
"Kamu kerja yang bener," ketus Esme pada Azzah.
"Iyah," tandas Azzah
"Aku tunggu tiga puluh menit sampe masih ada debu, kamu ulang semuanya. Aku nggak mau tahu," kata Esme
"Ya Mbak." Azzah terpaksa menuruti keinginan nyidam Esme yang di luar logika.
Esme beralih ke arah dapur.
"Pokoknya nggak boleh ada yang bantuin dia, kalau sampe Bibi bantuin, Aku pecat," cetus Esme.
"I - iyah Nyonya," takut Bibi.
Tangan Azzah sudah memerah karena menggosok seluruh perabotan, dengan terus memeras lap basah dan mengepel setiap ruangan.
"Begitu banyak cara kamu mendalami peran Mba, sampai kapan membenciku," lirih Azzah.
Azzah menahan perih di setiap jari jemarinya karena bergesekan dengan deterjen pembersih. Di lanjut dengan menyikat keramik kamar mandi.
"Hufft." Azzah menghembuskan napas
Lelah dan letih bercampur keringat yang membasahi sekujur tubuh. Bahkan sampai menetes hingga pelipisnya.
Napas Azzah yang terengah tapi Ia selesai mengerjakan tepat pada waktunya. Hingga adzan dhuhur berkumandang. Panggilan untuk Azzah menunaikan ibadah sholat.
Setelah mengambil air wudhu. Azzah Sholat dengan khusyuk di dalam kamar, setelahnya Ia berdoa meminta agar suatu saat Esme di berikan kejernihan pikiran. Supaya mampu menerima Azzah.
"Ya allah engkau yang maha membolak- balikan hati, jangan sampai Ia tenggelam dalam iri dan dengki. Aku tidak ingin kehadiranku mengundang ketidaknyamanan orang lain,"
"Azzah sadar jika di posisi Mba Esme mungkin Azzah juga tidak akan sanggup menerima madu baru dari suami yang Ia cintai. tapi bagaimanapun aku juga terluka atas sikapnya yang selalu sinis dan berpikiran negatif padaku," tambah Azzah
Azzah memohon sambil menengadahkan telapak tangannya. Saat sadar ada lecet di antara sela jarinya Azzah segera mencari kotak P3K untuk mengobatinya.
"Kenapa Aku nggak kerasa, yah tahu tahu gini aja," batin Azzah.
Ronald pulang dengan keadaan marah. Asisten Ronald mengirimkan cctv rumah yang memperlihatkan Azzah yang mondar - mandir mengerjakan pekerjaan seorang pembantu. Mendapat laporan Ronald naik darah dan tak bisa membendung rasa kesalnya.
"Keluar semua yang ada di rumah Ini!" teriak Ronald.
"Apa sih teriak teriak Ronald!" sentak Esme
Charlotte memandang raut kemarahan pada wajah Ronald.
"Suamiku, tenanglah apa yang membuat kamu emosi begini," ucap Charlotte mengelus pundak Ronald yang naik turun.
__ADS_1
Ronald mengeratkan gigi, tak tahu juga harus melampiaskan kemarahannya kepada siapa. Sedangkan sang pembuat ulah adalah istri yang sedang mengandung pewarisnya.
🍁🍁🍁
"Bi ... Bibi!" teriak Ronald
"Iya iya Tuan." Bibi berlari tergesa.
"Iya iya Tuan Ronald ada apa?" tanya Bibi
"Kenapa bisa Azzah mengambil alih tugas seorang Art. Tidak ada yang boleh bertindak kurang ajar di rumah ini, kalau kalian masih ingin bekerja di sini!" seru Ronald beralih memandang satpam dan tukang kebun rumahnya.
Azzah melihat Ronald para pekerja, cepat melerai dan menenangkan Ronald.
"Mas kamu udah pulang," kata Azzah tersenyum menyembunyikan luka yang terbalut plester di jarinya.
"Kenapa nggak kuliah?" tanya Ronald ketus.
"O - oh itu Mas Azzah kebetulan tadi kepala Azzah pusing sedikit jadi nggak masuk kuliah," ujar Azzah
"Jujur Zah!" tegas Ronald.
