Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 43 - Pisah ranjang


__ADS_3

Jangan pisahkan Aku dan Dia


Tuhan tolonglah, Ku cintai Dia


Biarkan kami tetap bersama


Di dalam suka duka 🎶 🎶 🎶


.


"Argh!" teriak Ronald


Ronald menepikan kendaraannya. Ia tak menyangka rencana bahagia bersama Azzah, malah menjadi masalah baru yang mengacaukan pikiran Ronald saat ini.


Niat hati ingin bersama menjenguk mertuanya. Mendapat pukulan dari Mirza dan di usir oleh Abah akbar.


"Argh!" Ronald berteriak sambil memukul stir mobilnya.


"Tidak, Aku harus memperjuangkan Istriku," gumam Ronald.


Bagaikan batu karang yang terkena deburan ombak dan mengikis karena air garam.


"Cari tahu siapa pelakunya, usut sampai tuntas!" tekan Ronald pada orang suruhan Ronald.


Di rumah kampung


Azzah menahan tangis dengan membekap mulutnya dengan bantal. Karena adu mulut antara Abah dan Umi semakin terdengar.


"Abah tidak akan membiarkan Si Ronald menyentuh Azzah, dia sudah menipu kita Umi," jengkel Abah

__ADS_1


Mirza tak kalah tersulut.


"Bisa - bisanya adikku di jadikan Istri ke tiga, Aku terlalu ceroboh mempercayakan orang asing mempersunting adikku," gumam Mirza mengepalkan tangan.


"Abah Mirza apa kalian tidak melihat Azzah begitu terpukul. Mereka saling mencintai," ucap Umi.


"Cinta dengan mempercayai dia sebagai klien dan menantu kita. Lalu dengan tipu muslihatnya dia menjebak kita untuk menandatangani dan melepaskan kepemilikan perkebunan teh dengan menikahi Azzah, begitu?"


"Brengsek!" teriak Mirza


Di kamar


Azzah yang tidak mau kunjung memakan makanan buatan Uminya.


"Sayang, Umi tahu apa yang Azzah rasakan, tapi Umi juga tidak bisa membenarkan kalian, kenapa Azzah tidak jujur saat dulu Umi ke kota?" tanya Umi.


"Maaf Umi," lirih Azzah tak bisa berkata lagi.


Azzah mengangguk.


😍😍😍


"Dia calon ayah dari anakku Umi, bagaimana mungkin aku membencinya ... " ucap Azzah lirih


"Azzah kamu hamil, Nak?" tanya Umi.


"Iya Umi, Azzah baru tahu kemarin, tapi kini semua terlambat. Abah menjauhkan anak ini dari ayahnya," gumam Azzah.


"Tidak Umi tidak akan membiarkan cucu Umi menderita tanpa seorang ayah. Umi akan bicarakan ini dengan Abah mu yang keras kepala itu," cetus Umi.

__ADS_1


"Jangan sekarang Umi percuma, biar saja Abah dan Kak Mirza berdamai dengan hatinya. Mereka perlu waktu untuk menerima," ujar Azzah


Umi Fatma menangis dan mengelus punggung putrinya.


"Kamu masih punya Umi. Abah mu akan berhadapan dengan Umi," kata Umi.


Di sisi lain


Mirza mengacak semua dokumen, mencari salinan sertifikat tanah. Yang di sebut palsu oleh Abah nya di antara tumpukan berkas penting.


"Ternyata Ronald benar mengincar perkebunan untuk dijadikan proyek besarnya, dasar lelaki licik memperdaya adikku," ucap Mirza


"Apa Abah tidak percaya padaku hingga menyerahkan kebun pada anak perempuannya," kata Mirza.


"Dia hanya menjaga hartanya agar tidak jatuh ke pihak yang salah," tambah Istri Mirza


"Bodoh, Azzah itu putri kesayangan Abah sedangkan kamu cuma Putra yang di butuhkan sewaktu - waktu saja," sembur Istri Mirza.


"Aku tidak butuh nasehat menyesatkan," ucap Mirza.


"Hidih di bilangin ngeyel. Orang harta warisan bakal jatuh ke tangan adik kamu, kamu cuma dapet ala kadarnya," kompor Istri Mirza.


"Aku tidak mempermasalahkan itu, toh Azzah juga adikku," tanda Mirza


"Emang susah ngomong sama orang alim, dimana mana bawanya agama," kata Istri Mirza.


"Kamu yang harus bersihin pikiran tentang duniawi, mati tidak membawa harta. Amal ibadah kamu yang akan di hisab" kata Mirza.


"Iya - iya Pak Ustadz!" tekan Istri Mirza.

__ADS_1


"Abi!" teriak anak Mirza


"Hm jagoan Abi," gumam Mirza memeluk putranya.


__ADS_2