
Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada di dekatku
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
Kan ku petik satu untukmu
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh
Tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selamanya - lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
Musik cafe menambah suasana romantis tapi canggung bagi Diva dan Badar.
"Kamu," ucap keduanya berbarengan.
"Lady's first," ucap Badar
"Oke, jadi kamu udah tahu, kan kalau kita di jodohin karena mamah kita temenan," ucap Diva
Badar menyipitkan matanya.
"Sungguh wanita yang tidak suka basa - basi," batin Badar.
"Aku malah baru tahu dari kamu barusan," ucap Badar memotongkan steak untuk Diva.
Diva menelan ludahnya.
"Jadi?" tanya Diva.
__ADS_1
Pertanyaan Diva di balas tatapan intens Badar.
Diva mencoba mencairkan suasana.
"Temen kamu lucu, lihat mereka seperti sedang mengawasi kita," kata Diva seraya berbisik.
"Dasar temen kagak ada akhlak, main jeprat jepret aja," kesal Badar melihat Si Boy memfoto dirinya dan Diva diam - diam.
Kalau sudah begini Badar akan menjadi sasaran editan, di grup yang beranggotakan bak F four itu.
"Anjir Si Badar jomblo, sekali dapet cewek mana kaya boneka barbie manisnya kebangetan," gumam Arif
Deng
Gilang menyenggol kaki Arif, karena Badar sudah menatap Mereka horor. Ke tiganya nyengir kuda.
Di tempat lain
"Sayang," ucap Esme pada Zero
"M-ma," ucap Zero cadel
Pengasuh Zero yang kebetulan mendengar hanya mengelus dada. Obsesi Esme begitu besar untuk mengendalikan Ronald dan menguasai harta suaminya. Bahkan Esme bertindak seperti Ratu, semenjak melahirkan Zero dan Zarina.
"Ronald memberiku hak istimewa, kapan waktunya. Aku akan memintanya," batin Esme.
Zarina menangis, sehingga Esme menyuruh Pengasuhnya membuatkan susu untuk Zarina.
"Zarina menolaknya, Nyonya, mungkin dia ingin minum Asi Nyonya langsung," ucap Pengasuh
"Bawa Putriku kemari," ucap Zarina.
"Sayang, kenapa menangis hem?" tanya Esme berbicara halus pada Zarina
Zarina mengecap terus mulutnya, seperti memberikan kode pada Esme.
"Cantik sekali dia, putriku." Esme gemas pada Zarina
Esme yang sedang menyusui menoleh ke belakang, karena suara yang tak asing di telinganya.
"Esme, Aku pulang," kata Ronald
__ADS_1
"Ya," jawab Esme cuek
"Kenapa lagi cemberut ?" tanya Ronald menarik dagu Esme.
"Kamu sibuk di rumah belakang, sampai lupa punya yang lain," tandas Esme.
"Maaf, sebagai gantinya besok kita jalan jalan, yah?" tanya Ronald mengelus rambut Esme.
"Janji?" tanya Esme
"Iya sayang," ucap Ronald
Esme mencium bibir Ronald sekilas.
"Ronald, kamu udah denger kabar dari Charlotte?" tanya Esme.
Ronald menggelengkan kepala.
"Apa dia sudah menikah lagi, Ronald?" tanya Esme
"Entahlah. Aku tidak akan menghalangi kebahagiaanya lagi, mungkin dia lebih bahagia tanpa Aku. Dan untuk amanat orang tuanya Aku tetap akan mencarinya," ungkap Ronald
Esme tersenyum samar mendengarnya.
"Satu penghalang sudah gugur," batin Esme.
Tanpa harus berperang. Charlotte mundur sendiri, itu yang membuat Esme tidak membenci Charlotte. Sebab Esme menganggap Charlotte bukan saingan.
"Sayang malam ini waktunya kamu bersamaku," rengek Esme
"Iyah Aku tahu, Esme," jawab Ronald.
"Zero dan Zarina udah bobok, kamu mau nggak bobok sama Aku," rayu Esme
Ronald mendesah berat. Karena di ruang tamu Esme sempat- sempatnya meremas senjata Ronald.
"Sayang, Aku mandi dulu,yah," balas Ronald.
Esme mengernyit, seperti Ronald menghindarinya. Esme tahu betul tingkah Ronald, saat Ronald merasa dirinya tidak nyaman.
"Ronald kenapa?" tanya Esme membatin.
__ADS_1