
Charlotte memergoki perbedaan pendapat antara Esme dan Ronald. Hari itu Charlotte juga kecewa karena Ronald secara terang - terangan mengakui perasaannya pada Azzah.
Ronald pulang pergi dengan wajah yang tidak seantusias biasanya. Kepergian Esme membuat batin Ronald tersiksa. Charlotte memberikan solusi agar Ronald mau menjemput Esme kembali pulang ke rumah.
"Bagaimanapun, dia yang selalu mengiring langkahmu Suamiku, sejak dari nol sampai kamu berjaya seperti sekarang dia yang selalu ada untukmu, Mbak Esme aku rasa hanya perlu menenangkan diri," ujar Charlotte.
"Aku mohon kamu, jangan banyak pikiran sayang, Aku akan menjemputnya kamu tenang saja," Ronald mencium perut Charlotte.
"Papi perlu dulu, Baby," usap nya di perut Esme.
Esme tersenyum dan melambaikan tangan seiring dengan kaca spion mobil Ronald yang mulai tertutup.
Di apartemen
Sebelum ke apartemen Ronald lebih dulu mengirim pesan pada Esme.
[ Esme aku sudah di depan pintu, bukalah apa kamu tega melihat suamimu kedinginan ]
Esme membuka pintu.
"Mau apa kamu ke sini, pergilah Ronald, bukankah kamu mencintainya. Aku ini barang lama yang sudah tak terpakai," gumam Esme
"Sayang apa maksudmu," Ronald memasuki apartemen dan memeluk Esme.
"Buktikan jika kamu menyesalinya, maka buat Aku hamil, aku ingin anak dari kamu Ronald," ungkap Esme
Esme merayap ke dada bidang Ronald mengecup dan menelusuri titik sensitif Ronald.
"Eugh Esme jangan sayang,"
__ADS_1
"Kondisimu, apa kamu yakin?" tanya Ronald.
"Apa salahnya kita berusaha lagi, Ronald," ucap Esme.
Mereka berdua menghabiskan malam dengan penuh gairah dan peluh. Ronald berguling ke samping merasakan puas dengan servis Esme kali ini begitu liar.
Ingin menyudahinya, tapi Esme menaiki tubuh Ronald.
"I'am gonna drive you mad," desah Esme
Memasukan kembali senjata Ronald.
Esme memimpin ronde kali ini. Esme bersemangat supaya benih unggul Ronald membuahi sel telurnya.
"Uh Ronald," ucap Esme menggoyangkan pinggul.
"Aku menikmatinya Esme," gumam Ronald
"Ah ah!" desah mereka bersamaan mencapai *******.
.
.
Di sisi lain Charlotte merasakan lapar dan memakan buah kuning di lemari Es begitu banyak. Selang beberapa menit Charlotte merasakan perutnya sakit luar biasa.
"Aduh sakit!" Charlotte stengah berteriak
"Ya Allah, Nyonya," bungkam si Art melihat darah segar keluar dari ************ Charlotte.
__ADS_1
"Bibi, darah, oh tidak bayiku," lemah Charlotte kemudian tak sadar diri.
Si Art bergegas menghubungi nomer Ronald tapi tidak aktif. Mau tidak mau Ia berlari ke rumah belakang.
"Ya allah, Nyonya Azzah, kan kuliah!" serunya
"Cepat nyalakan mobil, Nyonya Charlotte dia, dia pingsan!" suruh nya pada satpam baru tersebut.
Si Satpam bergidik ngeri dengan keadaan Charlotte dengan bibir pucat dan kulit yang sedingin es. Si Satpam langsung membopong Charlotte ke dalam mobil. Dengan posisi tidak sadar Bibi selalu mengusap wajah Charlotte pilu.
"Nyonya kenapa bisa segini," gumam sendu Si Art.
Charlotte mendapatkan penanganan medis di unit gawat darurat. Karena darah tak berhenti keluar dari area sensitifnya.
"Maaf kami mohon tolong hubungi keluarganya, kami harus segera melakukan tindakan operasi, untuk mengeluarkan janin dan membersihkan rahimnya, ini berbahaya untuk keselamatan ibu si bayi, kami butuh persetujuan dan tanda tangan suaminya," ucap Si perawat.
"Tapi tapi saya tidak berhak Sus, saya cuma pembantu," balasnya.
Si Satpam tak kalah kalut. Ia segera menelpon Azzah.
"Aku segera ke sana, berikan telponnya pada Suster, sus saya mohon selamatkan Mbak Charlotte. Apapun lakukan yang terbaik untuk mereka," gemetar Azzah memegang ponsel.
Azzah bingung menunggu mobil jemputan. Tak lama datang Dr. Badar menghampiri Azzah. Karena panik Azzah langsung menyuruh Dr. Badar masuk kembali ke mobil.
"Ke rumah sakit Bhayangkara Dok, Charlotte, dia kritis mengalami pendarahan. Aku tidak tahu Mas Ronald di mana. Aku sudah coba menghubungi tapi nomernya tidak aktif," ucap Azzah tanpa jeda.
"Tenang, tarik napas," kata Dr. Badar.
"Kamu wanita yang berhati baik, Zah kamu begitu peduli, Aku tidak tahu sekuat apa kamu berusaha menjalani rumah tangga ini, Kamu bahkan mengkhawatirkan Charlotte seperti saudaramu sendiri," batin Dr. Badar
__ADS_1
Melihat Azzah terus berdoa dan sholawat untuk keselamatan Charlotte. Membuat Dokter Badar terenyuh.
"Andai bertemu jodoh, pertemukan Aku dengan Jodoh seperti wanita di hadapanku ini Ya allah, hatinya begitu bersih," gumam Dr. Badar.