
Azzah merasakan pusing hebat di kepalanya. Dengan pandangan wajah kosong Azzah mencoba meraih Umi.
"Umi kepala Azzah sakit sekali," ucap Azzah
"Mirza antar Adik kamu pulang," ucap Umi pada Mirza yang tengah memijat pelipisnya.
Mirza cemas menunggu keadaan Abah siuman.
"Lebih baik kamu pulang, Nak biar Umi saja yang menjaga Abah," kata Umi pada Mirza
"Mirza anter Azzah, abis itu ke sini lagi," ucap Mirza mengusap lembut pundak Umi.
"Jaga kesehatan kamu, Nak minum obat abis itu istirahat, ingat ada cucu Umi di sana," ucap Umi pada Azzah.
"Besok Azzah ke sini Umi," ucap Azzah.
"Sudah jangan memaksakan keadaan, Nak Abah juga pasti akan sedih kalau kamu sedih? " ucap Umi.
"Doakan saja Abah," ucap Umi lagi.
🥀🥀🥀
Di sisi lain Ronald.
Ronald pulang bersama dua bayi kembarnya, yang di gendong oleh dua baby sitter barunya Zero dan Zarina. Sementara Esme yang lumpuh di tuntun di kursi roda oleh Charlotte.
"Mbak kita makan dulu, yah kamu belum makan dari pagi," kata Charlotte.
"Aku tidak mau makan," ketus Esme.
Ronald yang menenteng koper Esme mendadak berhenti berjalan.
__ADS_1
"Makan sayang, kasihan Zero dan Zarina mereka butuh Asi kamu," kata Ronald.
"Kemana Istri ke tiga kamu itu, kenapa dia enak- enakan keluyuran wah!" seru Esme.
"Azzah di kampung," tandas Ronald.
Esme menaikan alis.
"Di desa?" tanya Esme
"Iya memang kenapa, lagian kalian juga tidak rukun, ada angin apa kamu mencari Azzah?" tanya Ronald.
Esme memiliki ide untuk membuat Azzah semakin menderita.
"Semua ini gara -gara dia Aku lumpuh, Aku mau dia yang bertanggung jawab, semua kegiatan terapi ku harus dia yang mendampingi," ujar Esme.
"Esme bisa tidak kali ini saja, nurut sama suami kamu. Azzah tidak mungkin merawat kamu!" seru Ronald
Charlotte membisikan ke telinga Esme.
"Oh jadi begitu, baguslah, memang sudah waktunya kalian berpisah, untuk apa mempertahankan Azzah kecuali kalau kamu mau hancur bersama," sembur Esme.
"Esme makan lalu istirahat," ucap Ronald sabar menghadapi Esme, sembari mencium kening Esme.
"Aku mau kamu tidur bersama Ku Zero dan Zarina sampai Aku sembuh!" seru Esme.
"Iyah Esme asal kamu sembuh sudah jangan marah terus." Ronald berusaha memaklumi Esme.
Charlotte mengangguk pasrah mendapat lirikan dari Ronald.
Ronald bisa apa saat watak keras Esme sudah timbul. Di saat rasa rindunya amat mendera pada Azzah, hanya untuk sekedar menyentuh pun Ronald terpisah jarak. Apalagi Abah melarang mereka bertemu.
__ADS_1
Dengan segenap niat. Ronald membasuh wajahnya dengan air wudhu, sholat pun Ronald tunaikan.
"Maafkan hamba - Mu yang telah lama melupakanmu ya allah. Dengan segala kuasa- Mu, tolong luluhkan hati mertua hamba, agar bisa menerima seperti sediakala," gumam Ronald.
"Sesungguhnya Engkaulah Dzat yang maha pengampun lagi maha penyayang, Amin." Ronald meneteskan air mata, tak kala tubuh dan hatinya bergetar bersujud di atas sajadah.
"Suamiku?" tanya Charlotte.
"Kamu sedang apa?" tanya Charlotte yang timbul dari balik pintu kamar Ronald.
"Ya allah," batin Ronald.
Ronald merasa bersalah karena kesibukan dan urusan dunia, membuatnya melupakan ibadahnya.
"Kemari Charlotte," kata Ronald.
"Sebagai mualaf maafkan Aku jika belum sempat mendidik kamu dan Esme tentang sholat," kata Ronald.
"Sholat yang seperti Azzah sering lakukan?" tanya Charlotte.
"Iyah," tandas Ronald.
"Aku mau belajar Sholat Suamiku," balas Charlotte.
"Tentu," jawab Ronald.
"Oh ya, kapan kamu mau bawa Azzah pulang, Suamiku?" tanya Charlotte.
"Jika semuanya sudah membaik, situasinya masih tidak memungkinkan. Aku serba salah, dan memang bersalah," kata Ronald berkecil hati.
Charlotte memeluk Ronald sambil menepuk punggung Ronald.
__ADS_1
"Aku ingin kamu bahagia Ronald dan Aku tahu bahagia kamu bersama Azzah, ketulusan kamu ada padanya," batin Charlotte.