungkin Mas Ronald nggak peduli sama Azzah," ucap Azzah
"Sekarang Ronald tidak mengenalimu, kamu sendiri yang harus berusaha sabar, setidaknya buat dia kembali mengingatmu secepatnya," ungkap Mirza.
__ADS_1
"Iya Kak." Azzah menjawab Mirza dengan perasaan teriris, manakala membayangkan Ronald begitu acuh kepadanya.
"Azzah kemari," panggil Ronald
"Kak, dia memanggilku," senggol Azzah pada Mirza.
Mirza tersenyum.
"Kamu sedang hamil, di mana suamimu, apa dia bekerja di sini?" tanya Ronald.
"Mas A - ku,"
"Suaminya pergi setelah menghamilinya!" seru Esme
"Mbak!" teriak Charlotte.
"Cukup." Mirza menarik Azzah untuk menjauh dari Ronald.
"Kakak, sudah bilang di sini tidak ada yang menghargai kamu, lebih baik kita pulang ke desa saja," ungkap Mirza
"Baiklah," tandas Mirza.
Ronald heran dengan situasi ini, perasaan macam apa yang begitu menusuk hatinya. Entah mengapa Ronald merasa tidak terima dengan perlakuan Esme pada Azzah.
"Esme bisakah kamu sedikit bersikap baik, kasihan dia sedang hamil," kata Ronald
"Ronald dia itu sebenarnya -" potong Charlotte.
Esme melotot ke arah Charlotte mengisyaratkan untuk tutup mulut.
❤️❤️❤️
.
__ADS_1
"Kakak tidak tega meninggalkan kamu sendiri," ujar Mirza.
"Azzah bisa tidak kamu jangan terlalu lemah menghadapi mereka, kamu itu punya hak di sini, bersikap tegas demi bayi yang ada di dalam kandungan ini. Kakak yakin dia juga merasa sedih jika ibunya sedih," ujar Mirza.
Azzah merasa ucapan Mirza ada benarnya.
"Baiklah, Kak, terimakasih untuk semuanya," peluk Azzah pada Mirza.
Di kamar mandi
Ronald mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower dengan gelisah.
"Wanita itu apa benar dia pembantu, tetapi kenapa hanya dengan melihatnya hatiku menjadi tenang," gumam Ronald.
"Charlotte, ambilkan handuk aku melupakannya," teriak Ronald dari dalam toilet.
"Suamiku kamu melupakannya segalanya, Aku, mba Esme, dan Azzah, kasihan Azzah Ronald, aku bisa gila lama - lama menuruti Mbak Esme," gumam Charlotte.
"Iya tunggu sebentar," jawab Charlotte.
"Nih, suamiku,"
Saat Ronald akan menarik handuk dari tangan Charlotte. Charlotte justru menahannya.
"Ada apa?" tanya Ronald menutup setengah pintu.
"Hehe, nggak," jawab Charlotte meringis.
Charlotte melepas handuk tersebut.
Charlotte sedikit jahil karena dulu kebalikannya. Ronald yang sering menjahili Charlotte.
Ronald keluar kamar mendi dengan rambut basah, mengibaskan di depan Charlotte.
__ADS_1
"Meskipun hilang ingatan, dia tetap Ronald suamiku. Dia terlampau tampan, astaga aku tidak tahan untuk tidak menyentuhnya," batin Charlotte.
"Kenapa lagi?" tanya Ronald dengan bibir seksi bak dewa yunani.