
Azzah terbangun di pagi hari tanpa Ronald di sampingnya.
"Apa dia sudah kembali pagi buta?" gumam Azzah mengucek matanya.
Azzah mengingat malam, di mana Ronald sepanjang malam memeluk Azzah dengan penuh kasih sayang.
"Sayang kamu pasti seneng, kan." Azzah mengelus perut sambil tersenyum, baginya pagi ini adalah pagi terindah.
Mood Azzah sedang baik. Dia ingin mengabari Mirza melalui telepon, bahwa Ronald sudah bisa menerimanya dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Azzah menelpon Mirza berlanjut pada kejahilan Reno, keponakannya yang terus menarik sarung Mirza. Saat melakukan video call.
"Reno nggak boleh gitu sayang, anak pinter sini," panggil Uci.
Seaktif apapun Reno, Uci tidak pernah mengatai Reno anak nakal atau dengan perkataan yang kurang berfaedah. Baginya ucapan adalah doa, dan sebagai orang tua Uci paham. Bahwa ucapan seorang Ibu adalah obat sekaligus petaka. Maka dari itu Uci selalu berkata yang baik - baik, sekalipun kenakalan Reno menuruni dirinya.
Di seberang sana Azzah terkekeh geli. Tanpa Azzah sadari Ronald datang dan memeluknya dari belakang.
"Kamu ngapain sayang," kecup Ronald di pundak Azzah.
Mirza dan Uci yang melihat secara tidak langsung melongo di buatnya.
"Kak, sepertinya sampai di sini dulu, nanti Azzah telepon lagi, dah!" seru Azzah gugup.
Azzah berbalik menatap Ronald.
"Mas kamu nggak malu apa, di lihatin Kakak sama keponakanku bahkan tadi, ih ..."
Azzah menguncir bibir kecilnya itu.
"Refleks sayang, lagian Mas nggak tahu pengen nempel mulu sama kamu bawaannya," kata Ronald
__ADS_1
"Gombal, waktu di rumah sakit aja di usir - usir, sekarang di peluk - peluk," ungkap Azzah.
Ronald menggaruk tengkuknya.
"Mas kamu, kan biasanya pagi udah sama Zero dan Zarina loh," ucap Azzah
"Zero lagi sama mamahnya, Zarina lagi sama Charlotte," ujar Ronald.
"Terus Aku sama kamu." Ronald mencolek dagu Azzah.
"Shhh," pekik Azzah
.
.
"Mas Aku hari ini ada jadwal cek kehamilan, kamu mau nggak nemenin Aku?" tanya Azzah
"Ayok, Mas siap kapan aja, Kok," balas Ronald
"Tunggu ya Mas, Azzah siap - siap dulu," kata Azzah
Ronald mengangguk.
Di rumah sakit
"Dok, itu hasil dari bibit yang aku tanam?" tanya Ronald bar - bar.
Azzah meremas paha Ronald.
"Mas jangan tanya gitu, Azzah malu," bisik Azzah
__ADS_1
Sedangkan dokter wanita itu hanya menyunggingkan senyum, melihat pertikaian kecil di antara pasangan tersebut.
"Pak, tolong untuk dua bulan ke depan, anda harus siap menjadi suami siaga, karena kehamilan masa tua ini, Istri sering kali butuh perhatian lebih dan peran cekatan suami," ucap Dokter.
"Terimakasih, Dok, pasti saya usahakan yang terbaik, untuk mereka." Ronald mengecup kening dan bergantian mencium sekilas perut Azzah.
"Jagoan papah, kamu sehat - sehat, Nak di dalam," kata Ronald
"Kalau sudah besar nanti papah ajarin caranya main sepak bola, biar kamu jadi next lionel messi!" seru Ronald
Azzah menggelengkan kepala, mendengar pernyataan Ronald, belum saja lahir ternyata Ronald sudah merancang masa depan Putranya.
Di dalam Mobil.
"Zah kita mampir ke restoran dulu, yah sayang Kasihan Baby Ar," ucap Ronald
"Baby Ar?" gumam Azzah
"Iya Dia, Azzah Ronald," celetuk Ronald sambil mengelus perut Azzah dengan gerakan memutar lembut.
Azzah semakin bersyukur. Ronald mampu mengimbangi antara ingatan dan emosionalnya yang belum sepenuhnya pulih.
"Baby Ar," batin Azzah
"Kamu dengar itu, sayang papah mu memberikan panggilan sayangnya padamu," batin Azzah lagi.
Mendengar perkataan Azzah. Baby Ar merespon dengan menendang perut Azzah.
Azzah kini bahagia, karena bayi yang Ia kandung aktif dan sehat. Sementara Ronald menyayanginya seperti semula.
"Mas dia menyukai panggilan yang kamu buat, Baby Ar," ujar Azzah
__ADS_1
"Pasti Aku, kan pabriknya!" seru Ronald bangga.
Azzah memutar kepala jengah, hilang ingatan saja tidak mengurangi kadar narsis Ronald, terkait wajah tampannya.