
Di keheningan malam, Azzah memilih bungkam dengan perasaannya saat ini, rasa yang mulai tumbuh dan menjalar menggoyahkan hatinya.
Tapi perlakuan Ronald tidak menganggap Azzah. Bahkan Azzah merasa dikucilkan, tidak ternilai di mata mereka.
Hari demi hari, Ronald semakin menjauhi Azzah, hal yang membuat Azzah malah merasakan ada yang kurang di kesehariannya. Ronald lebih sering menghabiskan waktu bersama Charlotte.
Apalagi Esme yang sama sekali terlihat tidak menyukai Azzah. Di saat makan malam kemarin, Mereka mendiamkan Azzah, tanpa di tanya dan di ajak ngobrol, yang ada hanya diskusi antara tiga orang.
"Ya allah Azzah serahkan semuanya kepada - Mu ya Rabb ... " ucap Azzah di sela sujud nya.
Sakit hati? hadirnya tidak dianggap penting, sebenernya apa masalah Azzah dan apa yang mereka permasalahkan. Azzah mengusap linangan air matanya. Kemudian segera menutup mata untuk tidur.
Pagi - Pagi Azzah sudah pergi joging di sekitar rumah, berharap mendapat udara segar untuk mengalihkan rasa sedihnya.
"Hei ... " sapa Pemuda bertubuh atletis.
"Kamu baru tinggal di sini?" tanya Pemuda tersebut.
"Sudah beberapa bulan," jawab Azzah datar.
"Kenalin nama ku Badar," ucapnya
"Azzah," tandasnya tanpa mau menatap pemuda yang mensejajarkan jalan bersama Azzah.
Cincin kawin yang tersemat di jari manis Azzah, membuat Badar berkesimpulan kalau Azzah sudah menikah. Dan menjadi milik orang lain .
" Maaf, Sudah nikah, yah BTW kamu kerja atau jadi ibu rumah tangga?"
"Aku belum punya anak," jawab Azzah
__ADS_1
"Hm gitu, rumah kamu di mana?"
"Maaf Mas Badar, saya harus segera pulang," pamit Azzah risih.
Karena bagaimanapun Ronald adalah suaminya, sebagai seorang Istri kehormatan Azzah adalah kehormatan Ronald. Azzah meninggalkan Badar tanpa sedikitpun menatap wajah si pemilik wajah ala arab itu.
Di dalam rumah
"Kemana Azzah?" tanya Ronald
Esme, Charlotte dan Ronald sedang menyantap nasi goreng buatan ART baru mereka.
"Aku nggak tahu," balas Esme
"Tadi Mbok lihat Nyonya muda pakai trening keluar rumah, Tuan." Si Mbok
Ronald menaikan alis sambil menahan sedikit rasa kesal.
"Makasih Nyonya,"
"Iya Mbok, lain kali masakin yang lebih pedes," ujar Charlotte.
.
.
Tibalah di saat Azzah datang. Azzah yang datang berjalan ke ruang makan sambil menyeka keringatnya.
"Dari mana?" tanya Ronald tanpa menatap Azzah.
__ADS_1
"Azzah lari pagi mas, maaf belum izin," ungkap Azzah
"Kamu bisa nggak menghargai Aku sebagai suami kamu!" seru Ronald
Perkataan Ronald dengan nada tinggi menyentak, membuat Si Mbok lekas ke dapur dan dua Istri Ronald diam tak berkutik.
"Mas aku cuma pergi olahraga pagi, kenapa kamu marah, sih, " kata Azzah
"Kamu tahu nggak jadi Istri tidak bisa melayani suami dengan benar, ternyata juga lancang!" sentak Ronald
"Kamu tahu saya membawa kamu ke kota supaya nggak kampungan lagi, kamu bisa belajar sama Esme dan Charlotte untuk bersikap, selama aku mendiamkan kamu ternyata tidak lantas membuat kamu instrospeksi diri," ujar Ronald
"Emang salah Azzah di mana mas, selama ini Azzah nurut ko sama mas Ronald," jawab Azzah.
"Jangan menjawab kalau suami lagi nasehatin," sewot Ronald.
"Mas Azzah selama ini selalu berusaha melayani Mas Ronald dengan baik," balas Azzah
"Menurut siapa, menurut kamu, kan!" bentak Ronald.
"Pulang saja sana ke rumah orang tua kamu," usir Ronald
Dengan isak tangis Azzah berlari ke kamar nya. Azzah mengunci pintu rapat, Azzah luruh menapaki lantai dengan kaki gontai.
Sementara di meja makan Ronald yang kehilangan kendali. Mulai menyadari ucapan yang barusan, karna Ronald terbawa emosi.
Ronald mengusap kasar wajahnya.
"Suamiku, Azzah dimarahin, sih kasihan," kata Charlotte.
__ADS_1
Sedangkan Esme menyeringai. Sebab usahanya berhasil memanasi Ronald, sebagai ular betina Esme punya racun berbisa, yang tidak bisa di tebak kapan akan unjuk gigi.