Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 47 - Secercah


__ADS_3

**Abah membuka mata melihat dirinya yang terbaring di rumah sakit.


"Umi," panggil Abah seraya berusaha duduk.


"Abah, alhamdulillah ya allah syukurlah Abah udah sadar," kata Umi.


"Umi, sudah berapa lama Abah di sini. Abah ingin pulang," kata Abah


"Iya Kita pulang, Bah tapi nanti setelah ijin dari Dokter. Abah sempat tidak sadar diri saat keluar dari kamar Azzah. Suami tersayang jangan banyak pikiran, selalu sehat Abah mau, kan melihat rupa cucu kita dari Azzah?" tanya Umi memotivasi.


"Oh ya, Azzah dengan siapa di rumah, kasihan benar nasib putri Ku Umi," kata Abah.


"Semua sudah menjadi kehendak Allah, apapun itu kita tetap orang tuanya, bagaimanapun kondisinya Umi akan selalu menguatkan putri Kita," ujar Umi


Abah dan Umi saling memeluk.


Di kampung


Azzah yang baru bangun dari tidur siang, mendekati Mirza yang tengah makan di meja makan.


"Sudah mendingan, Dek?" tanya Mirza


"Udah, Kak makan apa Kak Mirza kelihatannya enak," ucap Azzah


"Kakak beli ketoprak tadi, ada yang lewat pedagang keliling, Kamu mau Dek, itu kakak beliin satu lagi buat kamu," kata Mirza


"Azzah tiba tiba kepikiran Abah Kak," ucap Azzah


"Kakak juga gitu," kata Mirza


"Ya udah Kak, telpon Umi coba," tandas Azzah

__ADS_1


Sebelum Mirza menelpon panggilan masuk dari Umi diangkat Mirza.


.


.


.


"Halo Umi, barusan Mirza mau telfon, Umi duluan. Umi gimana kondisi Abah?" tanya Mirza


"Abah sudah siuman Mir, jangan biarin adik kamu jenguk bolak balik ke rumah sakit, kasihan dia jangan sampai kecapean," ujar Umi


"Abah sudah sadar Zah, tuh dengerin Umi bilang jangan terlalu khawatir, kamu jaga kesehatan bayi yang ada di dalam sana. Dia calon keponakan Ku," ucap Mirza pada Azzah sambil menjauhkan handphone dari telinganya.


"Syukurlah ya Allah, tanyain Kak, kapan Abah pulang," kata Azzah


"Umi Azzah baru bangun tidur, nanyain Abah kapan katanya Abah pulang," tanya Mirza


"Umi udah makan?" tanya Mirza dari bisikan Azzah.


"Sudah, kalian makan apa, oh ya Mirza Adik kamu jangan makan sembarangan, awas kalau masih jajan naget abang - abang, kurangi jajanan kaya gitu, kalau Umi yang bilang Azzah. Dia, kan selalu dengar kata Kamu," jelas Umi


Mirza menggerakkan jari telunjuknya di depan wajah Azzah. Azzah memanyunkan bibir mendengar kalimat Uminya.


"Iyah Umi," sela Azzah di samping Mirza.


"Dek kamu tidur ngiler, yah bau." Mirza menutup hidung.


"Bawaan bayi," celetuk Azzah


"Alesan," kata Mirza

__ADS_1


"Umi Mirza tutup dulu telponnya, entar malem Mirza ke situ," kata Mirza.


"Azzah sementara ditemani Uci dulu Umi, lebih aman, terawasi," tambah Mirza.


Sambungan di akhiri.


"Dek nanti Uci Kakak suruh nemenin kamu di sini, yah selama Kakak di rumah sakit," ucap Mirza


Uci adalah panggilan dari Azzah untuk Istri Mirza.


"Uci sama Reno Kak," kata Azzah


"Iyah, Dek, Kakak balik dulu sebentar, oke kamu yang tenang makan, mandi, sholat, nonton tv kalau bosen," kata Mirza.


"Iyah Iyah, Kakak ini persis kaya Umi bawelnya," cetus Azzah


"Oh ya, Kakak nggak suka kamu balik sama Ronald, lebih baik kalian berpisah," gumam Mirza memakai sandal keluar rumah.


Azzah mendadak menurunkan senyumnya.


Di teras


"Tapi Azzah lagi hamil, Kak," ucap Azzah


"Kakak tahu, tapi ini demi kebaikan kalian, setelah bayi itu lahir jangan pernah berhubungan dengan keluarga Edwin!" seru Mirza.


Azzah menatap sendu sosok Mirza yang lenyap. Azzah mengunci pintu rumah sambil menunggu Uci dan keponakannya datang.


"Aku mencintai Mas Ronald, Kak," ucap Azzah sambil tak napsu memakan hidangan di ruang tamu.


"Aku harap pintu hati Abah terbuka untuk Mas Ronald, jika semuanya menentang bagaimana nasib rumah tanggaku. Baru saja Aku jatuh cinta, bisakah Aku melupakan dia saat buah cinta kami bersemayam di sini," gumam Azzah mengelus perut ratanya.

__ADS_1


"Mas Aku kangen," batin Azzah**.


__ADS_2