
Tok tok tok
Charlotte membuka pintu dengan sapaan senyuman.
"Ternyata ada tamu, Umi apa kabar?" tanya Charlotte.
"Ayok Umi, masuk dulu, maaf Charlotte nggak tahu kedatangan Umi," bohong Charlotte.
"Iya, nggak papa, cah ayu," sahut Umi.
Esme datang tak lama.
"Umi," pekik Esme
"Wah, kamu lagi isi, Esme sudah berapa bulan, Nak?" tanya Umi.
"Jalan lima bulan Umi," jawab Esme.
"Kalian tinggal bersama?" tanya Umi melirik Charlotte.
"Aduh," gumam Charlotte.
Esme tetap tenang menghadapi pertanyaan jebakan Umi Azzah.
"Iya suamiku lagi di luar kota Umi, jadi Esme menemaniku selama kepergiannya," ungkap Esme.
"Kebetulan juga suami Azzah di luar kota," ucap Umi.
"Umi udah jangan bawel," kata Azzah membuat Umi Fatma duduk.
"Wah, Azzah Umi jadi pengen pindah ke kota, rumahnya bagus bagus hehe," canda Umi malah mendapat guratan kepanikan, dari Charlotte dan Azzah terkecuali Esme.
Esme mempersilahkan Umi Azzah meminum teh dan sajian jajanan khas betawi.
"Dodol nya manis kaya kalian," puji Umi
"Dodol ya dodol aja, dari dulu dodol emang manis, nggak tahu sama Charlotte yang beneran dodol!" seru Esme dalam hati.
"Nak boleh Umi lihat - lihat rumah ini, kayaknya Umi ada rencana renovasi rumah di kampung," gumam Umi.
"Umi biar Esme sama Esme aja sekalian Esme olahraga," kata Esme
__ADS_1
"Bareng aja," Kata Charlotte tak sepenuhnya percaya pad Esme.
Di saat berjalan jalan mengitari ruangan, langkah Umi terhenti pada hiasan dinding yang terpampang jelas.
"Ronald seperti berfoto dengan selirnya mesra sekali," gumam Umi.
"S - selir hhha Umi aduh perut Azzah kaku Umi kalau ketawa terus," sambar Azzah
"Emang biasanya kamu nggak ketawa, yah!" tekan Umi Fatma.
"Umi, Mas Ronald cuma punya Esme dan Charlotte, jelas mereka terlihat saling menyayangi," tambah Azzah
"Tapi, kan udah ada kamu juga Zah, kamu Istri Ronald, seharusnya foto ulang," saran Umi
"Umi Azzah nggak masalah, kok yang penting Mas Ronald baik, sayang sama Azzah, lagi pula kita semua pada sibuk, nanti kalau ada waktu kami sesi foto keluarga lagi," jawab Azzah mengelus pundak Uminya.
.
.
Ada yang sakit tapi bukan hati, lebih pada kenapa putrinya di perlakukan beda, apakah Azzah benar baik saja selama tinggal di sini. Umi memindai ke tiga nya. Mereka menunduk.
Charlotte mengalihkan Pembicaraan.
"Ikan nya banyak, di goreng lah," kata Umi
"Umi itu ikan hias, lagian kasihan juga mereka itu peliharaan Mas Ronald," jawab Azzah
"Oh, jadi kesayangan Suami kamu," tandas Umi.
Umi duduk di tepi kolam.
"Eh eh Umi mau ngapain," kata Azzah
"Duduk Umi suka udara di sini sejuk," balas Umi
"Umi Esme istirahat ke kamar dulu, yah," ucap Esme
"Iyah Nak, Umi tahu orang hamil lebih gampang lelah,"
"Iya Umi," balas Esme.
__ADS_1
"Nah gini, kan enak sambil nyemil, kita ngobrol - ngobrol trus kasih makan ikan juga," ucap Charlotte.
"Iya ini afdol," jawab Umi
"Umi di kampung gimana apa ada kemajuan pembangunan," kata Charlotte.
"Ronald berniat membeli perkebunan teh Umi, katanya mau di bangun apa gitu, Umi kurang inget namanya, Ariesta apa itu lupa Umi," ujar Umi.
"Trus menurut Umi gimana," pancing Charlotte.
"Mas Ronald beli perkebunan?" Azzah mengernyit.
"Masalahnya itu hasil jerih payah Abah dari nol, dari waktu Mirza masih kecil. Abah mungkin berat melepaskannya, karena perkebunan tiga ribu hektar itu menyimpan banyak cerita," ujar Umi.
"Jadinya?" tanya Charlotte.
"Mungkin Abah tidak akan memberikannya sekalipun menantunya sendiri. Mirza pun belum di percaya untuk sepenuhnya mengelola, karena Abah lebih tahu kalau Azzah lebih telaten," jelas Umi.
"Kok Azzah di bawa - bawa Umi, kasih tanggung jawab ke Bang Mirza aja," ucap Azzah
"Mirza punya Istri rada serakah, Umi sama Abah kamu kurang setuju," balas Umi.
"Maaf Nak Charlotte Umi jadi kelepasan," ucap Umi.
"Aman Umi." Charlotte menampilkan senyum.
"Barti Perkebunan teh tidak mungkin jatuh ke tangan Ronald, tidak ada harapan," batin Charlotte.
Selagi Abah masih hidup, Abah akan mengelolanya sendiri, tapi yang Umi Fatma tutupi adalah wasiat Abah sudah di buat mutlak di jatuhkan pada Azzah. Sebagai pemilik perkebunan teh tersebut.
"Umi Abah sehat, kan di kampung semuanya sehat?" tanya Azzah.
"Pulang lah ke rumah Azzah sesekali, Abah mungkin kangen sama Kamu, Nak," ujar Umi
"Iya Umi insyallah," jawab Azzah.
"Abah sehat, hanya sering mengeluh sakit di dada kirinya," kata Umi.
"Suruh Abah mengurangi kebiasaan minum teh setiap hari Umi, apalagi teh desa itu pekat banget," peringat Azzah.
"Kamu kaya nggak tahu Abah aja, Zah zah!" seru Umi.
__ADS_1
Charlotte terus menyimak Pembicaraan ke duanya.