Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 7 - malam pertama yang tertunda


__ADS_3

Di sisi lain, bisik - bisik terdengar diantara Charlotte dan Esme.


"Ronald membawa gadis itu ke rumah ini, Mbak," tutur Charlotte


"Dimana Ronald sekarang," jawab Esme ketus


"Aku disini, ada apa Esme?" tanya Ronald


"Kamu gila, yah, bisa - bisanya menikah lagi tanpa sepengetahuanku!" seru Esme


"Shutt ... tenang, Esme turunkan nada bicaramu," balas Ronald


"Keterlaluan kamu Ronald, aku ini istri kamu," semprot Esme tak terima.


"Aku juga istrinya," sambar Charlotte


Pusing Ronald dicecar pertanyaan Esme.


"Aku bisa jelasin, Esme tapi nggak sekarang, aku capek mau istirahat," kata Ronald


"Butuh tenaga lebih malam ini, untuk membuat istri muda mu mendesah begitu?" sindir Esme.


"Esme!" bentak Ronald


Charlotte menenangkan Esme dengan mengelus pundak Esme, meski hatinya juga sakit. Charlotte tidak ingin menunjukan di depan Ronald.


"Esme kali ini tolong jangan egois," ucap Ronald


"Aku egois kamu bilang, kamu yang egois Ronald!" sentak Esme tak kalah terbawa emosi


Ronald memejamkan matanya sejenak, menatap Esme yang kembang kempis terbakar amarah. Ronald membawa Esme dan Charlotte ke ruangan lantai bawah yang terlindungi sekat almari, jika dilihat mungkin tidak ada yang mencurigakan tapi sebenarnya bila diamati seksama. Itu adalah kamuflase kepiawaian Ronald dalam menyembunyikan barang sekaligus tempat rahasia Ronald.


SKIP


Klek

__ADS_1


"Kamu sudah mandi, Zah?" tanya Ronald


"Sudah Mas," jawab Azzah


"Ya sudah, aku mandi dulu, badanku pegel semua." Ronald sembari memegang pundak belakangnya.


Setelah Ronald membersihkan diri. Ronald menyusul Azzah yang tengah bersandar di ranjang super big Ronald.


"Mas ... kamu pegel, sini aku pijitin mau nggak?" tanya Azzah


"Boleh," balas Ronald.


"Gimana mas enak?" tanya Azzah


"Lumayan," kata Ronald


"Zah ..." panggil Ronald


"Dalem mas," jawab Azzah


"Hari kamis mas,"


"Haduh, bukan itu maksudku, kamu ngerti, kan malam ini malam apa?"


"Malam jumat mas,"


"Ya ampun Azzah," erang Ronald


"Kenapa mas?"


🍁🍁🍁


Ronald menyambar tubuh Azzah. Ia menerjang Azzah dan mengungkungnya, dengan posisi tertindih Azzah menjadi susah bergerak, mencoba lepas tapi Ronald malah menatap Azzah dalam. Ketika Ronald akan melabuhkan kecupan di leher Azzah, Azzah mengatakan kalimat yang membuat Ronald kehilangan nafsu saat itu juga.


Azzah memalingkan wajah, menghindari Ronald dan berkata.

__ADS_1


"Maaf Aku belum bisa, Mas ..."


"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri," sambung Azzah


Ronald menaikan alis.


"Sebagai seorang Istri kamu menolak ajakan suamimu?" tanya Ronald


"Mas apa kamu yakin dengan perasaanmu, Azzah bisa lihat sendiri, tidak ada cinta dimata Mas Ronald buat Azzah," batin Azzah


"Lalu kapan Aku menggauli istriku sendiri, hah, sampai kamu siap begitu?" tanya Ronald mulai naik darah.


Azzah tidak menyangka, Ronald tega berbicara seperti itu. Azzah merasa tersayat hati mendengarnya langsung, nada tinggi yang dilontarkan Ronald di malam mereka baru tidur satu ranjang. Azzah harus mendapati ucapan kasar Ronald untuk pertama kalinya.


Seakan tak mau berhenti sampai disitu, Ronald kembali menyuarakan.


"Bukankah Aku telah memintamu di depan kedua orang tuamu, kita menikah disaksikan penghulu dan saksi, selama ini kita bertukar kabar selama berjauhan. Bahkan saat Aku datang melamar mu, tidak ada sepatah kata keberatan yang keluar dari mulutmu, tapi sekarang kamu bilang tidak siap?" tanya Ronald sambil menyeringai kesal


"Maaf mas, tapi Azzah benar - benar belum siap," jawab Azzah masih kekeh.


Ronald kehilangan kesabaran hingga.


"Layani aku, surgamu ada pada suamimu!" seru Ronald.


Lagi - lagi hati Azzah bagai teriris, membuat denyut nyeri di dada kiri Azzah. Entah datang dari mana keberanian Azzah.


"Cukup Mas, kamu belum mencintaiku, kamu tidak menghargai wanita mu, kamu menyakiti ku mas," ucap Azzah dengan suara bergetar


Ronald berkecamuk, sebenarnya apa yang terjadi sehingga gadis penurut itu berubah menjadi sosok keras kepala saat ini.


Tak ingin kehilangan kendali. Ronald menyudahi kegiatan memaksa Azzah dan memilih keluar ruangan. Ronald membanting pintu kamar dongkol.


Azzah ingin menjerit tapi tak bisa. Ia hanya sesenggukan menatap semburat penuh nyalang di wajah Ronald sebelum suaminya pergi. Azzah merintih memanggil nama Umi dan Abah nya.


"Abah ... umi," getir Azzah menahan tangis.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Azzah menolak Ronald, gejolak di hatinya terus saja bergemuruh. Kecurigaan, dan perang batin Azzah masih meragukan kejujuran Ronald. Azzah perlu menguatkan dugaannya.


__ADS_2