
**Esme merayu Ronald saat malam hari.
"Ronald, apa kamu tidak merindukan masa bercinta kita?" tanya Esme melekat pada Ronald.
Ronald yang berkutat dengan handphone tanpa Esme sadari. Ronald tengah mengirim pesan pada Azzah. Sementara Ronald yang mulai mendapatkan fakta baru tentang Esme, yang memperlakukan Azzah dengan buruk selama ini. Cukup membuat Ronald tidak menyangka Esme sanggup berbuat sejauh itu.
Ronald menjauhkan tangan Esme yang bergelayut manja.
"Ada apa?" tanya Esme mulai kesal.
"Apa ac nya mati, kenapa panas sekali, oh ya Aku keluar sebentar dulu sayang," ucap Ronald
"Kamu menghindari ku, Ronald?" tanya Esme saat Ronald memegang handle pintu.
"Tidak, kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Ronald
"Aku ke ruangan samping dulu, Aku baru ingat ada file yang belum aku cek," dalih Ronald.
Esme mengikuti langkah Ronald. Dan benar saja Ronald menyelinap untuk ke rumah belakang. Esme meremas piyama tidurnya.
"Ronald, apa yang kurang padaku. Dia lebih memilih gadis kampung di banding aku, yang jauh lebih mengerti dia selama ini?" batin Esme
"Argh!" teriak Esme
Esme meluapkan kekesalannya. Ia membanting semua benda yang ada di depan matanya.
"Ingat, kamu hanya milikku, Aku yang pantas untukmu!" tekan Esme
__ADS_1
"Sampai kapan pun Aku tidak akan melepaskan kamu untuk wanita lain, pengganggu sebenarnya itu dia!" teriak Esme membabi buta.
Dengan gontai Esme menuju toilet kamarnya. Esme memukul bathub dengan kasar
"Tempat ini, menjadi saksi dimana kamu menghangatkan ku, lalu kemana perginya Ronald yang dulu?" gumam Esme.
"Apa salahku Ronald, kamu menyiksaku begini sayang." Esme tergugu menundukkan wajah.
"Bahkan anak dan ragaku sepenuhnya milikmu," ucap Esme gemetar
"Baiklah Aku akan mengambil tindakan tegas, mungkin ini jalan satu- satunya. Agar perempuan itu hengkang dari hidupmu dengan sejuta rasa bersalahnya," seringai Esme yang begitu mengerikan.
Esme mengisi air bathub hingga luluh lantah. Esme mengunci pintu kamar rapat - rapat.
"Kamu akan menyesal Ronald, menyesal!" seru Esme
Esme gila akan obsesinya menghancurkan madunya. Hingga rela bertaruh nyawa.
Empat puluh menit sudah Ronald sekedar menengok Zayn. Ia kembali memasuki kamar Esme. Namun sayang Esme mengunci pintu dari dalam.
"Esme, kenapa kamu mengunci pintunya sayang," ucap Ronald
Ronald mendadak kalut, saat pembantu dan pengasuhnya menggendong Zarina juga Zero yang menangis, karena stok Asi kosong.
"Nyonya belum memberikan Asi, tuan malam ini," kata Mereka membuat Ronald tercengang.
"Nyonya belum keluar setelah Tuan berbelok ke rumah belakang, saya melihat raut kesedihan di wajahnya tuan," ungkap nya.
__ADS_1
"Damn!" batin Ronald.
Ronald tahu siapa Esme. Istrinya itu sangat tidak tahan melihat Ronald berbohong di belakangnya.
Ronald menggedor pintu dengan rahang yang mengeras.
"Buka, atau Aku dobrak!" seru Ronald mengeram.
Sedangkan Zero dan Zarina kaget dan menangis akibat suara Ronald yang menggelegar.
"Apa sebenarnya mau mu, Esme," batin Ronald
Brak
Pintu terbuka, Ronald tidak mendapatkan Esme di ranjang. Ia hanya mendengar gemericik air dari kamar mandi.
"Jangan, tidak, dia bukan wanita bodoh." Ronald menyeka air matanya sambil melangkah menuju arah suara.
Ronald luruh saat melihat Esme berbuat nekad. Ronald membopong Esme dengan gusar, mengganti baju Esme sendiri dan berusaha menyelimuti tubuh Esme yang menggigil dan mengigau. Ia bergegas menyuruh Dr. Badar ke rumahnya dengan estimasi waktu lima menit. Gila bukan.
🥀🥀🥀🥀
Art yang kebetulan menemukan secarik kertas di walk in closet. Menyerahkannya pada Ronald.
"Kamu memilihnya, lebih baik Aku mati!"
Ronald mengetatkan gigi, mendapati semua kejadian yang menimpa Esme karena ???
__ADS_1
Karena apa hayuh!
Boleh boleh komen 👉**