
**Zayn terjatuh dari tempat tidur. Tangisan Zayn membuat Azzah panik berlari saat tengah memasak di dapur.
"Ya allah Zayn," ucap Azzah mengambil alih Zayn dari Pengasuhnya.
"Nyonya maafkan saya tadi tertidur dan lalai menjaga Zayn, maaf Nyonya," ucap Pengasuh Zayn merasa bersalah karena Zayn sampai mendapat benjolan di kepalanya. Mungkin karena terbentur.
Zayn menangis di pelukan Azzah. Azzah langsung menepuk punggung Zayn dengan hati - hati.
"Maaf sayang kamu kesakitan, yah maaf sayang," ucap Azzah mencium tangan Putra kecilnya itu.
"Nyonya," ucap Si Pengasuh
"Lain kali hati- hati, jika lelah istirahatlah jangan memaksakan diri," ucap Azzah
"Saya permisi, Nyonya, maaf sekali lagi,"
"Hm," balas Azzah
Azzah menaruh Zayn di ranjang tidurnya.
"Zayn bobo sama mama saja, yah," ucap Azzah menyusui Zayn.
Zayn yang sudah tenang lalu tertidur pulas kembali. Azzah mengobati memar di kepala Zayn dengan salep yang aman untuk balita.
"Aku rasa tidak ada yang salah dengan tempat tidur Zayn, kenapa bisa jatuh," batin Azzah.
Walaupun Zayn belum bisa berbicara, tapi Zayn termasuk balita yang aktif ketika tidur. Azzah sering kali melihat Zayn tersenyum kala Azzah mengajak bicara Zayn. Walau balita tersebut sedang terlelap. Zayn meresponnya ucapan Azzah dengan senyuman.
Azzah yang merasakan lapar pergi ke ruang makan untuk mengisi perutnya. Tak ingin meninggalkan Zayn. Azzah menaruh Zayn di troli bayi sambil mengawasi Zayn.
"Lebih baik begini, Aku sangat takut, melihatnya menangis saja membuat dada ku nyeri," batin Azzah.
Nasi kebuli yang Azzah buat sungguh gurih, penuh rempah dan nikmat.
"Nyonya kenapa tidak buka bisnis kuliner saja," usul Art
__ADS_1
"Masakan nyonya lezat, saya tidak pernah mencoba nasi seenak ini, " puji Art.
"Terimakasih, Bi," balas Azzah.
"Wah pemandangan apa ini, pembantu lancang sekali dia duduk sejajar makan bersamamu?" tanya Esme berjalan membusungkan dada.
Esme datang tidak diundang, main duduk di ruang makan.
"Aku yang menyuruhnya Mba. Aku tidak keberatan kok," ucap Azzah
Art itu pamit ke belakang karena meraka tak enak dengan kedatangan Nyonya pertama.
"Jangan terlalu baik pada seseorang atau dia akan menggigit mu suatu saat!" tekan Esme.
Azzah tak menanggapi omongan Esme.
"Nyenyak sekali, Putramu," kata Esme mendekati Zayn
Tanpa sepengetahuan Azzah. Esme menaruh bubuk alergi pada selimut bayi Zayn.
"Oh itu, Aku kemari untuk memberi tahu mu, nanti malam untuk acara makan bersama," ungkap Esme duduk kembali.
"Iyah Mbak, Aku pasti datang," jawab Azzah
"Mbak sudah makan, makanlah cicipi ini masih hangat," ucap Azzah
"Tidak, terima kasih Aku sudah makan, ya sudah aku kembali dulu, jangan lupa nanti malam," ucap Esme.
Esme berbalik dengan seringai yang menakutkan.
"Rasakan itu, jika aku tidak bisa menyakitimu, anakmu yang menjadi gantinya," gumam Esme di dalam hati.
Esme pergi dengan kesenangan yang berkali- kali lipat.
Malamnya.
__ADS_1
Azzah tengah sibuk dandan, lalu setelahnya menengok Zayn.
"Zayn sayang kok, tumben kamu bobonya nyenyak banget sayang," ucap Azzah menyentuh lengan putranya.
"Zayn sayang, badan kamu, kok dingin banget," panik Azzah
Azzah memanggil Art untuk menyiapkan air hangat dan handuk.
Azzah mengangkat Zayn dan berusaha membangunkan putranya.
"Zayn sayang, bangun, Nak, jangan buat mama cemas sayang,"
🥀🥀🥀
Azzah menelpon Ronald.
Di jalan Ronald merasa handphone di sakunya bergetar.
Panggilan terhubung
"Mas cepat pulang Zayn sakit, Mas, cepat!" tegas Azzah
Ronald segera menyuruh sopir mempercepat laju kendaraan.
Sebisa mungkin Azzah menghangatkan tubuh Zayn dengan memeluknya erat.
cekuk
Zayn cegukan.
Azzah bertambah panik, saat melihat kulit tubuh Zayn penuh dengan bintik kemerahan.
"Ummi." Azzah tiba - tiba memanggil nama Uminya.
"Ya allah, ada apa dengan putraku," gumam Azzah**.
__ADS_1