"Kamu mau kuliahmu tak cabut, atau nggak usah kuliah sekalian," geram Ronald.
"Mas cuma mau kamu terbuka, apa sih yang kamu takutkan, kalian sama - sama makan nasi, nggak usah nutupin semuanya, untuk apa kamu sekolah ke perguruan tinggi kalau masih saja bodoh," ujar Ronald.
"Stop!" seru Ronald.
"Kembali ke kamar kecuali Esme," ucap Ronald.
Esme menyadari Ronald yang sedari tadi mengepalkan tangan. Esme tahu jika Ronald sedang mengontrol emosinya agar tidak meledak.
"Apa aku pernah mengajarkan kamu bertindak gegabah dan tidak punya etika Esme?" tanya Ronald.
"Langsung saja ke intinya, Aku nggak suka berbelit nggak usah muter - muter kalau ngomong," tanpa rasa takut Esme mengangkat dagu.
"Mulai sekarang kamu nggak boleh keluar rumah tanpa sepengetahuanku," kata Ronald
"Maksud kamu apa?" tanya Esme ngegas.
"Kenapa tidak kamu Istriku, jangan kamu kira aku nggak tahu perlakuan kamu ke Azzah, Esme
"Cuma karena Istri udik kampungan itu, kamu berani membatasi aku sekarang Ronald," marah Esme.
"Ini demi kebaikan kamu. Aku merasa gagal ketika tidak bisa mendidik Istriku. Aku kecewa ketika seorang wanita bisa menyakiti wanita lainnya," jelas Ronald.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu sok bijak begini, oh Aku lupa seorang Ronald ternyata sudah menggagalkan dan menyerah pada rencananya sendiri," terang Esme.
"Kamu lihat demi dia kamu menyakiti kami," ujar Esme.
Esme menyeka air mata dan meninggalkan Ronald. Ronald memukul udara kesal. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Azzah," erang Ronald
"Sayang," panggil Ronald membuka pintu kamar Azzah
"Kenapa kamu menangis?" tanya Ronald.
"Mas untuk apa kamu kesini, kasihan Mba Esme. Dia benar kamu udah nggak adil Mas belakangan ini. Mbak Esme lagi hamil lebih sensitif, jangan biarkan dia sedih Mas, nggak baik untuk kesehatan bayi yang ada dalam kandungannya Mas," ujar Azzah
"Azzah Mas marah karena dia sudah keterlaluan sama kamu. Dan juga disini Mas sebagai kepala keluarga hanya meluruskannya. Mas nggak mau sampai sifat Esme menghancurkan dirinya sendiri," jelas Ronald.
"Kenapa tangan kamu," selidik Ronald
"Hm ... kejepit pintu Mas," bohong Azzah
"Azzah - Azzah kamu itu nggak ada bakat bohong," ucap Ronald.
"Hatimu terlalu baik, jangan banyak berkorban perasaan, kamu juga berhak bahagia," gumam Ronald.
"Sini mana biar Mas lihat lukanya," kata Ronald.
Ronald meniup luka Azzah yang malah perih, setelah Ronald kembali mengganti dengan meneteskan betadine.
"Sakit, kan?" tanya Ronald
Azzah mengangguk.
"Maaf sayang, Aku yang salah, membuat kamu mengalami ini," batin Ronald.
"Mas Azzah pengen pulang ke kampung, rindu Abah, Azzah kangen desa dan kebun teh," desah Azzah
"Iya sayang, besok kita pulang ke kampung kamu, apapun asal buat kamu bahagia," tandas Ronald.
"Pergilah Mas, Mba Esme juga membutuhkan kamu, ingat kamu nggak boleh pilih kasih apalagi egois," suruh Azzah
"Masyallah aku beruntung memiliki Istri seperti kamu," batin Ronald memuji Azzah.
"Jangan suka memperdulikan orang lain, jika kamu sendiri lupa peduli dengan dirimu sendiri," ucap Ronald.
Azzah langsung memeluk Ronald dan menyembunyikan tangisannya. Azzah menangisi keadaannya yang sedang di posisi sulit.
__ADS_1
Ia tidak ingin membuat Ronald membenci Esme. Di sisi lain Azzah merasa tertekan, walaupun sudah terpisah rumah dengan Esme.