
Sebelumnya, Esme yang mengalah dengan pergi ke penginapan bersama Zero dan Zarina. Karena mengetahui keluarga Azzah berada di rumah belakang.
Atas perintah siapa ? kehendak yang mana, haruskah ku singkirkan wanita itu selamanya dari Suamiku!
Esme meradang Ia melihat pengasuh Zarina dan Zero yang kelelahan. Karena seharian Zero tampak tidak nyaman berada di penginapan.
"Nyonya, kata Bibi keluarga nyonya Azzah sudah balik ke kampung," tutur Si Pengasuh
"Bagus, kemas semua barang ke koper kita pulang sore ini," sungut Esme
'Ronald jika bukan karena dia sedang amnesia, mana mau aku sampai harus mengalah demi maduku. Jangan panggil Aku Esme, jika tidak bisa membalas' batin Esme
Di kediaman Edwin
"Esme bagaimana liburan kalian, apakah menyenangkan?" tanya Ronald
Esme diam menatap angkuh Ronald.
"Seharusnya Aku yang tanya sama Kamu, apa sudah have fun nya, kalian tanpa kami." Esme mengalihkan pandangan kepada Zarina dan Zero yang tampak lelap di pangkuan Si pengasuh.
"Esme kamu sendiri yang izin ingin berlibur, lalu setelah pulang kenapa jadi marah - marah," ucap Ronald bingung.
Esme tidak bisa membendung amarahnya lagi.
"Maka dari itu segeralah mengingat, siapa yang pantas untukmu dan siapa yang harus pergi!" teriak Esme.
Sentakan Esme membuat Si Pengasuh kaget, dan mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"E - esme," pekik Ronald
"Bawa Zarina dan Zero ke kamar. Aku harus bicara dengan Istriku," ucap Ronald menyuruh Si Pengasuh menjauh dari situasi itu.
"Duduklah, maafkan Aku, apa yang kamu inginkan Esme bicaralah, semua akan aku kabulkan," ujar Ronald menenangkan
"Aku beri kesempatan sampai bulan depan. Kamu pilih Aku atau Azzah," ucap Esme datar
"Aku tidak ingin Zero dan Zarina, saat mereka beranjak dewasa, mempunyai dua orang ibu karena ayahnya memiliki beberapa Istri," ungkap Esme.
"Dipikir - pikir ibu tiri karena ayahnya beristri lagi, sungguh menggelikan. Aku tidak ingin anak - anakku menjadi bahan olokan," gumam Esme.
"Mereka itu bagian dari Edwin, siapa yang berani berurusan, berarti siap untuk enyah,"
"Aku sudah melengkapi pernikahan kita. Kamu harus menepati janjimu Ronald," tandas Esme.
🥀🥀🥀
"Tunggu sampai ingatanku membaik, Aku berhak mempertahankan kalian dan Azzah dia juga tanggung jawab Ku Esme," pasrah Ronald.
"Masalahnya bertambah pelik karena kamu mencintai dia," sembur Esme
"Dia sudah memberikan aku putra, Esme," kata Ronald
"Aku memberikan mu dua orang putra - putri kita Ronald, belum cukupkah semuanya. Selama ini Aku tersiksa berbagi hati dan kasih sayang. Tapi tidak untuk anakku. Aku tidak ingin mereka berbagi Ayah!" seru Esme.
Pertengkaran hebat antara Esme dan Ronald membuat Esme membanting semua barang pemberian Ronald di kamar.
__ADS_1
"Aku tidak butuh semua ini, wanita kurang ajar akan aku musnahkan kamu dari muka bumi ini, hingga tak ada satupun tulang belulang mu yang di temukan," gumam Esme
"Lihatlah, lihat putramu Bunda dia penghianat dirinya sendiri dan juga janji kami," sambar Esme menatap album lama fotonya dengan mendiang Ibu Ronald.
Esme mengelap air matanya dan membasuh muka. Di saat menatap cermin, sungguh jiwa mengerikan Esme siap menghancurkan Azzah.
Sementara Ronald menenangkan diri dengan merenung di ruang pribadinya.
"Mereka semua permata Ku, kerajaan ini tak mungkin bingar tanpa tangisan mereka. Jika harus memilih, kehilangan kekayaan lebih baik dari pada kehilangan mereka," gumam Ronald.
Di sisi lain
Zayn menangis dan Azzah segera menyusui Zayn.
"Hm ... anak mama haus, yah sayang," kata Azzah mengira Baby A.R ingin di susui.
Zayn menolak untuk menyedot asi Azzah.
"Sayang kenapa, kok nggak mau jangan buat mama khawatir. Kalau Zayn nggak minum asi, nanti Zayn kapan besarnya sayang," ujar Azzah
Azzah merasa Zayn tidak biasa - biasanya rewel begini.
"Zayn cup ... cup sayang kamu kenapa." Azzah khawatir Zayn tidak bisa tenang.
Azzah mendekap Zayn, tak kala merengkuh erat Zayn. Azzah panik saat meraba tubuh Putranya mendadak panas.
Azzah menangis menyuruh Bibi memanggil Ronald.
__ADS_1