
Bila memang engkau tak lagi cinta
Lebih baik engkau katakan saja
Ku relakan bila kau ingin pergi
Meninggalkan luka di dalam hati 🎶 🎶
Charlotte merasa sulit dalam situasi yang tidak tau arah pasti. Terlintas dalam benak Charlotte, mengapa tidak ada prioritas di dalam pernikahannya. Hanya ada berbagi dan membagi kasih.
"Ronald Aku bahagia mengenalnya, selama ini bahkan dia memperlakukan aku dengan baik. Tapi keserakahan Ku bahkan menginginkan dia hanya untukku," batin Charlotte
"Tidak aku bukan Esme, meskipun aku mencintainya, tidak mungkin aku paksa dia memberikan hatinya untukku, cinta ini hanya formalitas. Karena ayah dan ibu menjodohkan kami," gumam Charlotte.
Charlotte menggendong Zarina dengan telaten.
"Suamiku jika bahagia mu bersama Azzah. Aku ikhlas," batin Charlotte.
Di keheningan malam
"Suamiku bisa kita bicara sebentar," ucap Charlotte pada Ronald.
Lima belas menit Ronald berdebat dengan opini gila Charlotte.
__ADS_1
"Tidak ... sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu. Mendiang orang tua mu menitipkan mu padaku Charlotte. Aku tidak bisa mengabulkan permintaan konyol mu itu," jawab Ronald.
"Tapi Suamiku Aku rasa circle ini tidak sehat. Aku wanita biasa yang menginginkan keutuhan, hanya kita Aku dan kamu dan anak - anak kita kelak, tapi sepertinya itu mustahil," balas Charlotte.
"Apa yang mustahil, kita bisa program bayi tabung, berapapun akan Aku sanggupi," tambah Ronald.
"Buang pikiran apa itu, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku," sambung Ronald.
"Aku tahu Suamiku kamu sangat mencintai Azzah," ucap Charlotte
"Aku juga mencintaimu," balas Ronald
"Tidak, Suamiku kamu hanya sekedar mengasihani Ku, bertahan karena kasihan," lirih Charlotte.
"Aku tidak ingin mendengar omong kosong mu lagi. Charlotte ini sudah malam, tidurlah lupakan apa yang barusan kita bicarakan," ujar Ronald mengecup kening Charlotte.
Charlotte memilih menyerah. Ia ingin melepaskan status Istri Ronald.
"Mungkin jodoh kita sampai di sini saja, Suamiku." Charlotte pecah tangis saat melihat Ronald menaiki anak tangga menuju kamar Esme.
Pagi hari
Seisi rumah gempar karena ketiadaan Charlotte. Ronald marah besar ketika mengetahui Charlotte pergi dan meninggalkan sepucuk surat.
__ADS_1
{ Suamiku, jangan pernah menyesali apapun, Kau suami terbaik yang Aku miliki, ketegasan mu, kasih sayangmu, semua aku syukuri. Tapi aku tidak ingin mengikatmu, mempersulit dan menjadi beban mu kelak hanya karena wasiat }.
{ Aku akui aku mencintaimu, tak ingin menjadi kerikil dalam menggapai cintamu yang sesungguhnya. Jadilah pria yang selalu memegang teguh prinsipnya. Bahagiakan Dia }
{ Untuk Mba Esme, maafkan Aku harus pergi dengan egois seperti ini. Tapi satu yang harus kalian tahu. Aku hanya ingin mencari kebebasan di luar sana. Menemukan kebahagiaanku yang sebenarnya, terimakasih karena sudah menganggap ku sebagai Adik dan keluarga Mbak, jaga Zero dan Zarina. Kelak kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik. Aku pastikan itu. }
Tak sadar Esme meneteskan air matanya.
{ Azzah jaga Ronald dengan baik. Aku yakin dia untukmu, semenjak kau masuk dalam hidupnya. Aku melihat perubahan Ronald yang menjelma menjadi lelaki yang hidup terarah dan lebih penyayang. Maaf jika pernah menyakiti hatimu secara tidak sengaja. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Sekarang tugasmu adalah di samping Ronald, Aku ingin kalian bahagia. Semoga kita bertemu lagi dalam keadaan sama - sama bahagia }
Azzah sesenggukan melihat tulisan tangan Charlotte yang mulai goyah di akhir kalimat.
"Pasti begitu menyakitkan Mbak, kenapa dia memendamnya sendiri," batin Azzah
"Argh!" Ronald memukul dinding tembok hingga punggung telapak tangannya lecet.
"Cukup Ronald," sela Esme
"Dia pergi, aku harus bagaimana, kenapa kali ini dia begitu gegabah dan mengambil keputusan sendiri. Apa dengan pergi itu solusinya," gumam Ronald
"Ini yang terbaik baginya, hargai keputusannya. Mungkin dia menderita sendiri dan melawan hatinya selama ini. Finally kita hanya bisa mendoakan dia di luar sana menemukan kebahagiannya," ujar Esme membalut luka tangan Ronald.
Ronald menyuruh semuanya keluar dari Kamar Charlotte. Ia memilih tidur di ranjang Charlotte.
__ADS_1
"Maafkan Aku," gumam Ronald mengusap foto manis ketika menikahi Charlotte beberapa tahun lalu.
Ronald mengerahkan seluruh jaringan yang Ia punya, untuk melacak keberadaan Charlotte.