
Azzah bangun dengan keadaan yang remuk redam. Ronald begitu perkasa bermain kuda lumping dengan Azzah.
"Mas bangun, udah pagi gara - gara Kamu aku sampe bangun kesiangan." Azzah menggugah Ronald.
"Apa sih kamu ini berisik banget!" sentak Ronald.
Azzah kaget dengan jawaban Ronald yang membentaknya. Azzah masih mengingat Ronald yang begitu lembut ketika memasuki tubuhnya. Ronald yang menenangkan rasa takut Azzah untuk pertama kalinya. Lalu kenapa setelah mendapatkan harta paling berharganya Ronald membentak Azzah.
"Mas, kok kamu ngegas gitu, sih Azzah cuma bangunin Mas Ronald, dimana salahnya," ucap Azzah.
"Salahnya karena kamu mengganggu. Aku masih ngantuk, kalau mau bangun ya bangun sana sendiri," ujar Ronald.
Azzah menarik selimut Ronald.
"Baru satu malam kamu ucapin Mas, udah lupa kamu sama ucapan sendiri!" seru Azzah.
"Kamu kenapa marah - marah, hargain suami dong, kalau Kamu ngerti," ujar Ronald.
"Mas seharusnya disini Aku yang mendapatkan perhatian. Aku berkorban menyerahkan mahkota ku hanya untuk suamiku. Tapi seperti ucapan kamu semalam tidak tulus," ujar Azzah.
"Kenapa kamu bisa ngertiin Istri kamu yang lain, tapi kenapa bagiku itu tidak berlaku?" tanya Azzah sesak.
"Jangan mimpi kamu." Ronald bangun hendak melenggang pergi tanpa memperdulikan Azzah.
"Mas kamu nggak bisa pergi gitu aja dong. Aku belum selesai bicara, mau kamu itu apa sih?" tanya Azzah.
"Nggak ada mau ku, karena semalam aku menikmatinya," balas Ronald.
"Mas!" seru Azzah melempar bantal dan baju baju yang teronggok di lantai
"Kamu sendiri yang jual mahal, tadi malam kamu sendiri yang menyerahkannya, tanpa paksaan dariku?" sindir Ronald.
Ronald mengambil handuk untuk menutupi bagian vitalnya.
__ADS_1
"Tubuhmu Aku suka. Kita bisa mengulanginya kalau kamu mau." Ronald sambil menaik turunkan alisnya.
Ronald pergi dari hadapan Azzah yang merintih menahan nyeri di dadanya. Lelaki yang Ia anggap kunci surganya. Malah pergi setelah merenggut hal yang paling berharga di hidupnya.
"Mas Ronald!" teriak Azzah
Azzah terbangun dari mimpi yang mengerikan.
"Tidak, Mas Ronald tidak mungkin seperti itu," gumam Azzah
Azzah meraba samping tempat tidurnya, merasa tidak ada Ronald di sampingnya Azzah panik.
"Mas mas kamu dimana. Mas Ronald!" seru Azzah
"Mas," panggil Azzah.
.
.
Dari kamar mandi Ronald muncul dengan lilitan handuk di pinggangnya.
"Sayang kenapa teriak teriak, masa pagi, loh" sindir Ronald
Azzah memeluk Ronald.
"Mas kamu jangan pergi, kamu nggak akan ninggalin aku, kan Mas?" tanya Azzah
"Ninggalin kamu entar aku yang rugi, nggak bisa menyicipi barang manis lagi," goda Ronald.
"Shhh ... kamu ini!"
Ronald melepaskan pelukan Azzah. Dan memandang bingung Azzah yang menekuk wajah.
__ADS_1
"Kenapa cantik, masih kurang semalem, mau nambah?" tanya Ronald mengedipkan mata.
"Nggak masih sakit," balas Azzah.
"Tapi lihat kamu menggoda Mas, Azzah kenapa nggak pake baju dulu," ucap Ronald.
Azzah terkejut melihat keadaanya bugil sejak tadi memeluk Ronald.
"Ih kenapa diem aja dari tadi, kamu keenakan, yah Mas, gimana kalau ada yang masuk," kata
Azzah .
"Apa tuh yang masuk?" goda Ronald.
"Mas jangan mulai," ucap Azzah tersipu.
"Ya janganlah, kan Mas masih kunci kamarnya. Kamu tenang aja. Gimana mau lanjut ronde?" tanya Ronald.
Mendapat pukulan pundak dari Azzah.
"Kamu punya itu buatan Rudal luar negeri, jangan main tancep gas aja. Aku masih lemes, lapar, tubuhku lengket Mas," jelas Azzah.
"Hem." Ronald mengecup kening Azzah.
"Mandi, terus makan, abis itu lanjut," kata Ronald yang di balas tatapan tidak bersahabat Azzah.
"Haha, iya sayang mas sabar, kok tenang aja." Ronald kembali memeluk Azzah sembari menggulung selimut ke tubuh Azzah.
"Mas kamu sayang sama Azzah?" tanya Azzah.
"Banget," balas Ronald kedua bola mata mereka saling mengunci. Ronald mengambil inisiatif untuk mengecup bibir manis Azzah sekilas.
"Dah sana mandi, Baby," ucap Ronald.
__ADS_1