
Charlotte berjalan gontai keluar pintu kamar.
"Mbak Esme!" teriak Charlotte
Esme yang tengah menaiki tangga segera menghampiri Charlotte.
"Mbak perutku mual, aku lemes sekali," ucap Charlotte merasa pusing kunang - kunang.
Bruk
"Kenapa semua istri Ronald menyusahkan ku, Aku harus meminta Ronald mengurus jasa mengatasi dua wanita ini," gerutu Esme memangku Charlotte.
"Azzah!" teriak dan timpal Esme.
"Ya allah kejahatan apa yang kamu lakuin Mba, sejahat itu kamu membasmi istri istri Mas Ronald?" tanya Azzah
"Apa maksud kamu, dia sudah begini hampir lima menit, Kamu kira Aku tindak kriminal apa, sih, setidaknya aku tidak membunuh orang, cepat bantu papah Charlotte masuk ke mobil, biar aku yang nyetir," tandas Esme
Untuk saat ini mereka rukun tapi tidak tahu bertahan dalam beberapa waktu. Karena tidak untuk Esme yang bersifat keras kepala dan angkuh.
"Hei, madam bangun, Nona charlotte," panggil Esme menepuk Charlotte.
Esme mengingat momen konyol, dulu Charlotte bersandiwara pingsan saat akan dinikahkan dengan Ronald, yang membuat Esme tidak mempermasalahkan Charlotte. Karena memang Charlotte humoris dan lebih ramah ke semua orang. Esme juga tidak menganggap Charlotte musuh sebab Charlotte sempat rela sakit demi Esme. Wajah Charlotte juga tak secantik Azzah yang membuat Esme merasa khawatir Ronald akan berpaling arah.
Di rumah sakit.
"Bagaimana keadaanya adik saya, Dok," aku Esme.
__ADS_1
"Selamat, Adik perempuan anda sedang hamil, jalan empat minggu," jawab Dokter
Dug dug serrr
"Kenapa malah jadi Dia yang hanya duluan," batin Esme.
Azzah senang sekaligus merasa bingung, kenapa hatinya seolah cemburu dengan kehamilan istri ke dua Ronald.
Memasuki ruang inap.
"Selamat Charlotte, kamu dulu yang akan jadi ibu," kata Esme memeluk Charlotte.
"Makasih Mbak, ini juga anak Kamu," gumam Charlotte sumringah.
"Mas Ronald sudah dikabarin Mba?" tanya Charlotte.
"Kamu istirahat jangan banyak kecapean," kata Esme.
Selang dua puluh lima menit.
"Sayang ... " panggil mesra Ronald pada Charlotte.
"Aku hamil Ronald, kita akan punya baby," ucap Charlotte.
"Hm, Ronald junior," mengusap perut Charlotte suka hati.
"Dia terlihat begitu ceria mengandung benih Ronald, apa yang Aku pikirkan," geleng Azzah.
__ADS_1
Ronald lebih menjaga segala sesuatu yang berkaitan dengan Charlotte. Mulai saat ini Ronald memberlakukan tugas dengan menyewa jasa Asisten rumah tangga.
"Ronald, aku mau pulang saja, tidak suka bau obat," rengek Charlotte.
"Apapun ... asal kamu inget kamu sedang hamil, jangan ceroboh, nggak boleh aktivitas olahraga yang berlebihan," ujar Ronald.
"Iya hiu besar!" sentak Charlotte.
"Kalau Hiu juga kamu udah aku makan, nih hasilnya," seloroh konyol Ronald.
"Hihi." Charlotte terkekeh sedangkan Esme menggelengkan kepala dengan dua orang yang sedang menggapai bahagia.
"Aku ikut senang Mba, semoga Dia sehat di dalam sana," ucap Azzah.
"Terimakasih," senyum lebar Charlotte.
Kepulangan ke tiganya di sambut oleh pembantu baru khusus untuk melayani Charlotte. Si pembantu yang bernama Erni mengembangkan senyum melihat binar kebahagian di wajah sepasang pasutri itu.
"Kamu saya pekerjakan untuk membuat keamanan sebaik baiknya di dekat Istri saya ini, Dia sedang berbadan dua." Ronald memberikan ultimatum
"Calon anak saya, tidak ada kecerobohan, apapun untuk mereka tidak ada toleran, siapapun akan berurusan dengan ku jika menyakiti Charlotte," ujar Ronald.
Mendapat lirikan dari Esme, Ronald lantas mengusap punggung Esme pelan.
"Aku tahu kamu juga ingin hamil, tapi mungkin tuhan sedang percaya dan menitipkan amanah itu pada charlotte, jangan bersedih," bisik Ronald.
Azzah tak menampakan wajah iri nya, bahkan Azzah berusaha setenang mungkin.
__ADS_1
Jadi sekarang Azzah menemui titik buntu. Pasti setelah ini Ronald akan memberikan sepenuhnya kepada Charlotte. Meski brutal Ronald kelihatannya menyukai anak - anak.